Dieng, I'm Fall in Love

Dokpri. Komplek Candi Arjuna

Aku pernah mendengar seseorang berkata,"Sekali saja kau datang ke tanah Dieng, kau pasti akan kembali dan kembali lagi". Inilah yang terjadi padaku. Baru 3 minggu lalu aku pulang dari Dieng, sekarang aku kembali kesini lagi. Tuhan begitu cepat menjawab doaku saat itu. Aku ingin kembali ke Dieng.

Pada Dieng, aku jatuh cinta.

Bayangkan saat kamu bertemu dengan seseorang, saling bertemu pandang lalu mulai jatuh cinta. Jantungmu pasti berdegup lebih kencan dan hati berdesir tak karuan. Itulah yang kurasakan ketika pertama kali menginjakkan kaki di negeri di atas awan. Dieng.

Perjalanan Menuju Dieng

Aku merasa sangat beruntung ketika seorang teman menghubungiku untuk bergabung dengan bloger dan media dalam acara Familiarization Trip Banjarnegara 2018. Mana mungkin aku menolaknya. Mana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan untuk mengeksplor lebih banyak lagi destinasi wisata di Banjarnegara.

Perjalanan kali ini aku bersama mbak Wati, mbak Nia dan mas Wahid. Kami memang sering melakukan perjalanan wisata bersama. Kami berempat berangkat dari Semarang sekitar pukul 8  pagi menggunakan mobilnya mas Wahid. Rencananya kami berempat akan menyusul rombongan ke Dieng setelah mobil mas Wahid parkir di Disbudpar Banjarnegara.

Setelah menempuh hampir 4 jam perjalanan, akhirnya kami tiba di kantor Disbudpar untuk menitipkan mobil. Kami pun segera memesan Grabcar untuk menyusul rombongan yang telah tiba di lebih dulu di D'Qiano. Perjalanan dari kantor Disbudpar Banjarnegara menuju Dieng menempuh waktu sekitar 2 jam melalui Karangkobar. Tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau jalan yang harus dilalui ini berkelok-kelok dan naik turun. Untunglah pemandangan di kanan-kiri jalan cukup bagus, jadi perjalanan kami nggak begitu membosankan.

Akhirnya kami bisa menyusul rombongan yang masih berada di kawasan Candi Arjuna dan bergabung bersama rombongan Famtrip. Hampir-hampir kami ketinggalan rombongan lagi. Uugh..

Candi Arjuna

Dok. by Sofyan. Bukan Arca loh

Menurut cerita, Candi Arjuna dibangun pada abad 7 hingga 9 Masehi oleh Dinasti Sanjaya dari Kerajaan Mataram Kuno. Bahkan Candi Arjuna ini diyakini sebagai candi tertua di tanah Jawa, loh. Hal ini ditunjukkan dengan penemuan prasasti dengan aksara Jawa kuno sekitar tahun 731 Caka (809 Masehi). Prasasti itu merupakan prasasti tertua yang disimpan di Galeri Museum Nasional Jakarta.

Candi Arjuna ini merupakan salah satu dari beberapa candi yang terletak di atas ketinggian 2093 mdpl. Katanya sih, komplek Candi Arjuna ini merupakan komplek candi tertinggi di Indonesia saat ini.

Di tengah-tengah komplek candi ini, terdapat sebuah Candi yang berdiri dengan gagah. Tak hanya Candi Arjuna saja yang berdiri megah, tapi ada juga beberapa candi yang berjajar segaris dengan Candi Arjuna. Ada Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra.  

Untuk memasuki komplek Candi Arjuna ini kalian musti membeli tiket terusan seharga 15 ribu rupiah. Dengan tiket itu, kalian bisa masuk ke komplek candi sekaligus ke Kawah Sikidang.

Setahun sekali, di komplek ini diadakan acara Dieng Culture Festival (DCF). Festival ini diselenggarakan oleh Komunitas Pokdarwis Dieng. Dieng Culture Festival dikenal sebagai festival kebudayaan tahunan di tanah dengan sebutan negeri atas awan ini. DCF sendiri berisi cerita sisa peradaban masa lalu Dieng, diantaranya adalah ritual pemotongan rambut gimbal.

Hmm, aku jadi ingat gimana rasanya gagal datang ke acara DCF beberapa waktu lalu. Sakitnya tuh, di sini!! Huhuhu....

Demi menyingkat waktu, rombongan Famtrip pun beranjak menuju Pendopo Soeharto Whitlam. Nah, Pendopo Soeharto Whitlam ini merupakan bangunan bersejarah yang lokasinya berada tak jauh dari kompleks Candi Arjuna Dieng. Bangunan ini menjadi saksi sejarah dimana saat itu menjadi tempat bertemunya dua pemimpin negara yaitu Presiden Soeharto dan Perdana Menteri Australia Mr.Gough Whitlam. Pendopo Soeharto Whitlam saat ini telah dipugar dan menjadi salah satu lokasi wisata yang sayang untuk dilewatkan saat berada di Dieng.
                                                                                                                                                                    Sayangnya, aku dan rombongan Famtrip harus segera berpindah ke lokasi lainnya. Kawah Sikidang.

Kawah Sikidang

Setelah bergabung dengan rombongan Famtrip, kami bersama-sama menuju ke Kawah Sikidang. Kami menaiki minibus dengan pintu dan jendela yang terbuka. Lumayan lah ada AC nya *angin cemilir cepoi-cepoi. LOL.  Hihi. Tapi seru, loh.

Ini kali kedua aku datang ke Kawah Sikidang dengan jarak waktu yang tak terlalu lama. Aroma khas belerang yang bikin mual mulai menyeruak dan menusuk hidungku. Mau nggak mau aku harus menutup hidung menggunakan masker. Padahal aku tuh nggak pernah betah kalo disuruh pake masker, makin pengap rasanya. Ehm, alasan sebenarnya bukan itu aja sih. Takutnya kalo difoto, mukaku nggak keliatan. Hihi.

Dokpri. Lady Rocker di Kawah Sikidang

Menurut cerita, Kawah Sikidang ini terbentuk dari letusan gunung berapi di kawasan dataran tinggi Dieng bertahun-tahun lalu. Sampai kini kawah ini masih aktif makanya kalian berkunjung  ke kawah Sikidang ini, kalian akan melihat aktivitas gunung berapi yang berupa letupan lumpur vulkanik yang disertai gas yang mengepul berbentuk asap putih pekat. Kabarnya kawah ini bisa berpindah-pindah, loh. Makanya disebut sebagai Kawah Sikidang, yang bisa berpindah-pindah dengan lincah. Kata mbak Wati yang pernah ke sini bertahun-tahun lalu, lokasi kawah yang sekarang ternyata berpindah cukup jauh dari lokasi kawah terdahulu. Pantes aja kalo disebut Sikidang.

Tanah di sekitar kawah terlihat memutih karena kandungan sulfurnya. Itulah kenapa saat berada di kawasan Kawah Sikidang terlihat tanah tandus berwarna keputihan dan pepohonan banyak yang  mati akibat aktivitas kawah. Di beberapa tempat juga terlihat lubang-lubang bekas kawah. Kalian musti hati-hati, karena tanah di sekitar kawah juga rapuh dan rawan longsor.

Di sekitar kawasan wisata Kawah Sikidang ini juga banyak pedagang-pedagang yang menjual belerang, makanan khas Dieng dan berbagai souvenir. Aku sempat nyobain Sagon yang berbahan tepung ketan dan kelapa parut. Rasanya manis legit kek aku *awas mules. Enak banget kalo dinikmati hangat-hangat.

Ayoo, kapan kalian ke kawah Sikidang? Kek kami-kami ini, lhoo.

Menjelang sore, kami harus segera berpindah lokasi ke Desa Wisata Dieng Kulon. Pemuda-pemuda dari desa wisata inilah yang menginisiasi even Dieng Culture Festival. Hebat, kan.

Desa Wisata Dieng Kulon

Desa wisata Dieng Kulon terletak tak jauh dari komplek Candi Arjuna. Kebanyakan penduduknya berprofesi sebagai petani dan pengusaha UKM oleh-oleh khas Dieng. Mas Alif, salah seorang pemuda asli Dieng Kulon yang juga Ketua Pokdarwis Pandawa menceritakan bagaimana proses terbentuknya desa wisata kala itu. Konsep wisata di Desa Wisata Dieng ini terdiri dari 3 hal penting yaitu something to see, something to do dan something to buy. 

Dokpri. Desa Wisata Dieng Kulon

Desa Wisata Dieng Kulon ini memiliki prinsip bahwa wisatawan yang datang ke Dieng ini harus merasakan pengalaman yang berbeda ketika berkunjung ke desa wisata ini. Karena itulah mereka menyediakan beberapa paket wisata yang bisa dipilih oleh wisatawan. Misalnya wisata petik buah Carica lalu mengolahnya menjadi manisan, membuat kerajinan dari kayu, belajar kesenian tradisional khas Dieng dan lainnya. Semuanya bisa disesuaikan dengan budget dan minat wisatawan.


Dokpri. Salah satu produk Desa Wisata Dieng Kulon
Kalo kalian tertarik untuk merasakan sendiri bagaimana berwisata di Dieng dengan pengalaman yang berbeda, coba deh datang ke Desa Wisata Dieng Kulon ini. Kalian bisa menginap di homestay-homestay milik warga dengan harga mulai dari 150rb per malam. Boleh juga tuh ajak rombongan ke Desa Wisata Dieng Kulon.

Misteri Sumur Jalatunda

Sebenarnya dari Desa Wisata Dieng Kulon, rombongan famtrip mau langsung ke D'Qiano untuk check in. Kami sempat berhenti sebentar di jalan menuju D'Qiano sebelum memutuskan untuk mampir sejenak ke Sumur Jalatunda. Aku sempat mikir, ngapain sih mampir ke sumur segala? Dalam bayanganku sumur Jalatunda tuh kayak sumur biasa gitu, yang biasa buat nyuci. Hihi. Maklum lah ya, aku kan belum pernah kesanaa.

Sesampainya di lokasi, ternyata hujan mulai turun rintik-rintik. Tak lama kemudian kabut juga mulai turun. Hmm...suasana mistis jadi makin nyata jadinya. Teman-teman lain sudah mulai menaiki tangga menuju sumur. Aku lebih memilih menunggu mbak Wati yang sedang sholat ashar di bus.

Setelah mbak Wati selesai sholat, kami berdua bergegas menuju sumur. Iseng kami mulai menghitung anak tangga yang kami lewati. Katanya jumlah anak tangga saat naik beda loh dengan jumlah anak tangga saat turun. Tapi entah kenapa, baru separo jalan aku lupa berapa anak tangga yang sudah aku lewati. Ya udah lah, aku lanjut naik tanpa kuhitung lagi berapa jumlah anak tangganya. Begitu sampai di atas, aku baru tahu seperti apa bentuk Sumur Jalatunda yang sebenarnya.




Sumur Jalatunda ini lebih mirip dengan kolam sih, menurutku. Menurut informasi yang kudapat, sumur ini memiliki luas sekitar 90 meter dan dalamnya sekitar 100 meter. Ada mitos yang santer beredar di masyarakat hingga saat ini. Katanya sih, barangsiapa mampu melempar batu ke Sumur Jalatunda hingga mengenai dinding di seberang, maka apa yang jadi keinginannya akan terwujud. 

Daripada penasaran, akhirnya aku pun ikut-ikutan nyobain. Dari tiga pecahan genting yang kulempar, tak satu pun yang berhasil mengenai dinding sumur di seberang. Jadi penasaran lagi, apa ada orang yang bisa melempar batu sampe mengenai dinding sumur di seberang sana?

Oh iya, kalo kalian mau mampir ke Sumur Jalatunda ini, cukup bayar retribusi sebesar 5 ribu rupiah aja, kok. Murah tenan, to?



Malam mulai menjelang, akhirnya perjalanan kami di hari pertama Famtrip harus berakhir di D'Qiano. Perjalanan ditempuh dalam waktu tak terlalu lama. Rasanya pengen cepat-cepat mandi karena badan sudah lengket oleh keringat dan debu. 

D'Qiano

Begitu turun dari bus, udara dingin mulai menusuk kulit. Ternyata lumayan dingin malam itu. Setelah pembagian kamar, kami semua masuk ke kamar masing-masing dan beristirahat. Aku dan ke-empat temanku memutuskan untuk tidur dalam satu kamar. Sepertinya malam akan panjang dengan rumpian kami. 

Dok.by Mbak Wati. Geng Rumpies

Setelah membersihkan badan (aku sih cuma cuci muka doang, hihi) kami semua makan malam. Ini nih yang ditunggu-tunggu, karena dari siang perut belum sempat diisi. Akhirnyaaaa....aku menemukan tempe kemul yang sejak siang aku inginkan. Iyaah, dari siang aku sudah ngebayangin nikmatnya makan tempe kemul dan teh panas. Sampai-sampai sepiring tempe kemul pun tandas olehku. Hihi. 

Setelah makan malam, beberapa teman langsung menceburkan diri ke kolam air panas. Katanya sih panasnya sekitar 50 derajat gitu. Lagi-lagi, karena hawa dingin yang cukup menusuk, aku menolak ajakan mereka untuk ikut berendam. Aku, mbak Wati dan mbak Ery hanya duduk-duduk saja di pinggir kolam sambil menikmati malam di D'Qiano. 

Malam semakin dingin, rasa kantuk semakin menggelayut. Aku dan teman-teman memutuskan untuk kembali ke kamar. Kami harus beristirahat karena harus bangun pagi untuk melihat sunrise di Bukit Sipandu. Hoaaahmm. 

Tunggu kelanjutan cerita Famtrip Banjarnegara hari ke 2 ya, gaess

5 komentar:

  1. eh...ada akuuu...hihi kapan main bareng lagi ya?? huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha...ada dooong. Semoga tahun depan ada lagi ya Giiit. Ajak aku lagi, yaa

      Hapus
  2. Eh...ada akuu...hihi kapan main bareng lagi ya? Hahaha

    Joss lah ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha...nek ndak ada kamu, aku nebeng sopo?

      Yuk, minggu ngarep dolan lagi

      Hapus
  3. Karena aku ga kuat panas, jd otomatis semua kota berhawa dingin di Indonesia pasti jd favoritku :) . Dieng no 1 yg paling aku suka :). Trakhur kesana 2013 dan aku ga bakal nolak ke dieng lg. Terlalu sukaaaa ama desanya.

    BalasHapus