dokumen. tim NgeBar Berkomunikasi

Hai halo, guys

Glamping bersama NgeBar Berkomunikasi, The Beauty of Pine Forest Udah banyak yang tahu kalau pariwisata menjadi salah satu sektor ekonomi yang terkena dampak besar krisis pandemi Covid-19. Bersyukur, beberapa waktu ini sektor pariwisata telah memasuki masa new normal dengan membuka beberapa destinasi wisata disertai penerapan protokol kesehatan khusus new normal.

Tren pariwisata di dunia termasuk Indonesia paska pandemi virus corona (covid-19) berubah. Tempat wisata outdoor dan wisata alam (adventure) diprediksi akan menjadi tujuan paling populer untuk perjalanan setelah pandemi corona berakhir.

Tempat wisata outdoor dan wisata alam (adventure) diperkirakan akan segera booming setelah pandemi corona berakhir. Diprediksi wisatawan akan lebih memilih melakukan perjalanan jarak dekat atau dengan waktu tempuh yang singkat. Karenanya jumlah wisatawan domestik akan meningkat.

Sementara itu, wisatawan yang berusia muda atau millenial traveler akan melakukan perjalanan wisata terlebih dahulu.

Oleh karena itu, industri pariwisata nasional harus bersiap dan berbenah diri menyongsong tren perubahan di sektor pariwisata paska covid-19 ini. Di antaranya menerapkan protokol kesehatan secara ketat di destinasi-destinasi wisata.

Glamping with NgeBar Berkomunikasi 

dokumen. Tim Ngebar
Seperti hal nya yang terjadi hampir dua minggu lalu, ketika aku dan beberapa teman blogger yang melakukan glamping di hutan pinus di kawasan Sikembang Batang. Akhirnya, setelah 6 bulan berdiam diri di rumah dan mati-matian menahan hasrat untuk bepergian, aku bisa kembali jalan-jalan di alam bebas. Tentunya dengan tetap mematuhi dan menjalankan protokol kesehatan.

dokumen. Tim NgeBar. Tetap mematuhi protokol kesehatan
Sekira pukul 8 pagi, aku berangkat dari Semarang bersama keluarga mb Nia Nurdiansyah. Entah karena terlalu lama di rumah, aku sempat gagap packing (apa ya istilahnya kalo bingung packing bawaan. LOL) jadi bingung mau bawa apa aja dari rumah. Maklum lah ya, biasanya sebulan traveling sampe 4 kali, ini 6 bulan nggak ngapa-ngapain cuma di rumah aja, makanya trus gagap packing. Selain gagap packing, aku juga sampe ga bisa tidur gara-gara mau pergi. Maklum lagi ya, karena acara glamping kemarin bener-bener event pertama setelah 6 bulan nggak keman-mana. Pasti kalian mikirnya "ih, lebay amat dah. Cuma pergi kemping sehari aja ribetnya lebay betul". Yawes nggak pa-pa, emang se-lebay itu aku.
.
Sepanjang perjalanan, aku sudah membayangkan keseruan yang bakalan terjadi di acara NgeBar nanti. Apalagi yang ngadain acara NgeBar ini orangnya asik, pasti acaranya juga bakalan seru.

Kalian penasaran nggak sih, siapa sebenarnya sosok dibalik acara NgeBar ini?

Jadi, NgeBar ini merupakan sebuah singkatan dari Ngemah Bareng yang diinisiasi oleh Muhammad Teguh Pujianto, pemilik sebuah kafe yang bernama Berkomunikasi Coffee and Tea di jalan Matana Pekalongan. Aku mengenalnya dua tahun lalu di sebuah acara kemping juga. Aku biasa memanggilnya "MasTeg", hihi. Di cafe miliknya yang bernuansa Jepang, kalian bisa menikmati secangkir kopi atau teh yang nikmat bersama makanan khas Jepang seperti bento atau rice bowl.

MasTeg yang doyan menikmati kopi dan teh di alam terbuka ini ingin menularkan hobinya itu pada masyarakat luas. Apalagi di masa seperti sekarang ini, siapa sih yang nggak mau menikmati kopi sambil memandangi indahnya alam?

dokumen. Tim NgeBar
Menikmati secangkir kopi hangat di alam bebas sih mengasyikkan ya, tapi kalian kebayang sih gimana ribetnya mengangkut peralatannya? Ternyata dari sinilah, kemudian muncul ide untuk NgeBar sekalian. Ya biar sekalian rempongnya, gitu. Kan makin asik tuh, abis ngopi-ngopi langsung rebahan. Santai-santai tiduran di hammock dan rebahan di tenda sekalian.

Nah..nah, kalian pasti udah kebayang gimana serunya NgeBar kan? Hari itu, hutan pinus di kawasan Sikembang Batang jadi pilihan untuk NgeBar bersama para blogger dari kota berbeda. Dari Jakarta ada mb Ika si turis sendal jepit yang meskipun cuma pake sendal udah melanglang buana, dari Wonosobo ada Manjie si pemilik wonosobo1menit, dari Kendal ada Zain si Klimis, dan dari Semarang ada aku, Lintang dan keluarga mb Nia serta Ichun si travelcouple (yang ga ada pasangannya eh belum, ding. LOL) yang berasal dari Demak.

dokumen. Tim NgeBar. Bercengkrama sejenak di Berkomunikasi Coffee an Tea
Sebelum menuju lokasi Ngebar, kami sempat mampir dan beristirahat sejenak di Berkomunikasi Coffee and Tea milik masTeg. Kami juga dapat kesempatan nyicipin racikan es kopi kekinian dan mencicipi rice bowl nya yang lezat di sana. Aku sendiri memilih es kopi caramel latte yang menyegarkan badanku setelah melakukan perjalanan dari Semarang ke Pekalongan.

dokpri. Nemu spot foto yang oke buat foto-foto di Berkomunikasi Coffe and Tea
Setelah cukup beristirahat dan personil lengkap, kami pun berangkat menuju lokasi yang berjarak sekira 1,5 jam perjalanan. Di lokasi NgeBar sudah ada mas Hans yang menunggu kami sambil mempersiapkan segala keperluan kami untuk NgeBar nanti. Setibanya di lokasi, kami sempat diprank sama MasTeg. Kami dikerjain biar keringetan. KZL!!

Tapii...ii dibalik kekesalanku karena dikerjain MasTeg, rupanya di lokasi sudah disiapin es gula asem yang langsung menyegarkan tenggorokan dan pedoyo yang segar dan menghangatkan di sebuah meja panjang dan bangku-bangku yang mengelilingi. Nggak jadi KZL deh! Haha.

Baru pertama kali ini aku menyicipi kudapan khas Pekalongan itu. Pedoyo ini adalah rebusan timun yang disajikan bersama sambal terasi mentah. Cara makannya, cukup cocolkan timun rebus atau pedoyo itu pada sambal terasi mentah. Rasanya? Lumayan enak.

Sore itu terasa begitu intim. Kami yang awalnya belum mengenal satu sama lain langsung akrab dan mengobrol hangat sambil menikmati wedang gula asam. Rasanya kami seolah sudah saling kenal sejak lama. Saat senja datang, kami pun satu per satu mulai beranjak untuk membersihkan diri.

Selepas maghrib dan selesai membersihkan diri, kami semua berkumpul di meja makan dan kembali mengobrol aka ghibar (kalo kata Zain. LOL). Saat kami sedang asyik mengobrol, ternyata Tim NgeBar telah menyiapkan makan malam spesial buat kami. Makan malam dengan menu nasi megono dengan semua uborampenya memenuhi meja di depan kami. Piring sendok telah tertata rapi, bak fine dining di resto-resto mahal.

dokumen. Tim NgeBar
Tak menunggu lama, kami pun mengisi piring-piring kosong itu dengan menu yang sudah terhidang. Aku sampai bingung mau makan apa, semuanya menggugah selera. Siapa sih yang bakal nolak megono tongkol, sambal goreng kikil, sayur daun pepaya dan tempe tahu bacem. Aku sampai rela mengabaikan dietku, demi menikmati sepiring nasi megono yang lengkap dengan lauk pauknya.

dokumen Tim NgeBar. Makan malam bersama
dokpri. Makan malam yang menggugah selera
Makan malam kami lalui dengan suasana hangat dan akrab, meski angin malam mulai menusuk kulit. Topik obrolan seperti tak ada habisnya. Saat malam mulai larut, mas Hans mengajak kami untuk berkumpul di depan api unggun. Sembari barbeque an, mas Hans menceritakan tentang bagaimana sejarah NgeBar terbentuk, bagaimana filosofi serta visi misinya.  Salah satu poin yang aku dapat adalah bagaimana agar kita bisa mentadaburi alam serta mensyukuri dan menikmati alam semesta.

Kami juga saling bertukar ide dan pikiran tentang wisata alam dengan konsep NgeBar. Obrolan kami makin hangat dan asik sembari menikmati secangkir hot chocolate dan sosis bakar. Ya ampun, masih kebayang rasanya. Yuumm.

dokpri. Obrolan serius tapi santai
dokumen. Tim NgeBar
Malam makin larut, perbincangan kami malah makin seru. Andai obrolan kami tak disudahi, mungkin kami bisa melek sampai pagi. Tetapi kami harus segera beristirahat, karena besok pagi masih ada aktivitas menanti. Semuanya mulai beranjak masuk ke tenda masing-masing.

Keesokan paginya, aku terbangun karena harus ke kamar mandi. Udara pagi yang dingin masih menusuk kulitku. Matahari pun belum menampakkan diri. Selesai urusan belakang, aku kembali ke tenda dan bersiap. Beberapa teman juga sudah selesai dengan urusan kamar mandi dan kembali ke tenda untuk aktivitas berikutnya.

Rupanya pagi itu, Tim NgeBar sudah menyiapkan wedang uwuh hangat untuk kami semua. Bayangin deh, betapa nikmatnya secangkir wedang uwuh hangat di pagi yang dingin. Sebagian dari kami berkumpul di meja makan, sebagian lain mendekat ke perapian dimana MasTeg sedang menyiapkan sarapan untuk kami semua. Tuuh kan, enaknya NgeBar ya gini, semuanya sudah disiapin sama Tim NgeBar. Berasa jadi orang istimewa pokoknya.

dokpri. MasTeg udah kayak Chef ya
dokpri. sunny-side up by MasTeg
dokpri. Sandwich with sunny side up and sausage
Rupanya MasTeg udah jago banget  bikin sandwich yang enak. Sandwich bikinannya ludes dalam sekejap. Aku jadi berasa sarapan di rumah, hihi.

dokpri. Menikmati sandwich bikinan MasTeg 
Setelah menikmati sandwich, mas Hans memenuhi janjinya mengajak kami berjalan-jalan menyusuri hutan untuk melihat keindahan alam di hutan pinus ini. Awalnya kukira bakalan jalan cukup jauh, ternyata enggak. Jalannya santai dan nggak bikin capek kok.

dokumen. Tim NgeBar
dokpri. Hijau sejauh mata memandang
dokpri. menemukan sungai kecil berair jernih

Aaah, rasanya kayak nggak mau pulang cepet-cepet deh. Betah banget bisa menyatu dengan alam seperti ini. NgeBar seperti ini cocok banget orang-orang yang setiap harinya sibuk dengan aktivitas dan pekerjaan. Kita bisa melarikan diri sejenak dari rutinitas dan merelaksasi diri dengan udara segar dan pemandangan yang menyejukkan mata. Dijamin sepulang dari NgeBar, badan dan otak kita kembali fresh dan siap kembali dengan rutinitas.

Jadi, ketika kita merasa jenuh di rumah dan pengen liburan dengan suasana berbeda, kenapa nggak NgeBar aja? Serahkan semua kepada ahlinya. Semuanya sudah disiapkan oleh tim NgeBar, mulai dari tenda dan semua peralatannya, food and beverage yang dijamin nggak kalah dengan penginapan lainnya. Tim NgeBar Berkomunikasi akan membawa kalian merasakan pengalaman kemping yang berbeda. Mereka siap menemani kalian NgeBar di lokasi manapun yang kalian inginkan.

Kalian boleh kepoin aktivitas mereka di www.berkomunikasi.com  atau di IG @ngebar_berkomunikasi. Aku juga pengen ngucapin terima kasih untuk para kru NgeBar diantaranya MasTeg, mas Hans, Amri, Faza, Eva dan mas Arif (kalo nggak salah nama) yang sudah bikin kami semua hepi. Kapan-kapan kita bikin lagi di lokasi lain yaaaw.

Kalian juga bisa tanya-tanya seputar NgeBar sama mas Hans di +6285292088878  ya!

Sampai jumpa di postingan berikutnya yaa. Heii, kalian tim NgeBar dan tim Ghibar, aku kangen kalian!!


Generator set atau genset termasuk salah satu perangkat penting untuk sebuah tempat usaha. Baik berupa toko, hotel, bengkel, perusahaan, maupun pabrik. Sebab, keberlangsungan usaha dari tempat tersebut sangat bergantung pada pasokan listrik. 

Sayangnya, listrik tidak disuplai secara perorangan, melainkan langsung dari pihak PLN. Oleh karena itu, tempat usaha sebaiknya memiliki genset, baik dengan cara membeli maupun rental genset murah. Namun, bagaimana cara memilih genset yang tepat?

1. Penyesuaian Daya
Seperti yang sudah diketahui, tempat usaha memiliki banyak peralatan yang memerlukan tenaga listrik. Pastikan genset dapat menopang kebutuhan tersebut, agar tidak terjadi kerusakan. Oleh karena itu, lakukan penghitungan daya terlebih dahulu dan sesuaikan dengan genset yang ada di pasaran. Agar tidak terjadi kesalahan, lakukan hitung daya bersama orang yang paham dengan dunia kelistrikan.

2. Tipe Genset yang Sesuai
Untuk genset yang berfungsi sebagai pengganti daya listrik sementara, dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu tipe silent dan tipe open. Tipe silent sangat cocok digunakan untuk skala perumahan, dan sejenisnya. Sedangkan tipe open digunakan untuk skala perusahaan, pabrik, ataupun industri pertambangan.

3. Sparepart Mudah Didapat
Generator tidak berdiri sendiri, melainkan ada banyak komponen yang bekerja. Cepat atau lambat mungkin akan mengalami kerusakan, apalagi jika sering dipakai. Oleh karena itu, pastikan membeli genset yang sparepartnya mudah didapatkan. Sehingga dapat diperbaiki dengan cepat tanpa harus inden terlebih dahulu.

4. Mekanik yang Andal
Sama seperti peralatan yang lain, genset pun butuh perawatan. Baik untuk membersihkan, memanasi, atau memperbaiki genset jika ada yang rusak. Jangan asal pilih, pastikan mekanik tersebut sudah andal dan benar-benar paham tentang mesin. 

Lantas, lebih baik mana antara membeli atau rental genset?
Membeli memang baik, karena hak kepemilikan genset sepenuhnya menjadi aset perusahaan. Namun, butuh modal yang sangat besar, karena harganya yang mencapai ratusan juta rupiah. Belum lagi biaya pemeliharaan, mekanik, sparepart, dan lain sebagainya. Hal ini juga harus dipertimbangkan sejak awal. 

Alangkah lebih baik dan praktis, jika menggunakan jasa penyedia rental genset murah, seperti Sewatama. Semua hal di atas bisa diselesaikan dalam satu tempat. Sebab, Sewatama sudah memiliki jam terbang tinggi sebagai penyedia genset rental. Hal ini terbukti dengan banyaknya jumlah pelanggan yang sudah memercayakan perusahaannya di tangan Sewatama. 

dokpri. Konservasi Mangrove dan Bekantan Tarakan

Hai Jalaners,

Siapa nih, yang udah kangen jalan-jalan? Ada berita gembira nih. Kabarnya, sejak dua minggu terakhir, sejumlah daerah di Indonesia dilaporkan sudah membuka kembali objek-objek wisata andalan mereka. Aha!!

Objek Wisata Kembali Dibuka

Pembukaan objek wisata di masa transisi new normal ini mau tidak mau memang musti segera dilakukan. Tujuannya tentu saja adalah untuk menggerakkan roda perekonomian, serta menghidupkan kembali industri pariwisata domestik yang sempat mati suri selama masa pandemi ini.
Terlebih setelah pemerintah sepakat akan memprioritaskan pergerakan wisatawan domestik, dengan cara meningkatkan kualitas objek wisata lokal. Selain itu, tren wisata dan perilaku wisatawan sendiri diprediksi akan mengalami pergeseran.
Wisata berbasis alam disebut-sebut akan menjadi alternatif di masa era kenormalan baru atau new normal. Aktivitas wisata ini tidak menimbulkan kerumunan, dan sifatnya lebih kepada pendekatan terhadap ekosistem. Itulah sebabnya banyak daerah mulai berbenah diri membuka kembali objek-objek wisata alam mereka. Contohnya di daerah taman nasional, pegunungan, dan pantai. 


Tips Aman Berwisata di Era New Normal

Agar saat berwisata tetap aman, protokol kesehatan harus diterapkan untuk mencegah penyebaran virus corona ketika pembukaan pariwisata saat new normal nanti. 
Nah, bagaimana agar liburan tetap aman? Berikut ini tips aman berwisata di era new normal: 
1. Pastikan Kita dalam Kondisi Sehat
Tetap perhatikan kondisi kesehatan diri. Sebelum berlibur pastikan dulu tubuh kita dalam kondisi sehat. Jangan sampai tubuh kita mengalami gangguan kesehatan saat bepergian ke tempat wisata. Sebelum berangkat liburan, alangkah baiknya jika melihat kesiapan kondisi tubuh terlebih dahulu. 
Jika perlu, kita bisa mengikuti rapid test atau swab secara mandiri. Hasil tes itu nantinya bisa kita bawa saat liburan untuk berjaga-jaga. Apalagi ada beberapa destinasi wisata yang mewajibkan pengunjung untuk membawa surat bebas COVID-19.
2. Membeli Tiket dan Check in Online
Jika menggunakan transportasi umum, belilah tiket dan check in secara online. Dengan cara ini kita bisa mengurangi kontak fisik dengan orang lain. 
3. Selalu Gunakan Masker
Selalu menggunakan masker di mana pun berada, apalagi di tempat umum. Meski dalam kondisi sehat, kita bisa saja menjadi 'carrier' dengan status Orang Tanpa Gejala (OTG). Masker digunakan untuk mengurangi risiko tertular COVID-19. 
4. Selalu Bawa Hygiene Kit
Saat memasuki era new normal, hygiene kit bisa menjadi senjata yang wajib dibawa kemana-mana. Isi dari hygiene kit bisa berupa hand sanitizer, disinfektan spray, tisu basah, tisu kering, sabun cair, hingga masker cadangan. 
5. Membawa Bekal Sendiri
Usahakan selalu membawa bekal makanan, minuman serta perlengkapan makanan sendiri agar selalu aman dan sehat. Jangan lupa untuk selalu mencucinya  hingga bersih!
6. Solo Traveling 
Jika sebelum pandemi virus corona kita sering liburan bersama keluarga, setelah memasuki era new normal nggak ada salahnya mencoba solo traveling atau staycation. Keduanya dapat mengurangi kontak fisik dengan orang lain. Kamu bisa memilih staycation bersama pasangan atau keluarga inti di hotel atau villa.  
Sedangkan untuk solo traveling akan memberikan pengalaman tersendiri yang mengasyikkan buat kamu. Tidak ada salahnya mencoba, apalagi kalau kamu masih muda. 
7. Jaga Jarak dan Jauhi Kerumunan
Tidak semua daerah bisa menerapkan konsep new normal di wilayahnya. Untuk itu, pilihlah lokasi atau destinasi wisata yang sudah benar-benar siap untuk menerapkan kebijakan baru tersebut. Setelah memilih destinasi yang cocok, pastikan agar tetap menjaga jarak dan menghindari kerumunan saat tiba di lokasi. Karena menjauh dari keramaian, hal tersebut juga bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk menjelajah spot-spot yang eksotis di kawasan wisata yang dituju.
Jadi gimana, jalaners? Sudah siap jalan-jalan?
Hai Gaes,

Petualangan tiga hari dua malam di Lombok, sebenarnya adalah cerita liburan tahun lalu. Sebuah keberuntungan ketika mendapat kabar kalo aku menang lomba. Rasanya seperti tiba-tiba dapat durian runtuh. Yups, aku memenangkan hadiah trip selama 3 hari 2 malam di Lombok. Iseng ikut lomba nulis tentang liburan impian, eh ternyata menang. Padahal aku sendiri udah lupa lombanya. Nasib baik mendatangiku. Kalo bukan karena menang lomba, kapan bisa liburan ke Lombok?

Hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Aku harus berangkat ke Jakarta dengan pesawat paling pagi karena "meeting point" rombongan pemenang liburan impian adalah di gate 7 bandara Soeta. Alhasil, subuh-subuh aku sudah tiba di bandara Ahmad Yani. Pukul 05.55 pesawat take off menuju bandara Soeta, dan landing dengan aman satu jam kemudian. Aku yang nggak ngeh kalo tiketku adalah tiket terusan, malah ngantri buat chek in lagi. Maklum lah, baru kali ini naik pesawat pake transit-transit segala. Haha.

Setelah berputar-putar mencari meeting point, akhirnya ketemu juga dengan rombongan pemenang lain. Ada sekitar duapuluh lima orang yang mendapat hadiah liburan ke Lombok. Mereka semua berasal dari berbagai daerah. Ada yang dari Singkawang, Lampung, Malang, Surabaya, Bogor, Bandung, Palembang, Medan dan Jakarta. Dari semua pemenang yang aku kenal hanya satu orang karena kami berdua sama-sama blogger. Shintaries. 

Sebagian pemenang liburan
Keesokan harinya, kami bergegas menuju Gili Trawangan. Menempuh perjalanan sekitar 1 jam ke Teluk Nare untuk menyeberang ke Gili Meno dan Gili Trawangan. Tak disangka, kami sudah disambut oleh tim My Trip My Adventure di Gili Meno. Ternyata kami harus ikut syuting MTMA bersama Rikas Harsa dan Marshal Sastra.

Setelah syuting di darat (di sepanjang pantai Gili Meno), kami juga harus syuting di dalam air (snorkling). Padahal saya nggak bisa renang dan nggak bisa snorkling, tapi mau nggak mau harus turun ke air. Apa boleh buat, akhirnya saya masuk ke air juga. Ternyata arus di bawah air cukup kencang waktu itu. Karena banyak yang jagain, saya percaya diri aja masuk ke air. Meskipun  berkali-kali harus minum air laut tapi demi syuting, oke lah.

dokpri. Syuting MTMA bersama Rikas Harsa

Matahari semakin terik, kamipun mulai lelah.  Kami dijadwalkan untuk singgah di Gili Trawangan. Sekitar 20 menit dari spot snorkling, akhirnya boat yang kami tumpangi berlabuh ke Gili Trawangan.  Sebenarnya kalo mau, kami bisa juga island hoping ke beberapa pulau di sekitar Gili Trawangan. Tapi, karena kondisi kami yang sudah lelah, kami akhirnya memutuskan untuk beristirahat dan makan siang di Gili Trawangan saja.

Setelah membersihkan badan, kami makan siang di Juku Restaurant dan beristirahat. Sementara yang lain ada yang melanjutkan syuting, ada pula yang berkeliling Gili Trawangan menggunakan Cidomo. Untuk berkeliling Gili Trawangan menggunakan Cidomo, cukup membayar 75 ribu rupiah saja per orang.

dokpri. Gili Trawangan

Menjelang petang kami semua berkumpul dan harus segera menuju Teluk Nare. Perjalanan kami belum selesai. Masih ada beberapa destinasi lain yang harus kami datangi antara lain Sunset point di bukit Malimbu, pusat souvenir dan oleh-oleh serta makan malam di Ocean Blue Restaurant. Perjalanan yang ditempuh cukup lama, karena kami harus menyeberang terlebih dahulu ke Teluk Nare. Ombak yang sore itu cukup tinggi, menyebabkan kami basah karena cipratan ombak. Belum lagi, boat yang kami tumpangi juga berayun cukup kencang. Fiuuh, benar-benar sport jantung dibuatnya.

Begitu merapat di Teluk Nare, kami harus segera naik ke bus yang akan membawa kami ke Sunset Point di Bukit Malimbu. Hujan mengiringi perjalanan kami menuju Bukit Malimbu. Semoga segera reda ketika kami sampai di sana. Sayang dong, sudah sampai di sana tapi nggak bisa lihat sunset?

Sekitar 40 menit kami tiba juga di Sunset Point bukit Malimbu. Hujan sudah cukup reda dan hanya menyisakan rintiknya. Namun rupanya kami terlalu awal tiba di sana. Matahari masih bersinar dengan terang. Butuh sedikit waktu lagi untuk menyaksikan sang surya benar-benar kembali ke peraduannya. Rombongan kami pun berpencar, mengambil posisi sendiri-sendiri untuk mengambil foto. Berkali-kali saya mengucap syukur kepada Allah, karena atas izinNya saya bisa menginjakkan kaki di tempat seindah ini melalui Insto.


Saya kembali mengucap syukur karena saya bisa mendapatkan kesempatan ini. Kalau bukan karena memenangkan lomba Insto Let's Go to Lombok ini, belum tentu saya bisa pergi berlibur ke Lombok. Saya jadi ingat resolusi tahun lalu, bahwa saya ingin bisa traveling karena tulisan saya dan Allah mengabulkannya. Terima kasih ya Allah. Terima kasih Insto telah memberi kesempatan pada saya untuk mewujudkan liburan impian. Semoga akan ada liburan impian-liburan impian berikutnya.




Hai gaes,

Akhirnya keturutan juga nyicipin pallubasa serigala di tempat aslinya yaitu Makassar. Salah satu wishlistku ketika mengunjungi kota Makassar adalah kulineran makanan khas kota ini. Coto, pallubasa, sop konro, es pisang ijo sudah kumasukkan dalam list kuliner yang harus aku cobain. 

Kalo sedang ada kerjaan ke luar pulau dan lokasinya menarik, biasanya aku akan extend satu atau dua hari. Seperti hal nya ketika ada kerjaan di Makassar, aku nggak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mengeksplor wisata dan kulinernya. Sayangnya, aku tak sempat ke destinasi wisata yang aku mau, yaitu ramang-ramang karena nggak ada yang nemenin, haha (dasar tukang jalan tapi penakut). 

Akhirnya aku cuma bisa mengobati kekecewaanku dengan berwisata kuliner saja di Makassar. Baiklah, semoga next job ada kota Makassar lagi, jadi keinginan untuk eksplor wisata di Makassar bisa terwujud. 

Yang terbayang-bayang di kepalaku adalah Pallubasa. Jadi, Pallubasa ini adalah salah satu makanan tradisional khas Makassar. Meskipun gempuran makanan modern cukup banyak, makanan tradisional tetap punya tempat di hati. Konon, dulu makanan ini diperuntukkan untuk kelas pekerja, karena bahan-bahannya yang terbilang murah. Tapi sekarang, Pallubasa termasuk dalam 10 ikon wisata kuliner di Makassar.

Pagi itu aku sengaja hanya sarapan buah di hotel karena rencananya aku dan rekan kerjaku akan sarapan pagi ke pallubasa serigala. Sekitar jam 9, aku dijemput di lobi hotel dan langsung menuju pallubasa serigala yang hanya berjarak sekitar 15 menit perjalanan dari hotel tempatku menginap. Kami hanya berdua saja, karena rekan lain sedang bersiap packing karena sore ini kami harus pulang. 



Bersyukur ketika sampai di pallubasa serigala, kondisinya sedang tidak ramai. Hanya beberapa orang saja yang terlihat sedang menikmati pallubasa. Kami segera memesan 2 porsi pallubasa. Oleh pegawainya kami ditawari untuk pakai telur atau tidak. Temanku pesan pakai telur, sdedangkan aku enggak. Ternyata pallubasa ini bisa dimakan bersama nasi atau ketupat. Aku hanya pesan pallubasa  daging saja tanpa nasi, karena saat itu aku sedang tidak makan nasi. 


Sekilas sih Pallubasa ini mirip dengan Coto Makassar. Bedanya, kuah Pallubasa lebih kental, dan menggunakan taburan kelapa parut sangrai sebagai pelengkap. Kelapa parut sangrai ini membuat aroma Pallubasa jadi khas dan lebih gurih. Pallubasa juga biasa disajikan dengan kuning telur mentah. Kuning telur ini akan matang dengan sendirinya ketika dimasukkan dan diaduk ke dalam kuah Pallubasa yang panas.

Aroma yang ditimbulkan oleh kelapa parut sangrai yang legit membuat nafsu makan meningkat. Si kelapa parut sangrai ini juga membuat tekstur kuahnya jadi unik. Kalau Coto Makassar umum disantap dengan ketupat, Pallubasa lebih nikmat jika disantap dengan nasi. Potongan dagingnya juga empuk, mungkin dikarenakan proses merebus daging yang cukup lama. 

So far, aku suka banget sama pallubasa serigala ini. Baru nyobain sekali udah bikin jatuh cinta berkali-kali. Fix, pallubasa ini bakal aku datengin lagi nanti ketika aku ke Makassar lagi. 

dokpri. Geng doyan kulineran. Mata ngantuk pun tetep mau makan

Hai..hai..hai

Mencicipi soto banjar paling terkenal di Banjarmasin. Salah satu kebiasaanku ketika mengunjungi sebuah daerah yang belum pernah aku datangi sebelumnya adalah mencicipi kulinernya. Kalo masih banyak waktu, biasanya aku juga menyempatkan untuk mendatangi destinasi wisata yang ada di daerah tersebut.

Sebenarnya aku ke Banjarmasin sudah beberapa bulan lalu, ketika harus mengikuti roadshow women community bersama perusahaan farmasi yang cukup besar di Indonesia. Nah, untuk mengenang perjalanan yang menyenangkan itu, sekaligus menghilangkan kejenuhan saat harus stay at home, mendingan aku tuliskan saja di blog ini. Biar nanti kalo kangen, aku bisa baca-baca lagi postingan ini.

Negara kita punya beragam kuliner yang memiliki cita rasa khas dan menggugah selera. Sebutlah pempek dari Palembang, rendang dari Padang, ayam Taliwang dari Lombok dan banyak lagi yang lainnya. Dari sekian banyak jenis kuliner khas nusantara, soto adalah makanan yang paling banyak memiliki variasi dan digemari banyak orang. Mulai dari soto Kudus, soto Semarang, soto Lamongan, soto Padang, soto Betawi hingga soto Banjar.

Pada saat ada kerjaan di Banjarmasin, aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mencicipi kuliner khas Banjarmasin. Apalagi kalo bukan soto Banjar. Soto Banjar paling terkenal di Banjarmasin adalah soto Banjar bang Amat, sayangnya waktu aku dan teman-teman kesana, warungnya tutup, jadi kami memutuskan untuk ke warung soto lain yang tak kalah lezatnya dari soto Bang Amat.

Sesuati rekomendasi babang taksol, kami akhirnya makan soto di sebuah rumah makan bergaya khas Banjar. Selain menyajikan menu soto, rumah makan ini juga menyejikan menu khas Banjar lainnya seprti lontong haruan. Tapi aku sudah kadung membulatkan tekad mencicipi soto Banjar, jadi aku pesan seporsi soto Banjar.

Seporsi soto Banjar yang menggugah selera

Perbedaan Soto Banjar dan soto daerah lain terletak dari rasanya. Soto Banjar memiliki rasa yang gurih dan segar. Kuahnya sedikit bening dengan bumbu rempah khas Banjar yang menjadi ciri khasnya. Lauk yang disajikan bersama dengan Soto Banjar juga berbeda. Soto Banjar disajikan dengan suwiran ayam yang cukup besar, potongan telur itik, perkedel kentang, bawang goreng, dan perasan jeruk nipis. Kalo aku sih plus sambal yang banyak, supaya makin mantap rasanya. Maklum lah, aku penyuka makanan pedas. Kuah soto yang panas ditambah pedasnya sambal makin menambah nikmatnya soto Banjar ini.

Selain soto Banjar ada juga lontong haruan

Seperti yang aku tulis tadi, selain soto Banjar, rumah makan ini juga menyediakan menu lain seperti lontong haruan. Lontong haruan ini mirip dengan lontong sayur, hanya saja ditambah lauk ikan haruan (ikan gabus) yang dimasak dengan bumbu habang khas Banjar. Sayangnya, perutku udah nggak sanggup untuk seporsi lontong haruan karena seporsi soto Banjar saja sudah tak sanggup kutampung di perutku. 

Untuk seporsi soto Banjar dihargai Rp 28 ribu, sedangkan setengah porsi Rp 18 ribu. Bedanya hanya terletak dari jumlah lontongnya aja. Dengan harga yang terjangkau bisa makan seporsi soto yang bagiku cukup besar dan rasa yang enak, worth it lah. 

Nanti kalo ada kesempatan ke Banjarmasin lagi, pasti bakalan kulineran di sini lagi. Next post, ceritaku subuh-subuh naik kapal ke pasar apung ya. 
Hai gaes,

Papua. Salah satu pulau terbesar yang terletak di ujung timur Indonesia. Aku belum pernah kesana, tetapi sering mendengar dan membaca cerita tentang keindahan alam di sana. Aku penasaran, tiap kali mendengar cerita tentang Papua. Konon disana keindahan alamnya masih perawan, belum banyak yang mengeksplor. 

Beberapa kali aku beruntung mendapatkan kesempatan traveling ke beberapa pulau dan kota di Indonesia. Tahun lalu, untuk pertama kalinya aku bisa menjejakkan kaki di bumi borneo yaitu di Balikpapan, Tarakan dan Banjarmasin. Lalu, aku juga berkesempatan mengunjungi bumi Sulawesi, tepatnya di kota Makassar. Kemudian bumi Sumatera, aku berkunjung ke kota Palembang. Di saat itu aku juga berkesempatan mengunjungi beberapa destinasi wisata. Yaah, meski belum semuanya tapi aku bahagia, setidaknya sepanjang umurku aku pernah menjejakkan kaki di bumi Indonesia lainnya. 

Meski begitu, aku masih punya keinginan untuk menjelajah bagian Indonesia lainnya seperti Aceh dan Papua. Terlepas dari konflik yang sedang terjadi di Papua, aku masih bermimpi untuk bisa mengunjungi Papua. Jiwa petualanganku seolah terusik ketika mendengar kata Papua. Inginku kembali menguji kekuatan kakiku untuk menjelajahi bumi Papua. 

Jika aku diberi kesempatan untuk menjelajahi Papua, aku ingin ke beberapa tempat seperti berikut ini :

Lembah Baliem 

pict source. ketahui.com

Lembah Baliem merupakan lembah yang berada di Pegunungan Jayawijaya. Suhu rata-rata di sana mencapai 10-15 derajat Celcius pada malam hari. Maklum saja, meskipun namanya lembah, tetapi wisata alam di Papua ini berada di ketinggian 1600 mdpl dan dikelilingi pegunungan. Jadi, kebayang dong betapa sejuknya suasana di sana, kan?

Lembah Baliem ini juga dikenal sebagai Grand Baliem Valley. Tempat ini merupakan tempat tinggal suku Dani. Mereka tinggal di Desa Wosilimo, yang berjarak sekitar 27 km dari Wamena. Tak hanya menyajikan panorama alam yang indah, kita juga bisa menikmati kegiatan tradisi yang disebut  sebagai Festival Lembah Baliem. Ferstival ini awalnya merupakan acara perang antar suku yang ada di sana, diantaranya suku Dani, Lani, dan Suku Yali sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan yang telah berlangsung turun temurun. 

Kayaknya asik juga kalo bisa melihat secara langsung bagaimana Festival Lembah Baliem berlangsung. Festival Lembah Baliem ini biasanya digelar tiap bulan Agustus. Waah, bisa nih direncanakan untuk traveling ke Papua. 

Raja Ampat 

pict source. indonesiakaya.com

Bisa dibilang, Papua itu identik dengan Raja Ampat. Di sinilah sepotong surga Papua itu berada. Kabupaten Raja Ampat terdiri dari gugusan pulau yang jumlahnya ratusan, dan diantaranya ada 4 pulau besar aitu pulau Waigeo, Misool, Batanta, dan Salawati. Salah satu tujuan wisata yang menjadi favorit wisatawan adalah pulau Misool, karena keindahan pantai pasir putihnya. 

Selain memiliki kekayaan alam bawah laut, Raja Ampat juga memiliki kekayaan lain yang tak kalah menarik. Pulau-pulau yang membentuk deretan tebing tinggi pun banyak terdapat di Raja Ampat. Bahkan, beberapa tempat seperti Piaynemo, Teluk Kabui, dan Wayag telah terkenal hingga ke seluruh dunia lebih dulu sebelum dikenal di dalam negeri. 

Raja Ampat kini sudah menjadi salah satu tujuan wisata terkenal di dunia. Namun, karena akses yang terbatas, untuk menuju Raja Ampat memerlukan biaya yang tidak sedikit. Tetapi, kini kita tak perlu khawatir karena Raja Ampat sudah berbenah diri dengan menyediakan berbagai fasilitas untuk semua kalangan. Beberapa penginapan berbentuk resort mulai dari yang berharga mahal hingga motel kecil nan murah kini mudah kita jumpai di sana. Sebagai wisatawan, kita hanya perlu lebih bijak untuk menjaga kepulauan indah ini agar selalu terjaga supaya keindahannya dapat terus dinikmati hingga generasi-generasi berikutnya.


Danau Sentani

pict source. merahputih.com

Danau terluas di Papua ini terletak di lereng Pegunungan Cagar Alam Cyclop. Danau ini menyimpan keanekaragaman hayati yang luar biasa jumlahnya. Saat kita island-hopping ke beberapa pulau-pulau kecil di danau ini, kita akan menemukan berbagai macam fauna darat maupun laut yang unik. Selain itu kita juga akan dimanjakan oleh panorama alam yang sangat indah. Kita juga dapat menyaksikan secara langsung berbagai pohon, diantaranya pohon matoa, pohon pinang, hingga pohon kayu putih.

Taman Nasional Lorentz

pict.source. bobogrid.id

Wisata alam Papua memang tak berhenti membuatku berdecak kagum. Baru mendengar nama dan melihat gambarnya saja, aku sudah tak sabar untuk menjelajahi Taman Nasional Lorentz yang membentang di empat wilayah yaitu Kabupaten Jaya Wijaya, Kabupaten Paniai, Kabupaten Merauke, dan Kabupaten Fak-Fak.  Taman nasional dengan luas 2,4 juta hektar ini tetapkan sebagai taman nasional terbesar di Asia Tenggara. 

Destinasi wisata Indonesia ini bahkan masuk ke dalam situs warisan dunia UNESCO, loh. Taman Nasional Lorentz merupakan satu di antara tiga wilayah di dunia yang memiliki gletser di daerah tropis. Dijamin pemandangan alam dan keanekaragaman hayati di Taman Nasional Lorentz akan membuat kita terpesona. Aku ingin melihat dari dekat konservasi hutan Papua yang termasuk sebagai paru-paru dunia ini. 

Salah satu organisasi nirlaba yang concern terhadap kondisi hutan di Indonesia adalah Econusa. Yayasan EcoNusa menjembatani komunikasi antara pemangku kepentingan di wilayah timur Indonesia (Tanah Papua dan Maluku). Membaca visi misinya untuk terus menjaga kelestarian hutan di Indonesia, aku juga ingin turut terlibat di dalamnya. Terus menanam dan menjaga kelestarian lingkungan  bisa terus kita lakukan demi masa depan anak cucu kita, demi bumi kita tercinta. 

Papua memang mampu menyihir kita semua untuk memujanya. Beberapa destinasi yang kupilih merupakan tempat yang benar-benar ingin aku eksplor. Alasannya adalah karena aku suka bertualang di alam bebas. Aku ingin merasakan bagaimana bertualang menyusuri hutan Papua dan pantai-pantainya. Tuhan, ijinkan aku menyapa Papua dan menyentuhnya.