Jateng On The Spot : Menyambangi Destinasi Wisata Alam di Era New Normal (1)

pict.by. tim humas disporapar

Ada yang pernah bilang, sekali kau pergi ke Dieng maka dipastikan kau akan selalu kembali. Benar saja. Ini untuk ketiga kalinya aku menyambangi Dieng. Dua tahun lalu, aku bahkan dua kali ke Dieng. Tahun ini aku kembali lagi, bersama tim yang berbeda. Dieng seolah punya daya magis yang mampu membuat seseorang selalu ingin kembali kesana. 


Setelah hampir 7 bulan berdiam di rumah, jalan-jalan kali ini aku jadikan sebagai pelepas rinduku akan traveling. Bagaimana tidak, tahun lalu hampir setiap minggu aku pergi keluar kota bahkan keluar pulau, meskipun dalam rangka menjalankan tugasku sebagai KOL sebuah perusahaan farmasi, tapi di sela waktuku aku selalu menyempatkan diri untuk mampir ke beberapa destinasi wisata yang berada di kota/ pulau yang kusinggahi. 


Tahun ini, rencana perjalananku ke 31 kota harus dicancel karena pandemi. Tapi tak apa, demi kebaikan bersama. Aku hanya berharap pandemi ini segera berakhir, agar semua sektor bisa kembali berjalan normal seperti sedia kala. 


Senin (19/10/2020) lalu, aku bersama teman-teman blogger, kontributor visit.jateng, media bersama Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melakukan perjalanan wisata ke Dieng dan Posong dalam rangka kegiatan Jateng On The Spot.

 

Kegiatan Jateng On The Spot ini memiliki tujuan agar kunjungan wisatawan di Jawa Tengah kembali meningkat, melalui promosi para blogger, media serta pegiat sosial media yang mengikuti kegiatan Jateng On The Spot ini. 


Dipilihnya Dieng dan Posong dalam kegiatan ini bukan tanpa alasan. Destinasi wisata di kedua tempat ini sudah direkomendasikan oleh tim gugus covid sebagai destinasi wisata yang aman karena sudah menerapkan protokol kesehatan. Selain itu, di kedua lokasi ini banyak tempat wisata alam terbuka yang indah, serta mudah diakses oleh transportasi umum



Sebelum menuju Dieng, kami berhenti terlebih dulu di Dewani View Resto untuk makan siang dan berbincang dengan Sekretaris Komisi B DPRD Jateng yaitu bapak M. Ngainirrichadl, S.HI. Kami berdiskusi seputar pariwisata dan segala permasalahannya. 



Diskusi makin hangat dengan adanya tanya jawab antara teman-teman pegiat wisata dengan pak Richard, diantaranya mengenai akses jalan menuju lokasi wisata, transportasi serta bagaimana agar kunjungan wisatawan bisa kembali meningkat di era new normal ini. 


Pandemi ini memang memukul telak semua lini. Banyak destinasi wisata yang terpaksa harus ditutup. Tak sedikit pula pelaku wisata yang akhirnya banting setir mencari pekerjaan lain. Ada yang menjadi buruh tani, pekerja bangunan, tukang ojek dan pekerjaan lainnya demi kelangsungan hidup sehari-hari. Sedangkan dari sisi masyarakat, mereka membutuhkan hiburan dan tempat untuk sekedar melepaskan penat dan stress karena pandemi ini. 


Hingga saat ini sudah ada sekitar 424 lokasi wisata yang telah dibuka, atas rekomendasi tim gugus covid 19. Rata-rata adalah destinasi wisata di alam terbuka. Beberapa diantaranya merupakan destinasi wisata yang akan kami kunjungi selama 3 hari ke depan ini. Destinasi wisata yang telah dibuka ini sudah menerapkan protokol kesehatan. Untuk memasuki lokasi, wisatawan harus mematuhi protokol kesehatan, diantaranya harus memakai masker, cek suhu tubuh dan mencuci tangan. 


Selesai makan siang, kami harus segera melanjutkan perjalanan menuju Dieng. Cuaca yang mendung diiringi rintik hujan semakin menambah syahdu suasana. Meski begitu, kami semua tetap bersemangat. Apalagi perjalanan kali ini kami disuguhi pemandangan yang indah. 


Untuk menghilangkan kantuk dan rasa bosan di perjalanan, sesekali kami saling menimpali candaan dan menyanyi. Aku juga sempat nyanyi beberapa lagu yang kebetulan aku bisa. Untung teman-teman seperjalananku nggak mual-mual dengerin suaraku. Hihi..


Mendung semakin gelap ketika mobil yang kami tumpangi melaju di jalanan berkelok, menandakan bahwa Dieng semakin dekat. Suasana yang dingin dan syahdu menyambut kedatangan kami di Dieng. Inilah yang membuat jadwal kegiatan ditukar. Harusnya kami berkunjung ke Candi Arjuno dan Kawah Sikidang, tetapi karena suaca yang tidak mendukung terpaksa jadwal harus ditukar. Tak mengapa, karena sesampainya di Rumah Budaya Dieng, kami sudah disambut kegiatan yang tak kalah seru. 


dokpri. ya ampun maskerku melorot. nasib punya hidung minimalis. LOL

Sesampainya di Rumah Budaya Dieng, kami disambut oleh mas Alif Fauzi yang juga Ketua Pokdarwis Dieng Kulon. Satu per satu kami diberi syal rajut khas Dieng sebagai ucapan selamat datang. Setelah beristirahat sejenak, kami semua diajak menuju UKM Trisakti yang memproduksi carica, yang lokasinya tak jauh dari Rumah Budaya. 


UKM Trisakti ini merupakan pelopor manisan carica di Dieng. Kami diberi kesempatan untuk melihat langsung pembuatan manisan carica. 


dokpri. belajar membuat manisan carica

Carica ini merupakan buah endemik yang hanya bisa tumbuh di dataran tinggi Dieng. Buahnya mirip pepaya, hanya lebih kecil dan beraroma harum seperti markisa. Aku pun berkesempatan mencoba mengupas dan memotong carica. Untuk mengupas carica, kita harus menggunakan sarung tangan supaya tidak terkena getah carica yang bisa bikin tangan gatal-gatal. 


Karena aku suka banget sama carica, tak lupa aku beli beberapa bungkus untuk oleh-oleh. Carica ini enak banget dinikmati dingin-dingin. Rasanya, mak nyes gitu. Hihi..


Menjelang petang, kami kembali ke Rumah Budaya untuk check in. Ternyata, Rumah Budaya ini memiliki beberapa kamar loh. Ada beberapa jenis kamar yang bisa dipilih. Di bagian depan, ada kamar dengan tarif sewa per kamar 350k/450k/550k per malam. Sedangkan di belakang Rumah Budaya ada Omah Ndieng yang bertarif 1,750k dengan fasilitas 4 kamar dengan kamar mandi di masing-masing kamar. Cocok banget untuk keluarga besar yang sedang piknik di Dieng. 


dokpri. Rumah Budaya Dieng, tampak depan

dokpri. Omah Ndieng, tampak luar


Setelah dari UKM Trisakti, kami kembali ke Rumah Budaya Dieng untuk belajar membatik di atas media kayu. Semua peserta diberi  satu media untuk dilukis menggunakan alat batik hasil inovasi sang pengrajin. 


dokpri. serius bikin batik. ternyata susah yaa

Malamnya, setelah check in di homestay yang juga berlokasi sama dan bersih-bersih badan, kami disuguhi makan malam dan pertunjukan tari serta performance dari Kailasa Band. Kailasa Band yang merupakan band lokal Dieng yang selalu tampil di Dieng Culuture Festival. Biarpun band lokal tetapi kualitas performance nya nggak kalah dengan band nasional, loh. 


pict by. Herman Fe. Kailasa Band


Kesenian tari lengger ini muncul pada awal peradaban penyebaran Islam oleh Sunan Kalijaga di Dieng. Tarian Lengger disukai oleh masyarakat Dieng. Tarian ini merupakan cerita dari Dewi Sekartaji yang mencari pasangannya, yaitu Panji Asmara Bangun. Pasangan kekasih ini tidak direstui oleh keluarganya. Dewi Sekartaji menjadi penari untuk mencari pasangannya. Tarian ini diperankan oleh seorang wanita, dengan lima penari pria dengan lima karakter topeng yang berbeda yang menggambarkan karakter manusia. 


Saking asiknya menonton pertunjukan Kailasa Band dan tari Lengger, tak terasa malam telah larut. Kami harus segera beristirahat, karena esok hari masih banyak kegiatan yang menanti. Angin dingin yang menusuk, membuatku ingin segera meringkuk di balik selimut. Aku yang tidak terbiasa tidur berselimut, mau tidak mau harus selimutan kalo nggak mau mati kedinginan (halah lebay. LOL). 


Terbangun karena sinar matahari yang masuk melalui celah jendela membuatku bergegas. Mengabadikan matahari yang bersinar dibalik bukit. Sayang, aku terlambat. Matahari sudah meninggi.

 

dokpri. mengintip matahari dibalik pintu

Aku lekas-lekas mandi, supaya tidak terlambat ketika harus berkumpul. Meski udara cukup dingin, tapi aku memberanikan diri mandi dengan air dingin. Aku memang tidak begitu suka mandi air hangat. Untung darahku tidak membeku waktu itu (halah, lebay lagi. LOL). Hihi..


Selepas sarapan pagi, kami diberitahu bahwa kegiatan pertama pagi itu adalah trip ke Telaga Dringo menggunakan jeep. Sepanjang jalan, kami disuguhi pemandangan yang menyegarkan mata. Kami juga bisa melihat aktivitas petani yang sedang memanen sayuran dan mengurus tanamannya. 


pict. by disporaparjateng

dokpri. pemandangan sepanjang jalan Dieng

Sepanjang perjalanan menuju Telaga Dringo, aku membayangkan seandainya punya rumah dan kebun di Dieng, betapa asiknya. Lamunanku buyar ketika jeep yang aku tumpangi, mogok di jalanan menanjak. Apakah gara-gara aku tumpangi jeep nya jadi mogok? Duuh, ngeri kalo sampai mundur. Aku dan teman-teman yang menumpang sampai terpekik. Takut. Setelah kubacakan mantra-mantra (LOL), akhirnya jeep bisa jalan lagi. 


Lega banget ketika jeep bisa melaju lagi dan tiba di lokasi dengan selamat. 


dokpri. Telaga Dringo

Telaga Dringo berlokasi di desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Berada di ketinggian 2.222 mdpl, lokasi wisata yang masih baru ini menyajikan pemandangan yang begitu indahk. Alamnya masih asri, udaranya bersih dan suasananya terasa damai. Dinamakan Telaga Dringo karena di sekitar telaga banyak terdapat tanaman dringo. 


Telaga Dringo ini terbentuk akibat letusan Gunung Sinila pada tahun 1786 lalu. Letusan itu menyebabkan terjadinya cekungan kawah mati. lama kelamaan cekungan itu terisi oleh air hujan dan mata air yang berada di sekitarnya. Banyak orang yang mengatakan bahwa Telaga Dringo mirip dengan Ranu Kumbolo, makanya Telaga Dringo juga sering disebut sebagai ranu kombolo nya Jawa Tengah. 


pict by. disporaparjateng

Setelah puas menikmati pemandangan di Telaga Dringo, kami bersiap menuju lokasi berikutnya yaitu Kawah Sikidang. Namun kali ini kami tidak melalui jalan biasa. Kami diajak menuju Kawah Sikidang melalui jalur VIP. Entah apa maksudnya jalur VIP. Apakah, jalurnya mulus seperti jalan tol? 


We'll see.



Oalaaah, ternyata jalur VIP yang dimaksud adalah jalur offroad ini. Kami diajak bertualang sejenak sambil olah vokal. Tunggu..tunggu, olah vokal? Iya lah, karena sepanjang jalan beberapa diantara kami teriak-teriak ketika jeep yang kami tumpangi melewati jalan berlumpur yang cukup dalam. Badan kami terhempas ke kanan kiri. Aku sendiri harus menahan sakit ketika badan dan kepala terbentur body jeep. Ga pa-pa sih, karena kegiatan seperti ini bukan yang pertama kali aku ikuti. Dua tahun lalu aku pernah offroad dengan jalur yang lebih ekstrim dari ini. 



Meski untuk ketiga kalinya berkunjung ke Kawah Sikidang, tetapi rasanya nggak pernah bosan. Terlepas dari cerita dan legenda yang beredar di masyarakat, sebenarnya Kawah Sikidang ini terbentuk karena di dalam perut bumi masih ada dapur magma yang menjadikan letupan kawah kecil. Kawah ini ternyata bisa berpindah-pindah,  makanya orang memberinya nama Kawah Sikidang. 


Oh iya, kalau kalian butuh info dimana bisa menyewa jeep yang seperti kami pakai, kalian bisa menemui para sriver jeep ini di sekitaran Kawah Sikidang, ya. Sehari-hari mereka semua parkir di halaman lokasi wisata ini. 



Berapa tarif sewa jeep yang harus kalian keluarkan? 


Untuk wisata ke beberapa lokasi seperti ke Kawah Candradimuka, Telaga Dringo, dQiano, Candi Arjuna, Telaga Warna, Batu Ratapan Angin, Kawah Sikidang, kalian harus menyiapkan dana sekitar 750k per Jeep


Jika kalian pengen ke lokasi wisata zona 1, diantaranya  Musium Kailasa, Candi Arjuna, Telaga Warna, Batu Ratapan Angin, Kawah Sikidang, siapkan saja dana 500k per jeep


Sedangkan untuk trip ke zona 2, yaitu ke Telaga Menjer, Curug Sakarim, Kawah Sikidang, Candi Arjuna, kalian hanya perlu mengeluarkan dana 250k per jeep. 


Cukup terjangkau, kan?


Setelah dirasa cukup, kami kembali berpindah tempat. Kami akan menuju Candi Arjuna yang lokasinya tak jauh dari Kawah Sikidang. Hanya sekitar 10 menit kami sudah tiba di sana. 


Sampai di Candi Arjuna, kami harus menjalankan beberapa langkah protokol kesehatan diantaranya mencuci tangan serta cek suhu tubuh. Alhamdulillah, semua lolos. Kami semua juga mengenakan masker. 



Untuk memasuki komplek Candi Arjuno ini, pengunjung dikenakan tiket seharga 15k yang juga merupakan tiket terusan ke Kawah Sikidang. 



Candi Arjuno ini dahulu ditemukan di dalam tanah oleh bangsa Belanda. Candi Hindu tertua di Jawa ini merupakan peninggalan Dinasti Sanjaya pada tahun 809 M. Pada saat agama Islam mulai masuk ke Dieng, para penganut Hindu di Jawa meninggalkan Dieng dan berpindah ke arah timur, yaitu ke Gedong Songo dan Bromo. Di sanalah mereka berkembang hingga sekarang. 


Selain bisa belajar sejarah tentang Candi, di sini kita juga bisa puas-puas menikmati pemandangan indah di sekitar Candi. Ada juga spot-spot yang instagramable buat foto-foto. 



Aku berharap, setelah ini Candi Arjuno dan tempat wisata lain di Dieng kembali dikunjungi wisatawan. InsyaAllah aman kok, asalkan pengunjung juga mematuhi protokol kesehatan. Jika semua patuh, aku yakin semuanya bisa kembali normal. Wisata kembali hidup, semua sektor juga kembali seperti sedia kala. Duuuh, rasanya sedih banget ketika menyaksikan sendiri, betapa sepinya tempat wisata ini. Pengunjung hanya bisa dihitung dengan jari. 



Rasanya enggan cepat-cepat beranjak dari tempat ini. Masih ingin menikmati indahnya candi sembari menghirup udara pegunungan yang segar ini. 


Sayangnya, kami semua harus segera beranjak dari tempat ini. Kami harus segera melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Temanggung. Setelah makan siang, kami memulai perjalanan menuju Posong. Suasana mendung masih menemani sepanjang perjalanan kami ke Posong. 


Kalian pasti penasaran kan, apa saja kegiatan kami selama di sana? Tunggu cerita lengkapnya di bagian 2 kegiatan Jateng On The Spot ya!

10 komentar:

  1. Penasaran baca mantra apa aja kemarin, hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk....langsung lupa mantra mana yg kurapal mbaa

      Hapus
  2. Saya juga pernah ke Dieng, tahun 2018 masya Allah pegunungan Dieng selalu punya pesona magis yg akan selalu dirindukan, dan kita selalu mau ke sana. Semoga tahun depan bisa lagi berkunjung ke sana. Doakan yah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener banget, rasanya pengen selalu kembali kesana. Semoga bisa berkunjung ke Dieng lagi yaa

      Hapus
  3. MasyaAllah senangnya ya bun, sejuk banget pemandangannya penginapannya njawani banget
    Gemes pengen dolan ke situ, setelah sekian lama di rumah terus ya Bun.

    BalasHapus
  4. Seru banget ya piknik ke Dieng, bisa mampir ke pabrik Carica lagi, asli penasaran aku dengan pabriknya..semoga situasi cepat aman ya Mbaa

    BalasHapus
  5. Masyaallah 31 kota tapi ya apa boleh buat ya beneer, demi kebaikan semua harus ditunda atau dibatalkaaan semoga Allah kasih ganti yang terbaik yaaa mbaa, mau jugaaa menjelajaaah jateng, semoga selesai pandemi ini sektor pariwisata bisa bangkit kembalik yaaa

    BalasHapus
  6. Saya gak pernah ke Dieng dan cuman tau tradisi gunting rambut anak2 gimbal.
    Itu mereka pada gimbal karena apa ya? Penasaran deh...

    BalasHapus
  7. Ini nih bagian favoritku:

    "... ya ampun maskerku melorot. nasib punya hidung minimalis. LOL!"

    Hahaha...

    Suka banget aku sama gaya mba Ika bercerita.
    Berasa ngintil, ikut trip Jateng On The Spot!

    Btw,
    Jalur VIP-nya kurang lebih trip ke pantai Gigi Hiu Lampung ne!

    BalasHapus
  8. Senangnya..
    Jalan ke Dieng akan selalu kembali lagi.
    Ini seru banget..apalagi bareng sesama traveller.

    BalasHapus