Hai Gaes,

Sudah jalan dan jajan kemana hari ini?

Aku sedang kangen berat pada kampung halamanku, nih. Yah, meskipun baru sebulan yang lalu pulang kampung, tapi rasa rindu terus saja membuncah. Namanya juga tanah kelahiran, ya. Sampai kapanpun akan selalu dirindukan.

Alun-alun Purworejo
Nah, ngomong-ngomong soal kampung halaman, aku punya sesuatu yang menarik untuk ditulis. Oh iya, sudah tahu kan dimana kampung halamanku? Yups. Purworejo. Meski hanya sebuah kota kecil, Kabupaten Purworejo memiliki banyak potensi yang layak diperhitungkan. Siapa sangka di kota yang berjuluk kota pensiun itu banyak tokoh-tokoh Nasional yang lahir di sana. Sebut saja WR. Supratman, Jenderal Ahmad Yani, Sarwo Edhie Wibowo dan banyak lagi. Tak hanya itu, Purworejo juga memiliki potensi lain di bidang pertanian hingga peternakan yang tak bisa dipandang sebelah mata. Potensi lainnya adalah kuliner khas nya yang masih bertahan hingga kini. 

Sebenarnya Purworejo memiliki banyak makanan khas yang enak. Tapi kali ini aku pilihkan 10 makanan yang wajib kalian coba bila berkunjung ke Kabupaten Purworejo.

Apa saja? Cekidot, gaes!

Clorot 


Clorot ini sejenis jajanan yang terbuat dari campuran tepung beras, santan dan gula jawa. Makanan ini dibungkus menggunakan janur yang dibentuk melilit berbentuk mirip terompet dan panjang. Cara memakannya unik yaitu dengan mendorong bagian bawah clorot hingga clorot muncul di ujung atas. Jadi kalian nggak perlu membuka lilitannya. Oh iya, Clorot ini berasal dari Kecamatan Grabag, sebuah kecamatan yang terletak di sebelah barat daya kota Purworejo. Kalian musti nyobain, gaes.

Gebleg Bumbu


Salah satu makanan yang paling aku cari kalo sedang pulang kampung adalah gebleg. Gebleg adalah penganan yang terbuat dari tepung singkong (pati singkong) yang dibumbui bawang putih kemudian dibentuk seperti gelang rantai. Rasanya mirip dengan aci goreng dari Bandung. Penganan yang memiliki citarasa gurih ini biasanya dijual di pedagang gorengan. Kalian bisa langsung menyantapnya setelah digoreng. kalo aku sih lebih suka gebleg dengan tambahan bumbu kacang (bumbu pecel) sebagai pelengkapnya.

Lanting


Salah satu makanan ringan yang hampir selalu ada di meja warga Purworejo adalah lanting. Cemilan gurih dan renyah yang terbuat dari pati singkong ini juga menjadi salah satu oleh-oleh khas Kabupaten Purworejo. Kalau dulu lanting hanya memiliki satu rasa, seiring perkembangan jaman kini lanting memiliki banyak varian rasa. Ada rasa pedas manis, jagung bakar dan balado. Kalau favoritku sih, tetap rasa bawang. Karena awet dan bisa disimpan dalam waktu lama, lanting ini sering dijadikan buah tangan warga Purworejo yang akan kembali ke perantauan. Aku termasuk sering membawa lanting sebagai oleh-oleh. Semacam pengobat rindu pada kampung halaman.

Cenil



Saat kecil, setiap hari Minggu Ibu selalu mengajakku pergi ke pasar tradisional. Yang paling aku suka ketika ikut ke pasar adalah Ibu tak pernah lupa membelikan cenil untukku dan adik-adik. Tahu nggak, pedagang cenil langganan Ibu bahkan masih berjualan hingga sekarang, loh. Cenil ini dibuat dari pati singkong yang dibentuk, diberi warna, direbus kemudian diberi parutan kelapa dan saus gula jawa (kinca). Cenil juga makanan favoritku.

Jenang Krasikan



Jenang krasikan juga menjadi salah satu makanan khas Purworejo yang bisa dipilih untuk dijadikan oleh-oleh. Jenang ini terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan santan dan gula merah. Jenang krasikan ini berbeda dengan jenang lain yang cenderung lembut. Tekstur jenang krasikan khas Purworejo ini sedikit kasar. Tekstur dari beras ketan yang disangrai dan ditumbuk kasar inilah yang membuat citarasa jenang krasikan menjadi berbeda dengan yang lainnya. Kalian akan menemukan jenang krasikan ini di pusat oleh-oleh. Biasanya jenang ini dibungkus dengan plastik berukuran sedang. Rasanya legit banget, gaes.

Kue Lompong


Biarpun warnanya hitam, tapi kue yang satu ini rasanya legit banget lho, gaes. Kue lompong adalah sejenis kue basah yang berbahan dasar lompong atau batang daun talas yang dilumatkan. Lompong inilah yang memberikan warna hitam pada kue lompong. Lompong kemudian dicampur dengan tepung ketan, tepung merang dan gula. Sedangkan untuk isi kue lompong adalah kacang tanah yang ditumbuk dan rasanya manis. Kue lompong ini memiliki ciri khas dibungkus dengan daun pisang yang sudah kering (klaras). Kue lompong ini juga wajib kalian coba, gaes.

Sate Winong



Sate kambing khas Winong ini sepintas sama dengan sate kambing pada umumnya yang menggunakan daging kambing muda. Yang membedakan sate Winong dengan sate kambing lain adalah bumbunya. Kalau di tempat lain sate dibumbui kecap manis dengan irisan bawang merah dan cabai rawit, sate Winong dibumbui dengan kecap buatan sendiri. Bumbu sate itu dibuat dari rebusan gula jawa dengan perpaduan rempah-rempah yang memiliki rasa khas kemudian ditambah cabai rawit yang diuleg, irisan bawang merah dan daun jeruk nipis. Rasanya? Khas banget. Tak lengkap rasanya bila berkunjung ke Purworejo tanpa mencicipi sate Winong ini, gaes.

Dawet Ireng



Kalian pernah melintas daerah selatan dan melihat penjual dawet ireng di sepanjang jalan? Kalau iya, artinya kalian sudah memasuki wilayah Kabupaten Purworejo. Dawet ireng kini tak hanya dikenal di Kota Purworejo saja, tetapi telah merambah ke berbagai kota. Dawet ireng yang berasal dari Kecamatan Butuh ini memiliki ciri khas berupa cendol (dawet) yang berwarna hitam dengan santan dan sirup gula jawa. Warna hitam dawet berasal dari abu jerami yang dibakar. Jangan khawatir, pewarna alami itu aman dikonsumsi kok.

Kupat Tahu



Mungkin kalian bisa menjumpai kupat tahu di daerah Magelang, tetapi kupat tahu Purworejo memiliki rasa berbeda. Perbedaannya terletak pada bumbunya. Bila ditempat lain kupat tahu berbumbu kacang, lain hal nya dengan kupat tahu Purworejo. Kupat tahu Purworejo berbumbu kecap atau kuah yang terbuat dari rebusan gula jawa dan rempah-rempah. Mirip dengan bumbu sate Winong. Rasanya? Istimewa.

Kue Satu

Kue satu. Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa kue tersebut dinamakan kue satu bukan kue dua atau tiga? Belum diketahui secara pasti sih, kenapa kue yang terbuat dari kacang hijau yang disangrai dan ditumbuk ini dinamakan kue satu. Kue yang memiliki nama lain Kue Kroya ini bisa dijumpai sebagai sajian saat hari besar seperti lebaran. Kue ini hanya menggunakan tepung kacang hijau sebagai bahan utamanya dan hanya ditambah gula pasir, air, dan perasa vanila sebagai campurannya. Kue satu ini bisa juga sebagai teman minum teh, loh.

Nah gimana gaes, tertarik untuk mencicipi makanan khas kampung halamanku? Ayo, wisata kuliner ke Purworejo!
 
Photo by @jejakjelata : Gerbang Tiongkok Kecil Heritage
Hai Gaes,

Apa yang terbersit di pikiran kalian kalau mendengar nama Tiongkok Kecil Heritage? Tahukah kalian dimana  letaknya? Yang jelas sih, bukan di Hongkong ya. LOL.

Tiongkok Kecil Heritage terletak di Lasem. Lasem merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Rembang. Rembang memang kota yang memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan etnis Tionghoa di Indonesia. Beruntung banget beberapa waktu yang lalu aku bersama Mia bisa jalan-jalan ke Lasem. Selama dua hari satu malam, aku dan Mia mengunjungi beberapa tempat bersejarah, salah satunya  Tiongkok Kecil Heritage yang baru saja selesai dipugar. 

Ini pertama kalinya aku berkunjung ke Lasem. Biasanya sih, cuma lewat doang kalau sedang ada keperluan ke Surabaya. Dari sejarah yang pernah kubaca, Lasem dipercaya sebagai tempat etnis Tionghoa mendarat pertama kali di Indonesia. Kata Lasem berasal dari dialek Tiongkok Lak-sam yang artinya nomor 63. Konon katanya sebanyak 63 kapal armada Jung pernah diterpa badai dan terdampar di tempat yang kini kita kenal dengan nama Lasem. Itu sebabnya Lasem juga sering dijuluki sebagai Tiongkok Kecil.

Memiliki luas sekitar 45.04 km², Lasem memiliki banyak sekali bangunan-bangunan bersejarah, terutama yang berkaitan dengan budaya Tionghoa. Benar sih, karena ketika diajak berkeliling di sekitar Tiongkok kecil, banyak bangunan-bangunan tua yang masih tetap dipertahankan bentuk aslinya. 

Meski mendapat julukan sebagai Tiongkok Kecil dan dikenal sebagai tempat pendaratan pertama etnis Tionghoa, Lasem memiliki masyarakat yang majemuk. Lasem juga dikenal sebagai kota santri karena di sana juga terdapat banyak pondok pesantren. Di sekitar Masjid Jami’ kita akan menemukan beberapa makam ulama yang berperan menyebarkan agama Islam di daerah pesisir Lasem dan sekitarnya.
Photo by @jejakjelata : Di depan pintu gerbang Tiongkok Heritage
Balai Arkeologi Yogyakarta menyebutkan bahwa Lasem mempunyai 541 situs bersejarah. Banyak juga ya, Ezytravelers. Peninggalan pusaka arkeologi di Lasem berasal dari zaman prasejarah, klasik Hindu dan Budha, Islam, kolonial dan kemerdekaan. Bahkan penemuan kerangka manusia purba di Desa Leran dan Plawangan membuktikan bahwa peradaban Lasem telah berumur sangat tua.

Berhubung waktunya terbatas akhirnya aku dan Mia memutuskan untuk mampir sebentar di rumah tembok merah. Bangunan peninggalan sejarah yang baru beberapa waktu lalu dipugar ini berlokasi di Karangturi, Lasem. Daerah Karangturi memang sebuah kawasan Pecinan dimana mayoritas penduduknya merupakan masyarakat etnis Tionghoa.

Photo by @jejakjelata : Tiongkok Kecil Heritage yang baru selesai dipugar
Tidak sulit bagi aku dan Mia menemukan lokasi rumah merah. Rumah bergaya Hindia dengan dua pilar besar di berandanya itu adalah milik Rudy Hartono, seorang pengusaha asal Lasem. Rumah itu memiliki dua pintu dengan pintu utama bergaya Cina terbuat dari kayu dan pintu lainnya merupakan pintu besi bercat merah. Bangunan tersebut tampak klasik dan megah. Hampir seluruh temboknya di cat warna merah menyala. Rudy Hartono menamai bangunan ber cat itu dengan nama Tongkok Kecil Heritage.

Saat memasuki rumah merah “Tiongkok Kecil Heritage” itu nuansa Tionghoa terasa begitu kental. Terutama penggunaan warna merah dan kuning di hampir seluruh ruangan. Di beranda ada beberapa tempat duduk dan patung dewa berukuran besar. Ada semacam papan yang berisi gambar dan tulisan yang menceritakan sejarah dan perjalanan Tiongkok Kecil Heritage hingga akhirnya selesai dipugar.


Di ruangan berikutnya ada dua barongsai yang sengaja diletakkan di depan pintu masuk dan patung dewa berukuran besar juga. Sayangnya nggak tahu persis namanya. Menuju bagian belakang rumah merah, mataku langsung tertuju pada sumur bercat kuning menyala di sisi sebelah kiri bangunan. Sepertinya sumur itu juga sudah dipugar.

Sumur yang telah dipugar
Di sisi kanan rumah merah ada sebuah bangunan ber cat putih yang difungsikan sebagai dapur dan semacam kafe. Jadi, kalo kalian datang ke rumah merah ini tak perlu khawatir akan kelaparan atau kehausan. Pemilik rumah merah ini juga menyediakan beraneka souvenir berupa kaos, tas dari kain perca hingga batik khas Lasem. Harganya murah-murah kok. Aku aja beli tas kain perca seharga 15 ribu.

Rudy Hartono, sang pemilik rumah mengatakan bahwa rumah merah Tiongkok Kecil Heritage boleh dikunjungi oleh siapa saja. Dia juga mengizinkan rumah kunonya digunakan sebagai tempat untuk Festival Lasem dan Laseman yang digelar tahun lalu.

Nah, cerita lain yang aku dapat dari Lasem adalah tentang akulturasi budaya Belanda, China dan Jawa. Aku jadi belajar banyak tentang bagaimana harmonisasi masyarakat Tionghoa dan Jawa yang berjalan hingga kini. Mereka bisa hidup rukun berdampingan tanpa riak berarti sejak berabad-abad lalu. Salah satu bukti nyata harmonisasi di sana adalah keberadaan patung Panji Margono, seorang tokoh dan pahlawan Lasem berdarah Jawa, di Kelenteng Gie Yong Bio, Lasem. Penghormatan ini jelas sangat luar biasa. Orang Tionghoa biasanya hanya memberi posisi istimewa kepada dewa atau leluhur mereka namun Panji Margono berhasil mendobrak garis batas dan dianggap menjadi bagian tak terpisahkan dari komunitas Tionghoa di Lasem. Menarik banget kan?

Ayo dolan ke Lasem, gaes!
Hai Gaes,

Ada cerita jalan-jalan atau jajan apa hari ini? 

Hmm...kalo aku, sih.... *ga ada yang nanya, ya. LOL.

Kali ini aku lagi pengen memenuhi tantangan dari mbak Winda Oetomo , blogger yang juga seorang Arsitek dan Dwi Septia yang demen banget traveling, nih untuk #ArisanBlogGandjelRel. Jadi mereka berdua adalah pemenang arisan blog Gandjel Rel periode 6. Kali ini mereka melempar tema "Orang yang paling ingin saya ajak traveling". Hmm, siapa ya? tik..tok..tik..tok. 

Sebenarnya ada beberapa orang yang pengeee...eeen banget aku ajak traveling bareng. Tapii...yang paling pertama adalah suamiku. Ciyeeeh.

Dia adalah orang yang sudah 17 tahun lebih hidup bersamaku. Awal-awal menikah, kami berdua masih bisa jalan-jalan berdua saja. Tetapi setelah punya anak, kami berdua jarang banget bisa jalan berdua. Akhir-akhir ini malah aku yang lebih sering bepergian, dan beliau yang jagain anak-anak. Padahal, pengen banget bisa jalan berdua saja dengannya. Kemana...aa, gitu.

Iya sih, setelah punya anak prioritas hidup berubah karena kami harus mendahulukan kepentingan anak-anak daripada kepentingan kami berdua. Banyak lah yang dipertimbangkan ketika hendak memutuskan untuk pergi traveling berdua saja. Mikirin siapa yang bakal jagain anak-anak selama ditinggal, siapa yang nemenin mereka tidur, siapa yang antar jemput mereka sekolah, gimana kalo pas ditinggal ada yang sakit, endebrei..endebrei. Lalu, impian traveling berdua suamipun sirna.

Jika suatu hari, aku dan suami ada kesempatan traveling berdua, pengen banget bisa pergi ke beberapa tempat berikut ini :

Traveling ke Mekkah-Madinah


Pergi ke tanah haram, melakukan ibadah umroh atau haji adalah impian hampir semua umat muslim, termasuk aku dan suami. Impian ini bahkan sudah pernah kami bicarakan sejak awal-awal menikah. Betapa bahagianya membayangkan kami berdua beribadah bersama disana, mengunjungi Raudah, wukuf di Arafah, berdoa di  Jabal Rahmah, bermesraan dengan Dia Yang Maha Kuasa. Semoga Allah SWT ridhoi impianku dan suami dan menjadikan kami berdua tamu di rumahNya segera.

Traveling ke Turki


Gara-gara melihat Om yang sehabis umroh, mampir ke Turki dan naik balon udara di Cappadocia, jadi pengen juga datang kesana. Selain itu pengen juga melihat bangunan-bangunan bersejarah Konstantinopel, naik kapal Mavi Marmara dan bermain bersama burung-burung camar. Kayaknya romantis banget bisa melintas di laut mediteranian gitu, ya. Semoga ada rezeki, suatu saat bisa kesana. Tentu saja, berdua dengan suami.

Napak Tilas Perjalanan Cinta (eciyeeh..)

Aku dan suami sudah mengenal satu sama lain hampir selama 19 tahun. Sebelum menikah, setidaknya ada beberapa kota yang menjadi saksi bagaimana naik turunnya (kayak saham aja) hubungan kami berdua. Gresik, Surabaya, Krian, Bogor, Karawang, Purworejo dan akhirnya bermuara di Semarang. Untuk mengenangnya, pengen banget bisa napak tilas ke kota-kota itu. Pengennya sih, naik motor aja gitu. Kan asyik, bisa traveling santai pake motor cuma berdua aja. 

Sebenarnya banyak banget sih, tempat-tempat yang pengen aku datangi bersama suami. Tapi yang utama, adalah tiga ini sih. Mimpinya ketinggian, yak? Ya gak pa pa lah, gratis ini. Haha. LOL.

Kalau kalian, pengen traveling sama siapa gaes?
Hai Gaes, 

Sudah jalan dan jajan belum hari ini?

Paling seneng kalo acara jalan-jalan atau jajan-jajan kita bisa berjalan dengan lancar ya, gaes. Pernah nggak sih, saat kalian jalan-jalan tapi malah mengalami sesuatu yang bikin mood jalan-jalan kita berubah? Seperti mendadak kaki keseleo, tiba-tiba pusing kepala atau malah pengen pipis melulu alias anyang-anyangan?

Pasti kondisi semacam itu bikin kita langsung bad mood, ya.

Ya iyalah, pasti. Hal-hal seperti itu yang bisa menghambat perjalanan. Kalo cuma pusing kepala sih, bisa diatasi dengan minum obat lalu tidur selama perjalanan. Beres, kan. Kaki keseleo bisa diurut, duduk manis di mobil, beres juga. Lah, kalo anyang-anyangan? Kita musti bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air kecil yang keluarnya juga nggak seberapa banyak. Baru jalan 10 menit udah kebelet pengen pipis lagi, cari SPBU lagi. Kapan atuh nyampenya, gaes? Belum lagi harus nahan nyeri, saat sedang buang air kecil. Duuh, nggak nahan deh.

Nggak cuma kita yang bad mood, teman perjalanan kita pasti juga bakalan bete karena perjalanan nggak nyampe-nyampe juga ke tempat  tujuan. Ini mau jalan-jalan ke tempat wisata atau mau jalan-jalan ke SPBU, sih? Kalo kayak gini sih, bisa dipastikan acara jalan-jalan jadi kacau.

Tapi itu dulu, sebelum aku kenal Prive Uri-Cran. Pengalaman mengalami anyang-anyangan saat traveling membuatku lebih berhati-hati sekarang. Eh, kalian juga musti hati-hati  loh, gaes.

Nah, biar kalian bisa mengantisipasi datangnya anyang-anyangan. Jangan sampai, hal ini juga kejadian sama kalian.


Anyang-anyangan merupakan salah satu indikasi penyakit  infeksi saluran kemih. Gejalanya adalah hasrat ingin buang air kecil besar tapi volume air kencing sedikit, kadang juga disertai rasa nyeri saat buang air kecil. Nah, ini yang kemarin juga kejadian sama aku.

Penyebabnya apa?

Ternyata  terlalu banyak minum yang berefek diuretik seperti alkohol, kopi, dan teh bisa menyebabkan anyang-anyangan. Huhuu, padahal aku hobi banget minum kopi. Tapi anyang-anyangan bisa juga terjadi karena kehamilan, cemas, otot detrusor tidak stabil, pembesaran prostat, hipertonisitas dasar panggul, interstitial cystitis, dan diverticulitis. Catet, ya!

Penyebab dan Cara Mengatasi Anyang-anyangan

Trus, kalo sudah kena anyang-anyangan kita musti gimana dong?

Ya diobati, lah. Sini deh, aku kasih tahu (karena aku tak punya tempe. LOL)*ini konyol, abaikan.

Jadi, waktu aku kena anyang-anyangan beberapa waktu lalu, aku disarankan untuk mengonsumsi Prive Uri-Cran 1 sampai 2 kali sehari. Prive Uri-Cran ini  mampu mengatasi anyang-anyangan, karena mengandung ekstrak buah cranberry yang berkhasiat menghambat infeksi bakteri dalam saluran kemih. Kadar vitamin C dalam buah cranberry juga cukup tinggi. Selain itu cranberry juga kaya serat makanan, mineral dan flavonoid antosianidin, sianidin, peonidin, quercetin. Jadi, aman lah untuk dikonsumsi.

Prive Uri-Cran, mengatasi anyang-anyangan
 Cara mencegahnya bagaimana? Nih ya, perhatiin supaya kalian nggak kena anyang-anyangan.
  • Jaga kebersihan organ intim. Setelah dibasuh, keringkan dengan handuk atau tissue supaya bakteri tidak berkembang. Tahu sendiri kan, bakteri suka banget berkembang biak di tempat yang lembab.
  • Jangan memakai pakaian dalam terlalu ketat ya, gaes. 
  • Jangan lupa, banyak minum air putih. Kurang minum air putih ternyata juga bisa jadi penyebab anyang-anyangan.
  • Jangan suka menahan pipis. Kalo udah kebelet pipis ya pipis aja, nggak usah ditahan-tahan. 
  • Basuh organ intim dari arah depan ke belakang, jangan sebaliknya. 
  • Bersihkan dudukan toilet (kalo pake toilet duduk) dengan air, keringkan dengan tissue baru kemudian dipakai. 
Buat kalian yang suka traveling, jangan lupa bawa Prive Uri-Cran kemanapun kalian pergi. Anyang-anyangan bisa datang dan pergi tanpa bisa kita prediksi. Nggak ada salahnya kan untuk antisipasi?

Jadi, anyang-anyangan saat traveling? Oh, NO!


Hai Gaes,

Apa kabar? 

Sudah jalan kemana aja tahun ini?

Tahun ini adalah tahun yang cukup banyak liburnya. Katanya, sih. Buatku sih mau hari libur atau bukan, sama aja. Nggak ada pengaruhnya. Hihi. Tetep libur maksudnya. Enaknya jadi freelancer seperti aku ya begini ini. Bisa kerja kapan aja, kemana aja dan dimana aja. 

Loh, kok enak?

Iya dong. Apalagi kalo kerjanya bisa sekalian traveling. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Kerja sambil piknik. Asik nggak tuh? Apalagi kalo lokasi kita kerja berada dekat dengan destinasi wisata, pasti disempet-sempetin mampir deh.

Menjadi freelancer merupakan pekerjaanku 3 tahun terakhir ini. Berawal dari hobiku menulis, sering datang ke event dan menuliskan reviewnya di blog akhirnya tawaran pekerjaan berdatangan. Aku mulai diundang untuk meliput suatu event di luar kota. Jakata, Pekalongan, Temanggung, Lasem adalah beberapa diantaranya.

Liputan event ke Jakarta
Liputan event di Temanggung
Liputan event di Pekalongan
Photo by @jejakjelata : Liputan event di Lasem
Bekerja diluar kota tak hanya membutuhkan waktu yang lebih panjang saja tetapi juga stamina yang prima. Ya kan harus lari kesana kemari, kadang juga harus pindah lokasi dalam waktu singkat. Nggak mau dong, sedang liputan tapi badan nggak fit? Bisa-bisa kita nggak bisa bekerja dengan maksimal. Duh, bisa di cap nggak profesional deh sama klien kita.

Kayak waktu liputan di Lasem ini beberapa waktu lalu. Sehari setelah pulang liputan dari Temanggung, aku dan temanku Miya harus berangkat ke Lasem untuk meliput event Lasem Interaktif Festival. Padahal kondisi badanku waktu itu kurang fit sepulang dari Temanggung. Maklum lah, dari Semarang ke Temanggung dan sekitarnya aku mengendarai sepeda motor. Kebayang kan, betapa capeknya selama 3 hari berturut-turut naik motor kesana kemari.

Aku hanya punya waktu satu hari untuk memulihkan kondisi tubuhku. Seharian istirahat di rumah, suami menyarankan untuk minum obat dan multivitamin. Theragran-M.

Udah kebiasaan sih, aku dan suami minum multivitamin ini dari dulu. Theragran-M ini bukan obat tapi vitamin yang membantu mengembalikan kondisi tubuh setelah sakit. Karena sudah membuktikan sendiri bagaimana manfaatnya, jadi keterusan sampai sekarang.

Theragran-M, multivitamin yang bagus untuk masa pemulihan
Kondisi tubuhku mulai fit dan ijin dari suami sudah kudapat. Akhirnya aku bisa memenuhi tugasku meliput di Lasem. Aku dan Miya memutuskan untuk naik bis menuju Lasem. Karena kesorean, kami nggak dapat bis patas. Terpaksalah kami berdua naik bis ekonomi. Perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar 3 jam itu cukup menyiksaku. Gimana enggak tersiksa coba, bis ekonomi yang kami tumpangi melaju dengan ugal-ugalan. Selain nggak ber-AC, penumpang berdesak-desakan, bau asap rokok bercampur dengan bau keringat dan minyak angin. Rasanya udah pengen turun aja waktu itu, tapi nggak bisa. Demi mengejar waktu agar bisa tiba di lokasi event tepat waktu.

Setelah bersabar selama 3 jam perjalanan, akhirnya kami berdua tiba juga di Omah Londo, Lasem. Untungnya acara belum mulai, jadi aku masih bisa membersihkan diri dan berganti pakaian. Beruntung juga sebelum berangkat aku sudah minum vitamin, jadi staminaku masih oke untuk meliput event yang berakhir hingga tengah malam.

Photo by @jejakjelata : Di stand batik Lasem
Keesokan harinya aku dan Miya menyempatkan diri mampir ke beberapa tempat wisata bersejarah yang ada di Lasem seperti Tiongkok Kecil Heritage dan Pabrik Tegel Lasem. Yaah, mumpung di Lasem jadi sekalian nambah referensi lokasi traveling, kan. Apalagi seorang kenalan menawarkan diri untuk mengantarkan kami berdua berkeliling Lasem. Sayang kan, kalo kesempatan ini dilewatkan begitu aja.

Photo by @jejakjelata : Tiongkok Kecil Heritage Lasem
Photo by @jejakjelata : Pabrik Tegel Lasem
Sebelum berangkat, aku dan Miya memang berencana mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Lasem sih. Sama seperti kalo kita meliput suatu event di kota lain, pasti selalu diiringi dengan rencana traveling juga.

Sungguh beruntung, aku bisa mendapatkan kesempatan seperti ini. Bisa bekerja sambil traveling. Yang pasti, selain menjaga kepercayaan klien aku juga harus menjaga stamina agar tetap fit selama melakukan perkerjaanku.
 
Aaah, setelah ini bakalan ke kota mana lagi, ya. 




Hai Gaess,

Hari ini (24/6/2017) adalah hari terakhir kita puasa di tahun ini ya. Apa kabar puasa kalian? Full kan? Ato jangan-jangan nggak puasa tapi ikut buka puasa? Just kidding, yah. LOL.

Meski ramadan sudah hampir berlalu, tapi boleh dong aku cerita pengalamanku bukber di Aston Hotel Semarang  (17/6/2017) lalu. 

Ceritanya aku mau nyobain gimana rasanya bukber dengan konsep all you can eat gitu, deh. Akhirnya kesampaian juga bukber di Aston. Apalagi Aston Hotel Semarang ini menyediakan berbagai menu istimewa dengan tema 99 Arabic Van Java. Jadi, kayak menu-menu Arabic tapi sudah disesuaikan dengan lidah Jawa. Sampai-sampai Aston Hotel mendatangkan Cheff dari Arab sana untuk membuat menu-menu istimewa ini. 

Kenapa temanya 99 Arabic Van Java? 

Karena bulan ramadan adalah bulan suci umat muslim, mustinya temanya juga hal-hal yang berkaitan dengan Islam. 99 Arabic Van Java terinspirasi oleh Asmaul Husna (nama-nama Allah) yang berjumlah 99. Biar gampang ingatnya juga, kan. 

Selain merilis menu buffet istimewa dengan tema 99 Arabic Van Java, Aston Hotel Semarang juga mengadakan acara 99 charity bersama 99 komunitas mobil dan 99 anak yatim. Mereka (anak-anak yatim) ini diajak berkeliling kota Semarang dan berakhir di Masjid Agung Jawa Tengah kemudian menaiki menara masjid setinggi 99 meter. Waah, semuanya berhubungan dengan angka 99, ya.

Chef Andi dan Chef Amri
Chef Andi dari Aston Hotel Semarang menjelaskan konsep 99 Arabic Van Java beserta menu-menu andalannya. Dijelaskan oleh Chef Andi, bahwa 99Arabic Van Java ini terdiri dari 6 Cycle dengan menu yang berbeda. Keenam menu cycle ini hanya dapat ditemukan di tanggal-tanggal tertentu saja selama bulan Ramadan dan Idul Fitri. Jadi, setiap menu ini akan di rolling setiap 5 hari sekali.

Kalo kemarin sih, kebetulan aku bisa nyicipin menu cycle 4. Lumayan lengkap loh, menu makanannya. Semua itu bisa kita makan sepuasnya dengan hanya membayar 99 ribu rupiah saja. Gimana gaes, menarik kan?


Aston Hotel Semarang termasuk salah satu hotel yang paling banyak dikunjungi untuk acara-acara bukber begini, loh. Terbukti kemarin, suasana Jade Cafe & Resto sangat ramai. Bahkan meja-mejanya sudah full booked.

Buah-buahan segar yang selalu tersedia
Beberapa pilihan takjil
Saya dan beberapa teman berkeliling di area display maincourse. Banyak menu yang tersedia di sana. Karena temanya Arabic Van Java, sebagian menunya adalah masakan khas Timur Tengah tentunya.

Mediteranian Grill Chicken
Ada Mediteranian Grill Chicken, Charmoula Fish, Lamb Tagine and Dates, Read Bean Stew dan banyak lagi. Kebetulan aku nggak fotoin semuanya, keburu laper sih. Hehe.

Nah, kalo kalian pengen nyicipin snack ala-ala Arabian kalian bisa ke pojok Martabak dan Turkish Kebab. 

Pojok Martabak dan Turkish Kebab
Dari luar ruangan Jade Cafe & Resto, tercium aroma bakar-bakaran. Ternyata di luar juga tersedia beberapa macam sate yang sedang dibakar. Ada sate ayam, sate kambing dan sate ikan. Alhamdulillah kebagian juga nyicipin sate kambingnya dengan pilihan bumbu kecap dan bumbu kacang. Aku sih, pilih sate kambing berbumbu kecap saja.

Aneka minuman yang menyegarkan kerongkongan
Selain makanan, disediakan pula berbagai jenis minuman. Mau yang dingin atau hangat. Tersedia, jus buah, infused water, air putih, es teh hingga teh hangat dan kopi. Eh ada juga wedang ronde, loh. Lengkap kan.

Alhamdulillah, sebagian menu Cycle  ini sudah masuk ke perutku. Saking banyaknya pilihan menu, jadi bingung mau makan yang mana. Keliatan enak semua, sih. Tapi, meskipun nggak bisa nyicipin semua menunya  aku tetap puas kok. Ya puas karena kenyang. Hehe. Alhamdulillah.

Oh iya, sebelum pulang aku sempat turun ke lobi untuk melihat Asmaul Husna yang terbuat dari coklat. Jadi, nama-nama Allah ini dituliskan di sebuah styrofoam, cardboard dan coklat seberat 20 kg. 

Nah, ini dia penampakannya.

Asmaul Husna made of Chocolate
Terima kasih Aston Hotel Semarang atas pengalaman mengesankan ini.
Haii...gaes, 

Udah jalan kemana aja hari ini? Aku dong, belum jalan-jalan lagi. LOL.

Makanya aku keluarin stok cerita lama, nih. Sebenarnya belum lama-lama amat sih, baru 7 bulan yang lalu jalan-jalannya *idih, kagak ada yang lebih lama buk. 

Posong. Kalian pernah dengar nama destinasi wisata ini, kan? Yups. Posong berlokasi di Desa Tlahab, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung. Waktu itu aku kesana rame-rame sih. Kebetulan aku dan empat orang temanku ada kerjaan di kota Temanggung, jadi disempetin deh buat jalan-jalan sekalian. 

Tujuan utama jalan-jalan kami waktu itu memang Posong. Gegara aku googling, ada apa aja di kota Temanggung dan nemu destinasi wisata baru bernama Posong *baru buatku, sih. LOL. 

Pagi-pagi buta, aku dan teman-temanku berangkat berboncengan menuju Posong. Jaraknya cukup jauh dari tempat kami menginap, ke arah Kabupaten Wonosobo. Menurut temanku sih sekitar satu jam. Angin dingin yang menusuk hingga tulang tak menghentikan semangat kami berenam. Kondisi jalan yang gelap karena kabut turun dan berliku membuat kami harus waspada. Apalagi lawan perjalanan kami adalah truk-truk pasir dan bus malam. Jadi harus hati-hati banget, gaes.

Setelah beberapa kali memastikan kalo gapura menuju Posong sudah dekat kami memperlambat laju kendaraan. Sempat salah masuk gapura, karena bentuk gapura yang mirip satu sama lain dan tulisan Posong yang kecil.

Kurang lebih pukul 5 pagi, kami masuk jalan menuju Posong.  Setelah membayar tiket Rp 4.000 (sekarang Rp 7.000) per orang, kami masih harus naik sekitar 3,5 km dari loket pembayaran ke lokasi. Untuk menuju puncak kami harus melalui jalanan berbatu yang cukup menanjak dan terjal. Benar-benar harus ekstra hati-hati kalo nggak mau tergelincir. Kabut juga turun, jadi jarak pandang juga terbatas.

Semburat merah mulai terlihat di ufuk timur. Duh, jangan-jangan kami nggak bakal kebagian melihat matahari terbit nih. Mau ngebut jelas nggak bisa. Berharap waktu bisa berhenti sejenak hingga aku dan teman-temanku sampai di puncak.*yakali kayak film bisa di pause. LOL

Setengah jam kemudian, akhirnya kami tiba di puncak. Matahari masih mengintip malu. Rupanya cuaca mendung jadi sinar matahari tertutup awan.

Mataharinya masih malu-malu
Di puncak ternyata kami tidak sendiri. Sudah ada beberapa orang yang sengaja datang subuh-subuh demi menyaksikan matahari terbit dari puncak Posong. Nggak heran kalau Posong juga disebut-sebut sebagai destinasi wisata "sunrise". Sayangnya saat itu cuaca kurang mendukung, awan-awan menyembunyikan semburat sinar matahari. Meski begitu, aku puas bisa sampai puncak Posong dan melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana indahnya pemandangan yang terlihat dari atas.

Gunung Sumbing di depan mata
Tepat di depanku berdiri gunung Sumbing yang gagah, sedangkan dibelakangku gunung Sindoro yang tak kalah kokoh. Posong terletak di kaki Gunung Sindoro. Sementara di kejauhan nampak enam puncak gunung lainnya yaitu Merapi, Merbabu, Telomoyo, Andong, Ungaran dan Gunung Muria. Masya Allah, indahnya.

Aku dan teman-temanku tak henti berdecak kagum  melihat pemandangan yang disuguhkan alam didepan mata. Sebanding dengan perjuanganku dan teman-teman menembus dingin dan kabut untuk menuju ke Posong ini.

Gunung Sindoro di belakangku, gaes
Kalian juga musti kesana , gaes. Ada lima alasan mengapa kalian harus datang ke Posong.
  1. Dari puncak Posong, kalian bisa melihat tujuh gunung sekaligus gaes, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Merapi, Merbabu, Telomoyo, Andong, Ungaran dan Gunung Muria.
  2. Posong merupakan destinasi wisata "sunrise" matahari terbit. Kalian  bisa menyaksikan bagaimana matahari terbit di ufuk timur. 
  3. Bisa melihat lautan awan di siang hari dan melihat pemandangan kota Temanggung dari atas.
  4. Saat malam hari, kalian bisa melihat milkyway dimana bintang-bintang dari  galaksi Bimasakti terlihat begitu jelas di atas langit Posong.
  5. Memiliki fasilitas untuk para pecinta alam, seperti outbond, turun tebing, camping dan sebagainya.
Posong kini telah berbenah dan menjadi destinasi wisata alam favorit para penggemar piknik. Apalagi sekarang sudah tersedia berbagai fasilitas seperti mushola, toilet, warung makan, dan fasilitas untuk outbond dan camping. Selain itu juga terdapat gazebo-gazebo yang bisa dijadikan sebagai tempat beristirahat para pengunjung.

Jadi kalian bisa leyeh-leyeh sembari menikmati semilir angin pegunungan, gaes.

Belum puas menikmati pemandangan yang ada di sekitar Posong? Kalian bisa melihat aktivitas para petani yang memiliki lahan di sekitar Posong. Ada petani tembakau, kopi dan sayur yang ada di sana. Tapi ingat, tetap bersikap santun ya. Jangan rusak sedikitpun tanaman yang ada di sana.

Yang pasti, Posong akan memberikan kesan dan pengalaman yang tak terlupakan.

Posong, aku akan kembaliiii....