Menilik Potensi Wisata Kabupaten Brebes #1 : Pesona Desa Wisata Mangrove Pandansari


Hai Gaes,

Awal Desember lalu, aku bersama teman-teman travel blogger berkunjung ke Kabupaten Brebes. Kabarnya kami akan diajak mengeksplor sebuah destinasi wisata disana.

Serius lo? Brebes punya tempat wisata?

Brebes identik dengan bawang merah dan telur asinnya. Makanya, sebagian besar orang pasti menyangsikan kalo Brebes ternyata punya potensi wisata *termasuk aku. LOL. Tahu sendiri kan, Brebes merupakan daerah pesisir yang kondisi pantainya nggak menarik untuk dijadikan sebagai tempat wisata. Makanya, aku nggak pernah kepikiran untuk datang berwisata ke Brebes. Seringnya lewat doang.

Ternyataaaa...., aku salah besar sodara-sodara *tutup muka pake sarung.

Brebes kini sedang bergerak untuk membenahi potensi wisatanya. Bahkan kini, Kabupaten Brebes sedang aktif dalam revitalisasi wisata antara lain revitalisasi wisata gunung yang berpusat di Kaligua,  revitalisasi wisata pantai dengan trekking mangrove di Pandansari dan Sawojajar, dan revitalisasi wisata susur sungai dan body rafting di Ranto Canyon, Salem.

Akhirnya aku dan sepuluh orang blogger lain pun berangkat menuju Brebes menggunakan kereta api. Kami berangkat pukul 5 sore dan tiba di stasiun Tegal sekitar pukul 8 malam. Sambil menunggu jemputan, kami menyempatkan untuk jalan-jalan di sekitar stasiun Tegal dan mencari makan. Akhirnya semua sepakat untuk makan sate ayam kodian (baru nemu ini) yang ternyata dagingnya gede-gede banget. Makan lima tusuk aja kenyangnya minta ampun (sayangnya ga sempat motoin).

Setelah menunggu cukup lama, kami dijemput menggunakan dua mobil. Mobil yang kutumpangi, melaju kencang meninggalkan mobil yang satunya. Untung aja, kami nggak mabuk karenanya.

Mobil berhenti di sebuah bangunan mirip pendopo yang ternyata adalah sebuah sanggar. Setelah registrasi kami dipersilahkan memilih kalung dengan bandul capit kepiting dan kerang. Aku sendiri memilih kalung dengan bandul kerang, yang kebetulan tinggal satu doang. Biar nggak sama dengan yang lain. Hihi...

Setelah registrasi, kami diantar menuju homestay yang letaknya tak begitu jauh dari sanggar. Homestay di Desa Wisata Mangrove Pandansari ini adalah rumah-rumah penduduk yang memang disiapkan untuk tamu-tamu yang berkunjung. Meski sederhana tetapi tempat tidur yang disediakan cukup rapi dan bersih. Kami pun beristirahat dengan nyaman.

Pagi harinya aku terbangun karena aroma ikan goreng. Indera penciumanku emang tajam kalo mencium bau-bau makanan. Hihi.. Setelah mandi dan bersiap, aku menuju ruang tamu untuk sarapan. Telur dadar, ikan goreng yang disajikan bersama sambal kecap menanti untuk disantap.

Bahkan yang belum mandi pun ikut sarapan. LOL

Setelah sarapan, kami berkumpul di homestay sebelah dimana teman-teman lain menginap. Rupanya mereka juga tengah bersiap. Menurut jadwal sih, kami akan diajak menyusuri hutan Mangrove dan sekitarnya. Tak berapa lama mobil jemputan yang akan mengantar kami ke sanggar pun datang.

Sesampainya di sanggar, kami disambut oleh para penggiat wisata dari Brebes. Selain kami, rupanya kegiatan ini juga dihadiri oleh para pengurus pokdarwis dari berbagai wilayah di Jawa Tengah. Kami berkenalan dengan Pak Auky alias Bang Bas yang sangat komunikatif. Dari beliau akhirnya kami tahu bahwa Desa Wisata Mangrove Pandansari dan wisata Brebes lainnya ini ada berkat ide "GILA" alias Gerakan Insan Lestarikan Alam. Pak Auky dengan berapi-api menceritakan bagaimana akhirnya proyek ini berjalan. Aku dan teman-teman cuma bisa manggut-manggut aja mendengar penjelasan beliau.

Sebelum berangkat menuju hutan Mangrove, kami sempat mendengarkan paparan Pak Hadi mengenai site plan Desa Wisata Mangrove Pandansari. Ide ini bermula dari keprihatinan Pak Hadi pada  kondisi lingkungannya yang rusak akibat abrasi dan ulah oknum yang tidak bijak dalam memanfaatkan lingkungan. Makanya untuk mengembalikan kondisi alam yang telah rusak, Pak Hadi bekerja keras mengupayakannya dengan melakukan rekontruksi, vegetasi serta rehabilitasi di wilayahnya. Nah, sekarang buah kerja kerasnya mulai menampakkan hasil.

Tak menunggu lama, Pak Auky langsung mengajak kami mengeksplor hutan Mangrove. Tak butuh waktu lama untuk sampai ke pintu gerbang Desa Wisata Mangrove Pandansari. Di kiri kanan jalan setapak menuju lokasi, ada kios-kios yang berjajar dengan berbagai dagangannya. Kami pun sempat mampir untuk melihat-lihat. Oh iya, untuk masuk ke kawasan hutan mangrove ini kita musti membeli tiket sebesar 15 ribu untuk hari biasa dan 20 ribu untuk hari libur. Nggak mahal, kan. 

Pict by Mb Mechta Deera : Pintu masuk Desa Wisata Mangrove Pandansari
Di sebuah kios seni
Ada udang, kerang dan kepiting yang siap santap loh
Perahu-perahu yang siap mengantar ke Wisata Taman Mangrove Pandansari

Lalu sampailah kami di sebuah dermaga. Rupanya kita harus menggunakan perahu untuk menuju lokasi Hutan Mangrove Pandansari. Hanya butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai di sana. Sepanjang perjalanan menggunakan perahu, kita bisa menikmati pemandangan. Bahkan kalo sedang beruntung, kita bisa bertemu dengan koloni burung kuntul yang hinggap di dahan-dahan pohon mangrove.

Terlihat jalur trekking seperti jembatan sepanjang sekitar 700 meter yang nampak mulai ramai dengan lalu lalang pengunjung. Jalur ini merupakan bantuan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Brebes. Masyarakat lalu melakukan swadaya membangun lagi jalur sepanjang 1800 meter yang dibantu oleh Dinas Perikanan, CSR dan Kementerian Lingkungan Hidup.

Animo masyarakat terhadap wisata hutan Mangrove ini ternyata cukup besar.  Jika hari biasa pengunjung bisa mencapai rata-rata 500-700 orang, namun pada akhir pekan atau saat liburan, jumlah pengunjung akan melonjak hingga tiga kali lipat. Pastinya jalur trekking hutan Mangrove bakalan padat saat libur tiba.

Kalian  yang akan berwisata di hutan Mangrove Pandansari ini nggak usah takut kelaperan ya, karena di sepanjang jalur berjajar warung-warung penjual makanan. Ada sekitar 60 warung yang bisa dipilih. Mau makan ala resto, mau minuman segar ada semua. Yang penting, jangan lupa bawa dompet karena di sini nggak ada yang bisa ngasih kas bon. Hihi...

Wisata hutan Mangrove ini juga menyediakan spot-spot foto yang asik punya. Ada jembatan cinta yang ber cat pink, ada jalur trekking yang dicat warna-warni, dan beberapa spot lain yang ditempatkan di jalur trekking hutan Mangrove ini.

Lumayan instagramable yah

Selain spot-spot foto yang menarik, hutan Magrove ini memiliki gardu pandang setinggi 25 meter. Kita bisa menaikinya bergiliran untuk melihat pemandangan dari atas. Kalo sedang beruntung, kita bisa melihat puncak gunung Slamet loh dari gardu pandang ini. Sayangnya, cuaca waktu itu sedang berawan, jadi puncak gunung yang dimaksud nggak keliatan deh. Tapi, kekecewaan berganti dengan pemandangan laut di kejauhan dan hijaunya hutan Mangrove seluas 253 hektar ini.

Pemandangan dari gardu pandang

Berkeliling hutan Mangrove sepanjang 1,8 km tak membuat kami mati gaya dan bosan karena kecapekan. Bahkan sepanjang perjalanan, kami selalu dihibur dengan banyolan-banyolan Pak Auky. Nggak melulu guyon, sih. Pak Auky juga sangat informatif pada kami. Adaaa aja, topik yang beliau sampaikan. Bahkan kami juga dibuat tertarik pada tingkah ikan yang bergerak diantara akar-akar mangrove. Aku baru tahu kalo ikan itu ternyata memiliki nama berbeda. Kalo betina namanya ikan salamander, sedangkan yang jantan namanya glodog. Ikan-ikan ini kompetitif banget karena suka berkelahi untuk rebutan rumah (mungkin pas rebutan cewek juga kali, yah. LOL).

Pengelola wisata hutan Mangrove ini sudah sangat siap menjadikan lokasi ini sebagai destinasi wisata yang ideal. Buktinya fasilitas-fasilitas seperti toilet, mushola hingga warung-warung pengusir rasa lapar sudah tersedia. Sampah-sampah pun tak nampak berserakan karena ada tempat sampah di tiap-tiap sudutnya. Sudah laaaah, santai-santai aja kalian kalo sedang berwisata di sana.

Akhirnya petualangan kami menyusuri hutan Mangrove berakhir di warung es kelapa muda. Ya Allah, segarnya menikmati segelas es kelapa muda saat haus melanda. Untunglah, kami dengan mudah menemukan warung yang berjajar di sisi sungai buatan di tengah hutan Mangrove.

Setelah puas menikmati es kelapa muda, kamipun kembali ke dermaga untuk melanjutkan perjalanan berikutnya ke Pulau Cemara. Sebelum perahu yang akan membawa kami siap, beberapa teman melaksanakan sholat dhuhur di mushola yang terletak di dekat dermaga. Kami juga berkenalan dengan mas Fahmi yang mengelola Ranto Canyon, destinasi wisata di Kecamatan Salem yang terkenal dengan wisata body raftingnya. Kapan-kapan kami akan kesana, loh gaes.

Perjalanan menggunakan perahu menuju Pulau Cemara dan keseruan bermain di Pulau Cemara, akan aku tulis di bagian dua. Pastikan kalian baca cerita seru kami ya!



22 komentar:

  1. Aku teu aya popotoan di Jembatan Cinta sendiri, mb..

    Hiiks dulu lah ~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi..Ejie sih sibuk sendiri waktu itu :p

      Hapus
  2. Seru banget sih bund.. betewe di mangrove Purworejo ada Salamander dan glodog juga ngga ya? Pengen lihat aslinya.. taunya dari gambar doang soalnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya seru banget Neu...mungkin ada soalnya salamander itu hidupnya di lumpur to

      Hapus
  3. Ke sana lagi yuuuuk...blom puaaas..hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayook mbak, aku juga belum puas di pantai Cemara...dan pengen ke Ranto Canyon juga

      Hapus
  4. Jalan2 yang berkesan di brebes itu mesti diulangi lagi ya mba. Masih ada beberapa tempat wisata yang belum kita kunjungi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Wati...pengen banget bisa balik kesana lagi

      Hapus
  5. Mbaaaa ayok ke ranto canyon! Aku juga mauuuuu :D

    BalasHapus
  6. Keren ya, Mbak. Yang aku bayangin dari Brebes tuh ya telur asin sama bawang merahnya. Satu lagi , Pantura banget. Eh lah kok ternyata... Ada tempat wisata oke

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ho oh, aku juga baru tahu ternyata ada wisata sebagus ini di Brebes. Bikin nagih, pengen kesana lagi

      Hapus
  7. Gagal fokus sama cangkirnya mbak, kesannya jadul tapi unyu, pengen punya hehe..

    Wisata hutan mangrove sangat eksotis ya mbak, sulur-sulurnya itu loh bagus. Apalagi trekingnya menyenangkan penuh warna sehingga membuat nyaman dan betah berlama-lama :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi...aku juga pengen punya loh mbak Anjar.

      Pertama kali aku wisata ke hutan mangrove dan mendapati tempat sebagus itu, rasanya betah banget disana mbak

      Hapus
  8. Asyik bgt pemandangan dr gardu pandangnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak...bisa liat pemandangan laut sejauh mata memandang pokoknya

      Hapus
  9. Wah aku baru tau ada Mangrove di brebes, ya ampun jadi kangen kampung halaman Purwokerto, nanti kalo ke lg mudik main ahh ke brebes hehehhe.

    ursulametarosarini.blogspot.co.id

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo, kapan-kapan mampir ke Brebes mbak...pasti bakalan terkesan

      Hapus
  10. Keren lho mbak Hutan Mangrove di Brebes ini.pasti seru ya, wisata sambil belajar mengenai lingkungan tanaman bakau. Saya nih yang dari dulu pengen main ke hutan mangrove gini belum kesampaian juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Ivone, seru banget. Anak-anak juga pasti seneng kalo diajak wisata mangrove kayak gini...

      Hapus
  11. Iyess, aku ingetnya telor asin kalo ngomongin Brebes.. :D Ternyata wisatanya kece juga ya mba dan udah ada fasilitasnya pendukungnya juga.. Cocok banget mba itu pakai outfit pink, tempatnya juga warna-warni.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kece banget mbaak, aku juga sempat meragukan kalo Brebes punya sesuatu yang beda...ternyata setelah kesana, bisa dilihat sendiri deh. Spotnya juga instagramable

      Hapus