Ada Pasar Tiban Duit Batok di Dewi Sambi

Letih yang mendera setelah hiking ke Gancik Hill Top, membuat perut kami mulai keroncongan. Aku, mbak Wati, mbak Tanti, Manjie dan Artsenta duduk sejenak di sebuah bangku untuk melepas lelah. Kami mulai mengeluarkan bekal minum masing-masing. Mbak Wati lalu mengeluarkan sebungkus crackers sayur yang akhirnya kandas ke perut kami berlima. 

Peserta FK Deswita sudah banyak yang turun. Sepertinya tinggal kami berlima saja yang masih duduk-duduk di Gancik. Di seberang kami, para pengojek standby dengan kendaraan masing-masing. Ternyata mereka punya semacam paguyuban, loh. Mereka ini tergabung dalam paguyuban Ga-jek alias Gancik Ojek. 

Dokpri. Ga-jek, Gancik Ojek

Aku, mbak Wati dan mbak Tanti yang semula berniat turun dengan berjalan kaki jadi berubah pikiran. Kami bertiga pengen nyobain sensasi turun dari Gancik menggunakan Ga-jek. Alasan lain sih, biar cepet nyampe ke tempat "pajero" parkir. Hihi. Akhirnya kami bertiga naik Ga-jek, sedangkan Manjie dan Artsenta jalan kaki *entah beneran jalan kaki, ato naik Ga-jek juga mereka. Hihi.

Rupanya kami rombongan terakhir yang masih tertinggal di Gancik. Tubuh kami kembali berayun diatas armada "pajero" yang membawa kami kembali ke sekretariat. Perut makin keroncongan ketika membayangkan hidangan sarapan yang disediakan panitia untuk kami. 

Tapi ternyata, dugaanku salah. Kami tidak diantar ke sekretariat melainkan diturunkan di pertigaan dekat sekretariat. Pertigaan itu terlihat ramai. Rupanya di sini ada Pasar Tiban duit batok. Di sinilah kami akan sarapan. Para peserta FK Deswita masing-masing menerima duit batok sebanyak 5 keping. Yups, duit batok. Alat transaksi di Pasar Tiban ini adalah duit batok. Tiap keping duit batok senilai 2 ribu rupiah. 

Dok. Mb Tanti. Duit batok

Aku segera berkeliling Pasar Tiban ini dengan harapan menemukan sesuatu yang bisa mengisi perutku. Hampir semua makanan yang dijual di Pasar Tiban ini adalah makanan tradisional seperti nasi jagung, gendar pecel, soto, bubur pati ganyong, jajan pasar dan jadah. Ada pula minuman khas Selo yaitu Cengklung dan dawet ketan yang disajikan hangat-hangat. 

Dok.Mb Tanti. Aku membeli nasi jagung seharga 1 batok

Pagi itu aku memilih untuk sarapan nasi jagung yang berpadu dengan urap, sambal dan ikan asin. Aku pilih nasi jagung karena kepincut sama urap dan ikan asinnya. Sepincuk nasi jagung dihargai 1 batok yang setara dengan 2 ribu rupiah. Aku juga membeli semangkuk dawet ketan hangat seharga 2 batok untuk menemani nasi jagung. 

Dok. Mb Tanti. Mencicipi Cengklung

Belum puas menikmati nasi jagung dan dawet ketan, aku membeli beberapa jajan pasar. Tiba-tiba seorang pedagang menawari aku untuk mencicipi dagangannya. Katanya dagangannya itu adalah minuman khas Selo. Namanya Cengklung. Cengklung merupakan perpaduan dari rempah-rempah seperti jahe, cengkeh, kapulaga, serai dan gula aren. Rasanya begitu hangat di kerongkongan. Cengklung ini harganya cuma 1 batok, loh. Murah, kan.

Dokpri. Suasana Pasar Tiban

Nggak cuma peserta FK Deswita saja yang meramaikan Pasar Tiban ini, penduduk sekitar pun ikut meramaikannya. Rata-rata pedagang di Pasar Tiban juga berprofesi sebagai pedagang juga. Ada yang sehari-hari berjualan di pasar dan di sekolah. Ada juga yang sehari-hari bekerja sebagai petani. Mereka adalah warga setempat yang berdagang di Pasar Tiban tiap akhir pekan.

Setelah puas mencicipi beberapa makanan, kami pun beranjak meninggalkan Pasar Tiban. Kami menuju homestay untuk beristirahat sejenak sebelum ke lokasi berikutnya.

Pengen tahu, aku dan teman-teman mau kemana? Tunggu artikel berikutnya, ya!

4 komentar:

  1. Klo ke sana lagi..aku mau nyicip jajanan lainnya aah..*numan hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ho oh, kapan2 kesana lagi ya mbak, nginep di homestay rame2

      Hapus
  2. Balasan
    1. Bukannya dirimu sing dodolan to kang...haha

      Hapus