Jalan-jalan ke Desa Wisata Samiran Boyolali

wisata-boyolali
Dokpri. Gunung Merapi

Tahun 2018 sudah memasuki bulan kedua. Mulai deh uring-uringan karena belum jalan kemanapun sejak libur tahun baru. Beruntunglah hari Jum'at tanggal 9 Februari lalu akhirnya aku bisa jalan-jalan lagi. Aku bersama 7 blogger lain yang tergabung dalam grup blogger Deswita diundang oleh Forum Komunikasi Desa Wisata (FK Deswita) Jawa Tengah di Boyolali. Kali ini FK Deswita Jawa Tengah mengadakan pertemuan ke 14 di Desa Wisata Samiran Boyolali atau yang disingkat jadi Dewi Sambi.

Perjalanan Menuju Desa Wisata Samiran

Jujur aja, aku belum pernah blusukan di kawasan Boyolali. Seringnya sih cuma lewat aja kalo sedang ada keperluan ke Solo. Sebelum berangkat, pihak FK Deswita sudah berpesan untuk membawa jaket tebal, sarung tangan (kalo perlu), kaos kaki bahkan kupluk. Kabarnya udara di sana sangat dingin. 

Sekitar pukul 2 siang, kami berangkat dari Semarang. Kondisi cuaca yang mendung membuat kami harus sesegera mungkin tiba disana sebelum maghrib. Katanya kalo menjelang malam, kabut mulai turun. Sempat berhenti beberapa kali untuk menjemput teman lain, makan dan membeli perbekalan akhirnya kami tiba di Sekretariat Desa Wisata Samiran sekitar pukul 6 sore. Kami sempat nyasar gara-gara salah belok. Untung nyasarnya nggak jauh-jauh amat, cuma muterin kampung aja.

Setelah registrasi, kami diantar menuju homestay tempat kami bermalam. Panitia memang telah menyediakan beberapa homestay untuk para peserta FK Deswita. Setidaknya ada sekitar 20 homestay dengan 2-3 kamar yang bisa dipakai untuk 2 sampai 4 orang. Tarifnya pun masih tergolong murah loh, cuma 35 ribu per orang tanpa sarapan atau 45 ribu per orang dengan sarapan. Enaknya lagi, kalo kita pengen bikin kopi atau teh juga bisa. Pemilik homestay rata-rata menyediakan termos air panas, kopi, teh, gula dan snack.

Dok.Gus Wahid. Muka kusut karena belum mandi. LOL
Selepas sholat maghrib, kami beranjak menuju Joglo Pengilon untuk mengikuti sarasehan FK Deswita bersama para pegiat desa wisata dari seluruh Jawa Tengah. Kurang lebih ada 200 orang perwakilan dari 21 Kabupaten/ Kota se-Jawa Tengah hadir di acara FK Deswita ke 15 ini.

Sebelum acara sarasehan dimulai, para peserta makan malam bersama. Berbagai makanan tradisional khas Selo seperti sambal tumpang, urap dan bobor centrung pun terhidang. Aku terkesan banget dengan sayur bobor centrung. Rasanya sih kayak sayur bobor biasa, hanya saja isiannya ada daun adas dan daun waluh (sayang banget nggak difoto). Kapan-kapan, aku mau nyobain masak sayur bobor centrung ala Selo ah.

Dokpri. Malam sarasehan FK Deswita 15

Nggak cuma para pegiat wisata aja yang hadir pada malam hari itu, tapi pejabat-pejabat terkait juga turut hadir seperti Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Boyolali, perwakilan dari Dinas Pariwisata Jawa Tengah, Diskominfo Jawa Tengah hingga Bagian Perekonomian Setda Jawa Tengah.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Boyolali mengawali sambutannya dengan memutar film pendek tentang potensi wisata Boyolali. Untuk memaksimalkan potensi wisata butuh kerjasama antara pemerintah melalui Dinas Pariwisata bersama masyarakat. Kegiatan pariwisata bukan hanya tanggungjawab pemerintah saja tapi juga warga masyarakat maupun pegiat wisata. Salah satu upaya untuk menggiatkan kegiatan pariwisata sekaligus promosi wisata adalah digelarnya forum komunikasi desa wisata tiap tiga bulan secara bergiliran.

Diskusi tentang pengembangan pariwisata berlanjut hingga larut. Aku dan teman-teman mulai merasa kedinginan. Ditambah lagi rasa kantuk yang mulai tak tertahan. Akhirnya kami memutuskan kembali ke homestay untuk beristirahat. Besok kami musti bangun pagi-pagi untuk ikut memerah susu sapi.

Pengalaman Tak Terlupakan di Gancik Hill Top

Aku masih enggan beranjak dari kasur ketika mbak Wati, mbak Tanti dan mbak Nia mulai bersiap. Sebelum subuh mereka sudah bangun, sedangkan aku masih saja meringkuk dibalik selimut. Kalo nggak ingat kami bakalan memerah susu sapi, mungkin aku nggak bakalan bangun sepagi ini. Apalagi hawa dingin masih menusuk kulit. Akibatnya, aku melewatkan acara hunting foto sunrise di halaman homestay.

Setelah berjuang melawan hawa dingin, sekitar pukul 5.30 kami berkumpul di Joglo Pengilon. Beberapa peserta sudah mulai berkumpul. Rupanya acara memerah susu sapi batal, entah karena apa. Seluruh peserta akhirnya diajak untuk trekking tipis-tipis ke Gancik Hill Top.

Beberapa armada pajero (mobil bak terbuka) siap membawa kami menuju Gancik Hill. Perjalanan menuju Gancik Hill ini sensasinya luar biasa. Tubuh kami yang berdesakan di atas bak mobil bagai dihempas kesana kemari karena jalur menuju Gancik Hill memang curam. Kami harus mengakui bahwa warga Selo ini cukup terampil mengendalikan kendaraannya di medan yang cukup menantang.

Tak berapa lama kemudian mobil yang mengangkut kami berhenti di halaman sebuah rumah. Kami semua harus melanjutkan perjalanan menuju Gancik dengan berjalan kaki atau naik ojek. Rupanya masyarakat sekitar Gancik Hill pandai membaca peluang. Mereka yang sehari-hari menjadi petani sayur, memiliki pekerjaan sampingan menjadi tukang ojek. Tarifnya cukup murah. Hanya 10 ribu rupiah sekali jalan. Dari bawah ke atas atau sebaliknya.

Aku bersama mbak Wati dan mbak Tanti memutuskan untuk menantang diri sendiri dengan berjalan kaki menuju puncak Gancik Hill, sedangkan sebagian peserta lain lebih memilih menggunakan ojek untuk naik.

Dok. Mb Tanti. Hiking apa shopping? LOL

Selama perjalanan kami lebih banyak berhenti. Bukan karena kelelahan aja, tapi karena naluri kenarsisan kami yang sebentar-sebentar foto, sebentar-sebentar bergaya. Selain foto-foto, kami juga haus berbagi jalan dengan pengojek yang lalu lalang membawa penumpang dan petani yang membawa rumput. Maklum, jalan yang harus kami lalui ini hanya cukup untuk satu sepeda motor saja. Jadi, kalo nggak mau kesenggol kendaraan mereka ya minggir dulu.

Akhirnya setelah berlelah-lelah, kami tiba juga di puncak Gancik Hill. Ternyata perjalanan menuju puncak Gancik Hill cukup menguras tenaga. Meski dingin tapi peluh kami benar-benar bercucuran, loh.

Dokpri. Di atas gardu pandang Gancik Hill Top

Ada semacam gardu pandang yang cukup spotable untuk mengambil gambar. Nggak afdol rasanya kalo nggak foto-foto di atas menara. Apalagi dari atas menara kita bisa melihat gunung Merapi, Merbabu dan Lawu meski sedikit tertutup kabut.

Dok. Manjie. Perempuan-perempuan tangguh (menurutku. LOL)

Dari gardu pandang, kita bisa puas menyaksikan pemandangan alam lukisan Yang Maha Kuasa. Nggak bosan rasanya memandangi hamparan pemandangan hijau yang memanjakan mataku. Ya Allah, rasanya kayak pengen berlama-lama disana. Kalo saja nggak ada acara lain, aku belum mau turun rasanya.

Saking antusiasnya foto-foto di gardu pandang, kami nggak sadar kalo banyak peserta lain yang sudah turun. Hanya beberapa peserta saja yang terlihat masih lalu lalang, termasuk kami. Berhubung matahari mulai tinggi, perut kami juga keroncongan, akhirnya kami memanfaatkan Gajek (Gancik Ojek) untuk turun. Sebenarnya aku, mbak Wati dan mbak Tanti sih masih kuat turun dengan jalan kaki, tapi kami takut tertinggal rombongan. Butuh waktu sekitar 5 menit untuk turun menggunakan Gajek. Benar saja, di bawah hanya tinggal satu armada yang menunggu kami. Peserta lain sudah turun ke Pasar Tiban untuk sarapan.

Pasar Tiban? 

Yups, Pasar Tiban ini hanya ada di hari-hari tertentu aja di Desa Wisata Samiran. Tapiii....aku nggak akan cerita tentang Pasar Tiban di artikel ini. Tunggu artikel berikutnya, yah!

Kalian boleh baca tulisan dari para Blogger Deswita lainnya, loh.

Berkunjung ke DEWI SAMBI (1) : Gancik Hills Top
Menelusur Indah Merbabu-Merapi di Dewi Sambi

7 komentar:

  1. Treking ke Gancik ini, memang sungguh berkesan ya mba Ika..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mb Tanti, pengennya bisa lebih lama lagi di sana ya. Jalan2 diantara kebun sayur itu

      Hapus
  2. Duh nganan mba... Pingin aku kangen hawa dingin dah lama ga ketempat dingin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba o kesana mb Unt, homestay nya murah meriah loh... trus lokasinya juga nggak jauh2 banget lah dari Semarang

      Hapus
  3. Asik jalan-jalan kesana ya, bikin ketagihan karna udaranya sejukkk

    BalasHapus
  4. Gan-jek (gancik ojek) unik ya..
    Yang unik unik kaya gini yang bikin cerita menjadi menarik :)

    BalasHapus