Lanjut lagi cerita tentang blogger camp d'Emmerick ya, gaes..

Belum sempat lelap tidur, aku terbangun karena suara mbak Archa yang menyuruhku membangunkan mbak Nia yang ngelindur. Setengah sadar, aku puk puk saja punggung mbak Nia layaknya menepuk punggung anakku. Psst...sst....mbak Nia, pssst...ssst *seingatku sih kayak gitu. LOL.

Baru berapa menit terlelap, di luar ada suara orang membangunkan kami. Kami harus bersiap untuk "hunting sunrise" di gunung Telomoyo. Setelah bebersih dan bersiap, kami menuju lobi dimana jeep-jeep 4x4 dari S4X4tiga Adventure telah menunggu. Jeep berkapasitas 4 orang siap mengantar kami ke puncak Telomoyo. Sebelum berangkat, kami berdoa bersama agar perjalanan menuju Gunung Telomoyo lancar.

Sekitar pukul 3.30 dini hari, jeep melaju menembus dinginnya malam. Suara jeep yang berkonvoi menderu memecah kesunyian malam. Angin dingin yang menampar pipiku tak ku pedulikan lagi. Bayangan indahnya menyaksikan matahari terbit di gunung Telomoyo mengalahkan semua yang kurasakan dini hari itu.

Jeep yang kutumpangi mulai bergoyang-goyang karena jalanan mulai terjal. Jalan menuju puncak Telomoyo ini hanya cukup dilewati oleh satu mobil saja. Jeep kami berjalan beriringan. Setelah kurang lebih 30 menit melalui jalanan yang cukup ekstrim, akhirnya kami tiba juga di puncak  Gunung Telomoyo. Kami berhenti di tempat yang cukup luas. Sebagian dari kami menjalankan sholat subuh, sedangkan sebagian lain duduk di pinggir tebing dan bersiap menyambut matahari terbit.

Di ufuk timur terlihat langit yang berwarna jingga, pertanda matahari segera menampakkan bentuknya. Angin dingin yang menusuk tak lantas menghentikan kami mengabadikan matahari terbit di Gunung Telomoyo. 

Dokpri. Lukisan alam
Setelah matahari benar-benar muncul, kami mulai heboh mengambil gambar. Gimana nggak heboh, di hadapan kami terpampang nyata lukisan alam yang sangat indah. Nampak di kejauhan gunung Sumbing dan gunung Sindoro berdiri dengan gagahnya. Di hadapan kami ada gunung Ungaran, di sebelah selatan ada gunung Merbabu dan di sebelah utara kami ada gunung Andong. Semuanya terlihat dengan jelas di sekeliling kami.

Aku menghirup udara gunung dalam-dalam hingga memenuhi paru-paruku. Udara dingin tak lagi dirasa, karena aku sedang bahagia. Kami berpencar mencari angle yang pas untuk mengambil gambar.

Lalu samar-samar tercium aroma bakmi rebus yang menggugah selera. Rupanya Chef dari d'Émmerick telah menyiapkan bakmi rebus untuk sarapan. Bayangin gaes, sarapan bakmi rebus hangat dan segelas kopi sembari menyaksikan panorama alam dari puncak Gunung Telomoyo. Maka, nikmat Tuhan mana yang kau dustakan? 

Dokpri. Kasian jeep nya yak. LOL

Matahari mulai memancarkan sinarnya ke seluruh penjuru bumi. Kami harus segera meninggalkan puncak Gunung Telomoyo dan kembali ke camp. Sepanjang perjalanan menuruni Gunung Telomoyo, kami benar-benar melihat bagaimana medan yang kami lalui. Pohon pinus yang berjajar sepanjang jalur dan jurang yang curam nampak di sisi jalan. Ngeri-ngeri sedap pokoknya. Untunglah para driver jeep yang juga offroader ini sudah terampil mengemudikan jeep di jalur sulit sekalipun, jadi nggak kuatir bakalan kenapa-kenapa. 

Tiba di hotel setelah kurang lebih menempuh 1,5 jam perjalanan, rupanya kami masih diberi bonus untuk berkeliling area agrowisata d'Emmerick. Kupikir kami akan berkeliling seperti biasa, ternyata kami diajak untuk uji adrenalin lagi dengan ikut offroad. Ya salaam. 

Baca juga :
Wisata Salatiga : Petualangan Seru Nge-Camp Dan Uji Nyali Di D'Emmerick Hotel Salatiga (Bag. 1)


Ini merupakan pengalaman pertamaku ikutan offroad, jadi kebayang kan betapa hebohnya ketika harus melewati jalur ekstrim. Area offroad dipenuhi dengan suara teriakan-teriakan kami yang membahana. Haha. Kayaknya teriakan-teriakan kami ini membuat para driver makin puas deh.
Badan sakit karena benturan dengan body jeep, baju dan muka yang penuh dengan cipratan lumpur tak seberapa dibanding dengan pengalaman tak terlupakan ini. 

Dokpri. Belepotan lumpur setelah offroad

Aku juga merasakan ketakutan luar biasa ketika jeep yang kutumpangi mendadak macet tak bisa bergerak dengan posisi hampir terbalik. Huhuu....karena takut, aku memaksa untuk turun dan menunggu mobil di evakuasi dan dibantu naik oleh mobil lain. 

Setelah beberapa menit para driver berjuang, akhirnya jeep yang kutumpangi berhasil melewati jalur ekstrim. Perjalanan dilanjutkan dengan mengitari area offroad. Sesekali terdengar teriakan bila mobil yang ditumpangi menyenggol pohon atau terperosok ke dalam kubangan lumpur. 

Dokpri. Mobil yang kutumpangi terperosok

Selama kurang lebih satu jam, petualangan ekstrim akhirnya berakhir. Benar-benar pengalaman yang nggak bakalan kulupakan. Oh iya, Sunrise trip ke Gunung Telomoyo dan offroad di agrowisata dÉmmerick adalah bagian dari paket wisata yang ditawarkan oleh dÉmmerick Hotel Salatiga. 

Kalo kalian ingin punya pengalaman nge-camp, sunrise trip dan offroad seperti aku dan teman-temanku, hubungi saja dÉmmerick Hotel untuk informasi lebih lanjut. Kalian, akan dapat pengalaman yang mengesankan, gaes. 

d'Emmerick Hotel
Jalan Hasanudin Km 4, 50734
Salatiga, Jawa Tengah
(0298)325498
Instagram : @hotel_emmerick
Facebook : d'Emmerick Hotel
Website : www.d-emmerickhotel.com

Dok. Gus Wahid
Haii Gaes,

Apa yang terlintas di benak kalian kalo mendengar nama Hutan Tinjomoyo? Sebuah hutan yang sepi, bekas kebun binatang atau kawasan yang angker? 

Kalo begitu, kalian perlu sekali-kali menyambangi kawasan hutan itu. Hutan Tinjomoyo kini jadi salah satu tujuan wisata juga, loh. Pemerintah kota Semarang pertengahan bulan lalu meresmikan destinasi wisata belanja baru yaitu Pasar Semarangan. Uniknya, semua transaksi belanja di Pasar Semarangan dilakukan secara digital atau non tunai. Nggak pake duit, gaes. Kalian cuma perlu top up BNI tapcash untuk bisa berbelanja di Pasar Semarangan. Kabarnya ini baru satu-satunya yang ada di Indonesia loh.

Semarang Great Sale 2018 

Nah, tanggal 8 April 2018 kemarin, Walikota Semarang Hendrar Prihadi beserta Ketua Kadin Jateng, Ketua Kadin Semarang, wakil walikota Semarang dan beberapa pejabat terkait membuka Semarang Great Sale (Semargres) ke 8 di Pasar Semarangan kawasan Hutan Tinjomoyo. Pembukaan Semarang Great Sale dilaksanakan pada malam hari, mengesankan bahwa kawasan hutan Tinjomoyo tidak menakutkan seperti bayangan orang sebelumnya. Alasan lainnya adalah supaya kawasan Hutan Tinjomoyo kembali populer seperti dulu.

Dokpri. Walikota Semarang beserta jajarannya

Kemeriahan begitu terasa, begitu memasuki kawasan Hutan Tinjomoyo. Pengunjung tumpah ruah, ingin menyaksikan secara langsung acara pembukaan Semargres sekaligus mencoba berbelanja di Pasar Semarangan. Gimana nggak tertarik untuk belanja coba, hadiahnya banyak. Dua mobil serta belasan sepeda motor disediakan sebagai hadiah. Kalian nggak tertarik untuk membawa pulang salah satunya?

Digelar selama sebulan penuh dari tanggal 7 April-6 Mei 2018, Semargres ditargetkan mampu meningkatkan nilai transaksi. Kadin Semarang bersama pemkot Semarang dan Suara Merdeka sebagai penyelenggara Semargres menargetkan kenaikan transaksi hingga 260 miliar pada tahun ini. Lebih tinggi dari tahun lalu yang mencapai angka 200 miliar. Kalo melihat antusiasme warga Semarang sih, pasti bisa lah tercapai target tahun ini.

Dokpri. Walikota Semarang, Hendrar Prihadi

Walikota Semarang, Hendrar Prihadi dalam sambutannya juga menyampaikan bahwa tahun ini Semargres mempunyai konsep yang berbeda dalam pembagian kupon belanja. Pemberian kupon belanja dilakukan melalui aplikasi yang bisa diunduh di play store. Makanya sebelum belanja, kalian unduh dulu aplikasi Semargres, gaes. Pak Wali juga optimis dengan konsep baru, Semargres 2018 ini akan terselenggara dengan lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Apalagi jumlah tenant yang tergabung juga meningkat. Tercatat ada 2300 lebih tenant yang bergabung memeriahkan Semargres 2018 ini. Banyak juga, ya.

Semargres yang terselenggara sejak tahun 2011 ini terselenggara berkat kerjasama dengan berbagai pihak. Suara Merdeka salah satunya. Suara Merdeka Group melalui CEO nya Kukrit Suryo Wicaksono yang juga menjabat sebagai Ketua Kadin Jawa Tengah ini memberikan space bagi peserta Semarang Great Sale (Semargres) 2018 untuk mempromosikan produknya. Ini merupakan bentuk support untuk mensukseskan Semargres 2018.

Kemeriahan acara pembukaan Semargres 2018 semakin lengkap dengan parade kostum dan fashion show di area Pasar Semarangan. Belum lagi performance dari beberapa pendukung acara lainnya yang makin meramaikan suasana malam itu.





Bagus-bagus kan kostumnya, gaes. Mereka ini juga akan memeriahkan acara Semarang Night Carnival yang akan diselenggarakan bulan depan dalam rangka memeriahkan hari ulang tahun kota Semarang. Kalo kalian tertarik untuk menyaksikan parade kostum-kostum yang cantik seperti ini, tunggu acaranya bulan depan, ya.

Parade kostum ini ternyata jadi salah satu daya tarik pengunjung Pasar Semarangan malam itu loh, gaes. Banyak pengunjung yang rela antri demi berfoto dengan para model itu. Untunglah, aku sempat mengabadikan beberapa gambar tanpa bocor. Hihi.

Dokpri. Suasana pembukaan Semargres 2018

Oh iya, kita juga bisa ikut berpartisipasi menyukseskan Semargres 2018 ini loh, gaes. Caranya dengan menginformasikan tentang event Semarang Great Sale ini di akun sosial media kita, agar semakin banyak wisatawan yang tahu dan berkunjung ke kota Semarang.


Dokpri. Pulau Kelor, Komodo National Park

Kalo ditanya tentang destinasi wisata yang pernah dikunjungi dan paling berkesan, pasti langsung kujawab Labuan Bajo. Ibarat kata, bisa berkunjung ke Labuan Bajo adalah mimpi yang menjadi nyata. Yaps, tahun lalu menjadi tahun keberuntunganku karena salah satu impianku terwujud. Nggak pernah aku bayangkan sebelumnya kalo aku bakalan bisa sampai juga ke Labuan Bajo.

Aku beruntung dapat kesempatan bekerja sekaligus liburan ke destinasi wisata yang menjadi favorit wisatawan baik domestik maupun mancanegara ini. Selama tiga hari dua malam aku dan beberapa teman "live on board" diatas kapal dan berkeliling di kawasan Komodo National Park. Snorkeling di Pulau Kelor dan Pantai Pink, trekking dan melihat keindahan Pulau Padar yang legendaris, serta melihat komodo secara langsung di habitatnya yaitu di Pulau Komodo.

Dokpri. Bertemu kokok si komodo di Pulau Komodo

Tiga hari dua malam berlalu begitu cepat. Belum puas rasanya aku dan teman-teman mengeksplor kawasan Komodo National Park. Belum semua tempat bisa dikunjungi karena keterbatasan waktu. Itulah yang jadi salah satu alasanku untuk kembali kesana. Ke Labuan Bajo.

Ada 5 tempat wisata di Labuan Bajo yang pengen banget aku kunjungi. Bisa dibilang 5 tempat inilah yang menjadi alasanku ingin kembali kesana. 

Taka Makassar (Manta Point)

Komodo National Park merupakan jalur migrasi berbagai biota laut, salah satunya adalah Pari Manta. Point Manta atau yang sering disebut Taka Makassar ini terletak di perairan dekat Pulau Komodo. Kita bisa menyelam atau snorkeling untuk melihat kumpulan pari manta yang bermain-main. Tapi kita musti berhati-hati ya, karena arus di point manta kabarnya cukup kencang. Jangan harap bisa ketemu pari manta saat kondisi cuaca sedang tidak baik. Selain pari manta, Taka Makassar juga memiliki area softcoral yang cukup indah. Jadi kita bisa sekalian melihat biota laut lain, kan. 

Pulau Padar

Dokpri. Pulau Padar

Pulau Padar termasuk pulau yang juga paling ingin aku kunjungi. Meskipun aku pernah kesana tapi aku belum sempat mengeksplor pantai-pantai yang ada di sekitarnya. Pulau ini merupakan pulau terbesar ketiga di kawasan Komodo National Park. Pulau Padar terletak diantara pulau Komodo dan Pulau Rinca. Trekking di Pulau Padar cukup menantang dengan kontur pulaunya yang cukup menawan. Sekarang sih, wisatawan cukup terbantu dengan adanya tangga yang dibangun oleh penduduk setempat. Di puncak Padar, kita dimanjakan dengan panorama tiga pantai dengan warna pasir berbeda yaitu putih, pink, dan hitam.

Pulau Rinca

Menurut tour guide yang pernah menemani perjalananku dan teman-teman waktu itu, Pulau Rinca terletak tak jauh dari Pulau Komodo. Bila Pulau Komodo didominasi dengan hutan, maka di Pulau Rinca didominasi oleh padang savana. Makanya, banyak wisatawan yang lebih memilih Pulau Rinca untuk didatangi. Padahal katanya, komodo yang ada di Pulau Rinca lebih agresif loh dibanding dengan komodo yang ada di Pulau Komodo. Tapi aku masih penasaran banget, pengen bisa ke Pulau Rinca.

Gili Laba

Dok. om Cumi Lebay (cumilebay.com)


Gili Laba adalah selat pertemuan antara dua pulau yaitu Gili Laba Darat dan Gili Laba Laut. Gili Laba ini tak hanya menjadi spot menyelam tetapi juga biasa digunakan sebagai spot view sunrise dan sunset. Mau trekking juga bisa, karena kabarnya begitu kita sampai di puncak bukit, mata kita akan dimanjakan dengan panorama yang sangat indah. Aaaah, tak sabar rasanya ingin kesana.

Goa Batu Cermin

Aku pernah melihat liputan mengenai Goa Batu Cermin ini di sebuah tayangan televisi. Pertama melihatnya, aku langsung memasukkannya ke dalam destinasi wisata impianku. Letak goa batu cermin ini tak begitu jauh dari Labuan Bajo. Dinamakan goa batu cermin karena sinar matahari yang masuk ke dalam gua melalui lubang memantul di dinding batu yang seolah-olah di dalam gua seperti sebuah cermin. Gua sepanjang sekitar 200 meter memiliki banyak lorong dan dipenuhi dengan aneka rupa stalagtit dan stalagmit yang masih terpelihara dengan baik. Selain itu disana ditemukan juga fosil hewan laut yang menempel di beberapa bagian gua seperti fosil terumbu karang, ikan dan penyu. Makin penasaran kan jadinya.

Bagi kalian yang sudah pernah menjelajah Labuan Bajo dan sekitarnya pasti setuju dengan wishlistku. Labuan Bajo pasti bikin selalu ingin kembali.

Saking pengennya aku kembali ke Labuan Bajo, sampai-sampai aku cari tahu harga tiket di beberapa website pemesanan tiket online. Siapa tahu ada tiket promo, kan.

Lalu aku menemukan Skyscanner.


Skyscanner merupakan sebuah website atau portal pencarian tiket pesawat terbang ke berbagai tujuan dan berbagai maskapai yang dijual agen-agen pesawat online yang terdaftar di database skyscanner. Setelah kubuka, ternyata Skyscanner berbeda dengan aplikasi pemesanan tiket online (online travel agent) lainnya. Kalo online travel agent kan sebagai perantara antara konsumen dengan penyedia jasa transportasi atau akomodasi, sedangkan Skyscanner lebih kepada sebuah mesin pencarian tiket atau akomodasi yang akan mencari tiket ke berbagai sumber. Jadi, Skyscanner akan mencarikan tiket dengan beberapa pilihan. Mau yang terbaik, termurah atau tercepat. Kita bisa bandingkan dan pilih mana yang pas bagi kita.


Sewaktu pergi ke Labuan Bajo beberapa waktu lalu, panitia menyediakan tiket serta akomodasi yang sangat memadai. Mulai dari tiket pesawat hingga tempat menginap. Perjalanan menuju Labuan Bajo cukup panjang, jadi kami semua diberi fasilitas pesawat yang kredibel dan nyaman.

Dokpri. Tiket yang masih kusimpan sebagai kenang-kenangan (halagh)
Dokpri. Sesaat sebelum terbang ke Labuan Bajo

Dengan pertimbangan kenyamanan, pelayanan dan ketepatan waktu dalam perjalanan, makanya aku putuskan untuk mencari tiket pesawat Garuda Indonesia

Skyscanner tak hanya menyediakan pencarian tiket pesawat tetapi juga hotel dan persewaan mobil. Ibarat kata, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali buka Skyscanner, kita sudah bisa cari tiket pesawat, hotel sekaligus sewa mobil. Selain mudah, kita bisa hemat waktu dan tenaga juga, kan.

Selain fitur pencarian tiket pesawat, hotel maupun sewa mobil, Skyscanner juga memiliki fitur yang tak kalah asik yaitu fitur "ke mana saja". Saat kita nggak ada ide mau traveling kemana tetapi rasa hati ingin pergi, kita bisa coba fitur ini. Skyscanner akan memberikan banyak pilihan traveling ke banyak negara dengan harga tiket termurah secara acak. Coba aja, pasti kalian akan kebingungan mau pilih destinasi traveling yang mana.


Skyscanner ini memiliki banyak partner hampir di seluruh dunia, jadi kalian bisa terbang kemana saja dan kapan saja dengan mudah. Oh iya, kalo kita nggak langsung memilih tiket, kita bisa mengaktifkan fitur price alert, jadi sewaktu-waktu ada perubahan harga tiket pada destinasi dan tanggal yang kita inginkan, Skyscanner akan mengirimkannya ke email kita. Kalo harga tiket pesawat itu masih dirasa mahal, kita tinggal tunggu aja email pemberitahuan berikutnya. Siapa tahu bisa lebih murah lagi, kan.

Buat kalian yang sering traveling, bisa juga melongok fitur month view dan daily view untuk mengetahui rangkuman harga tiket pesawat murah yang sesuai dengan keinginan dalam jangka waktu yang kita tentukan sendiri. Mau bulanan atau harian. Suka-suka kita, deh.

Skyscanner memungkinkan kita untuk mencari tiket pesawat murah tanpa harus membanding-bandingkan harga tiket dari online travel agent satu ke online travel agent lain. Bebaskan dirimu, rencanakan liburanmu bersama Skyscanner.

Aaah, jadi nggak sabar pengen mengeksplor Labuan Bajo lagi.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner.
wisata-salatiga

Haii...Gaes,

Pa kabar? Belakangan ini aku kok merasa produktif banget, ya. Alhamdulillah sering jalan trus jadi punya bahan buat ngisi blog. Ya beginilah kalo orang yang tiap hari merasa kurang piknik terus, pengennya jalan mulu. 

Nah, kebetulan banget pekan lalu aku diajak nge-camp di d'Emmerick Hotel Salatiga. Sebanyak 30 orang blogger, vlogger, youtuber dan fotografer yang datang dari berbagai kota berkumpul di sana. kami semua akan diajak seru-seruan nge-camp, uji nyali high rope game di adventure park dan bertualang dengan jeep di gunung Telomoyo.

Hah? Nge-camp kok di hotel. Yang bener aja. 

Ya beneran, lah. Aku kasih tahu ya, jadi d'Emmerick Hotel ini memiliki fasilitas camping ground yang cukup luas dan terletak di bawah hotel. Meskipun camping, bukan berarti disana fasilitasnya seadanya. Tenda berkapasitas enam orang sudah tersedia. Kamar mandi, toilet, listrik dan mushola juga ada. Mau apa lagi?  

Menuju Blogger Camp  di d'Emmerick

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam dari Semarang, aku bersama teman-teman blogger lain (Mb Wati, mb Winda, Erina, Salman, Leon dan mb Siti) akhirnya tiba di d'Emmerick Hotel. Rupanya kami masuk melalui pintu gerbang yang salah, karena akibatnya kami harus naik ke lobi hotel. Sebenarnya ini jadi keuntungan tersendiri sih, karena kami jadi tahu lokasi campingnya. Kami juga melewati semacam perkebunan dan area tanaman hidroponik. Mataku langsung berbinar ketika melihat tanaman selada merah dan hijau yang tumbuh subur. Hmm...jadi pengen melalapnya. 

Rupanya jarak area camping ke lobi cukup jauh dan lumayan menguras tenaga. Peluh mulai bercucuran.

"Belum-belum udah olahraga duluan, nih ," batinku. Sambil mengatur nafas, aku melihat sekeliling. 

"Hei, itu kolam renangnya udah keliatan. Yuk, buruan," teriak mbak Winda yang sudah berjalan mendahului kami. 

Kami pun langsung bergegas menyusul mbak Winda. Tak berapa lama, kami tiba di lobi hotel. Kami langsung menghempaskan tubuh kami di sofa sambil melepas lelah. Uuuh, legaaa. 

Mencicipi Menu Andalan Cleverly Eatery

Setelah beristirahat sejenak, tak berapa lama kemudian, teman-teman lain berdatangan. Kami lalu diajak untuk naik ke kafe Cleverly Eatery untuk makan siang. Pihak manajemen d'Emmerick Hotel yang diwakili oleh mbak Grace Primadona dan mas Sigit Biantoro menyambut kedatangan kami. 

Rupanya kami tak hanya disuguhi makan siang saja, tetapi juga diperkenalkan dengan menu-menu andalan dari Cleverly Eatery, diantaranya Gecok Cabut Gunung, Mak Dolah Nikmat, Saged Sayur Asem dan Poffertjes ala Cleverly Eatery. 

Dokpri. Gecok Cabut Gunung
Gecok merupakan masakan khas Salatiga. Biasanya sih berbahan daging kambing. Tapi Gecok Cabut Gunung ala Cleverly Eatery ini berbahan iga sapi yang diolah dengan bumbu rempah yang kuat. Kata Cheff nya sih, karena di daerah Salatiga termasuk wilayah yang berhawa cukup dingin jadi butuh makanan yang bisa mengenyangkan sekaligus menghangatkan.

Dokpri. Mak Dolah Nikmat
Mak Dolah Nikmat. Lucu ya namanya. Sebenarnya ini adalah kependekan dari iwak gemak diolah jadi nikmat. Haha. Tahu gemak kan? Itu tuh, burung puyuh. Nah, burung puyuh ini diolah sedemikian rupa jadi makanan yang nikmat. Liat aja tuh penampakannya. Jadi berselera buat menyantapnya, kan.

Dokpri. Saged Sayur Asem
Nah, kalo Saged Sayur Asem ini adalah sayur asem yang berkuah keunguan. Warna ungu pada kuahnya dihasilkan dari ubi ungu. Unik, kan. 

Suasana makan siang jadi makin hangat karena diselingi dengan perkenalan semua perserta blogger camp. Maklum lah, belum semuanya kenal satu dengan lainnya. 

Perut kenyang, wajah-wajah kami kembali ceria dong. Kami lalu dipersilakan untuk menuju tenda dan sholat dhuhur. Nah kan, akhirnya kami harus turun lagi ke area camping yang tadi kami lewati. Haha, jalan kaki lagi deh. Nggak pa pa lah, itung-itung olahraga. 

Aku, mbak Wati, mbak Winda, mbak Nia dan mbak Archa memutuskan untuk tidur di satu tenda. Untunglah tendanya gede, jadi cukup buat menampung kami yang berukuran lumayan gede ini. Kami? Eh, aku doang ding. Haha. LOL.

Usai meletakkan barang-barang di tenda, kami menuju mushola yang terletak di bawah area camping untuk sholat dhuhur. Kami harus bergegas karena nyali kami akan diuji di adventure park nya d'Emmerick. 

Uji Nyali di d'Emmerick Adventure Park

Selesai sholat dhuhur, wajah kembali sumringah karena terkena percikan air wudhu yang dingin. Kami lalu bergegas menuju adventure park yang katanya bisa membuat adrenalin kita naik. Aku nyesel banget karena nggak ganti baju, malah pake baju cantik (ala aku, haha) bukan baju buat adventure. 

Ada dua wahana yang harus kami lalui, yaitu high rope game dan archery . Setelah briefing, kami dibagi menjadi dua kelompok. Kebetulan aku memilih untuk melakukan high rope game terlebih dulu. Aku tertarik melewati tiap tantangannya. Mulai dari panjat dinding, jembatan dengan pijakan kayu, naik sepeda diatas tali, lorong kayu dan jembatan tali. 

Dok. kulkasgendong
Dok. wildanrais
Dok Khairulleon
Dok. Khairulleon
Dok. Khairulleon
Meski deg-degan (kayak mau ketemu kekasih hati) tapi demi konten (haha.LOL) aku rela mengabaikan rasa takutku dan melewati beberapa tantangan dengan lancar. Aku cuma berdoa dalam hati, semoga tali-tali pengaman yang melilit tubuhku ini kuat menopangku. Terima kasihku pada mas Rais dan Leon yang mau merepotkan diri mendokumentasikan diriku ketika melalui beberapa rintangan di high rope game. 

Dari tujuh rintangan aku hanya mampu menyelesaikan lima permainan. Telapak tanganku mulai kebas dan tremor. Kupikir daripada kenapa-kenapa mending aku turun aja, deh. Akhirnya aku pun turun menggunakan tali. Meski nggak selesai, aku boleh dong berbangga diri. Perempuan seusiaku dengan bobot yang lumayan berat berani uji nyali. *songong mode on. LOL.

Belum kapok di high rope, aku dan teman-teman berpindah ke area archery. Meski lelah mendera tapi rasa hati gembira. Apalagi di area archery sudah tersedia senampan gorengan dan teh hangat. Hmm...langsung sikaat. 

Dok. wildanrais
Dok. wildanrais
Setelah berkali-kali luput memanah target, akhirnya aku berhasil juga menancapkan anak panah ke sasaran. Kalo dipikir-pikir, lebih mudah memanah hatimu daripada memanah target di area archery itu. Upps. LOL.

Kupikir setelah menyelesaikan kegiatan di high rope dan archery, uji nyali selesai. Rupanya kami harus melakukan satu game lagi yaitu archery battle. Yups, kami akan bermain panah-panahan. 

Dok. wildanrais
Dok. wildanrais
Archery Battle ini mirip permainan paint ball itu loh. Hanya saja, senjatanya memakai panah. Tapi aman kok, karena ujung panahnya tumpul dan terbuat dari gabus. Etapi, kalo kena panah lumayan juga sih sakitnya. Huhu. 

Biar seru, aku ikutan aja permainan ini. Meskipun nggak pernah dapat sasaran dan sembunyi di balik tong-tong biru itu. Hihi. Naas, baru nongol sebentar, lenganku udah kena panah. Wadoww. 

Permainan archery battle ini berakhir seri, karena masing-masing menang satu kali. Yang penting, kami bahagiaaaa.

Hari makin gelap, permainan pun usai juga. Kami membubarkan diri dari area battle. Sebagian teman menuju kolam renang, sebagian lagi menuju tenda. Badan gerah membuatku ingin segera membersihkan diri dan leyeh-leyeh. 

Sampai tenda, aku disambut oleh nyamuk-nyamuk super gede. Mungkin karena tadi siang, kami lupa menutup tenda. Herannya, setelah kami mandi nyamuk-nyamuk super gede tadi lenyap tak bersisa. Ooh, mungkin karena tadi kami belum mandi kali ya, jadi para nyamuk itu ngikutin sampe tenda. 

Dok. Gus Wahid
Makan Malam dan Sesi Sharing 

Usai sholat maghrib, kami semua naik ke Cleverly Eatery untuk makan malam. Entah kenapa, malam itu aku nggak berselera untuk makan. Aku hanya mengambil sepiring buah dan semangkuk kecil sup kacang merah. Cukuplah untuk mengisi perut. Lalu terciumlah aroma jagung bakar yang akhirnya membuatku tergoda menikmatinya. 

Setelah makan malam, kami menyimak mas Dave, mas Erfix dan om Sarbu yang berkisah tentang pengalaman mereka dalam menggeluti bidang masing-masing. Mas dave berbagi cerita bagaimana cara menggali ide untuk menulis dan berbagi tips bagaimana menulis konten yang anti mainstream. Lalu mas Erfix yang menceritakan bagaimana hidupnya berubah setelah kejadian buruk menimpa hidupnya. Kini mas Erfix aktif  mengeluti street workout dan menjadi youtuber. Sedangkan om Sarbu berkisah tentang liku-liku menjalani profesi sebagai fotografer. Sharing yang diselipi dengan cerita lucu membuat malam itu kian semarak.

Sesi sharing
Malam yang kian larut membuat sebagian dari kami beringsut dari tempat duduk dan kembali ke tenda. Sebagian lagi belum beranjak dari cafe dan sekitarnya. Rupanya rasa kantuk mereka terkalahkan oleh kebersamaan dan keinginan untuk berbagi kisah kehidupan. 

Meski belum begitu ngantuk, ajakan mbak Dian untuk kembali ke tenda aku iyakan. Aku ingat, kami harus bangun pagi karena jam 3 pagi harus berangkat untuk hunting sunrise di gunung Telomoyo. 

Hoaaahm. Bobok dulu ya.

Ada lanjutannya kok di bagian 2. Tunggu cerita berikutnya, ya. ;)
Dokpri. Suasana Kemah Ceria
Sudah lama banget aku memendam hasrat untuk nge-camp di tengah hutan atau di lereng gunung. Sejak menikah, aku nggak pernah lagi ikut kegiatan seperti ini. Akhir pekan lalu, akhirnya keinginanku untuk nge-camp lagi akhirnya terwujud. Mercy Corps Indonesia mengajakku dan 8 blogger lain untuk mengikuti acara Kemah Ceria sekaligus launching aplikasi AtmaGo di Wana Wisata Curug Semirang selama dua hari. Bukan main girangnya hati ini, karena bisa menuntaskan kerinduanku untuk kembali bersentuhan dengan alam bebas, meski hanya semalam.

Boot Camp dan Out Bond 

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam, akhirnya kami tiba di Desa Gogik. Rupanya lokasi Wana Wisata Curug Semirang ini berada di wilayah Desa Gogik, Kabupaten Semarang. Dari tempat parkir mobil, kami masih harus berjalan kaki beberapa ratus meter untuk sampai di kawasan Wana Wisata.

Dok. Wildan Rais. Registrasi dulu, yaaa

Dari pintu masuk Wana Wisata, terlihat beberapa tenda telah berdiri. Kami diberi alas tidur dan dipersilakan menuju tenda yang telah ditentukan. Setelah meletakkan barang bawaan di tenda, aku berkeliling untuk melihat suasana wana wisata ini. Suara gemericik air mengundangku untuk mendekati sebuah sungai kecil di sebelah area kemah. Mataku langsung berbinar ketika melihat airnya yang sangat bening. Sungai kecil itu dangkal namun arusnya cukup kencang. Airnya yang bening dan dingin membuatku ingin membasuhkannya di wajahku.

Dokpri. Sungai kecil di Wana Wisata Semirang

Seorang teman, bahkan tidak ragu untuk meminum langsung air sungai itu. Katanya sih, rasanya segar. Ternyata air sungai ini memang dijadikan sebagai sumber air oleh masyarakat sekitar. Sungai ini juga salah satu sub DAS (Daerah Aliran Sungai) Garang yang merupakan daerah hulu. Dari sinilah sungai-sungai mengalirkan airnya hingga ke pantai utara Jawa. Daerah ini merupakan wilayah rawan bencana, baik longsor maupun banjir. Mungkin inilah yang menjadi alasan Mercy Corps Indonesia memilih Wana Wisata Semirang sebagai lokasi  boot camp.

Boot Camp ini merupakan bagian dari Program GRP-TRANSFORM program pengelolaan risiko banjir lintas wilayah di Kota Semarang dan Kabupaten Semarang hasil kerja sama Mercy Corp Indonesia, Atma Connect, ESG dan Karang Taruna Desa Gogik. Acara ini beragendakan diskusi mengenai lingkungan, kerelawanan, pertunjukan musik, wayang tenda hingga tari tradisional. Ada juga sebuah pertunjukan drama yang bertema tentang kerusakan lingkungan yang diakibatkan ulah manusia. Judulnya "Goro-goro Roro". Uniknya para pemainnya adalah ibu-ibu PKK desa Gogik, loh. Semuanya sarat akan pesan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Keren pokoknya.

Dok. Wildan Rais. Pertunjukan Seni oleh Karang Taruna Desa Gogik

Malam kian larut. Mataku mulai terasa berat. Aku mulai tak bisa mengendalikan rasa kantuk yang mendera. Beberapa teman juga merasakan hal yang sama. Kami lalu beranjak menuju tenda masing-masing. Tadinya kupikir, aku bakalan susah tidur karena hanya tidur beralaskan matras, tapi nyatanya aku bisa lelap juga.

Terbangun dengan perasaan takjub karena ternyata aku bisa juga ya tidur dengan kondisi seadanya. Tahu sendiri lah, kondisi manusia seusiaku jelas berbeda dengan kondisi anak-anak yang masih belia. Aku bergegas menuju MCK untuk mandi. Khawatir kalo kesiangan dikit pasti bakalan ngantri panjang.

Setelah semua mandi dan bersiap, kami semua berkumpul di depan panggung untuk sarapan pagi dan mengikuti kegiatan outbond. Pagi itu kami semua begitu menikmati sarapan nasi bungkus daun jati yang disediakan panitia.

Selesai sarapan, kami diajak menuju lokasi outbond yang berada tak jauh dari tempat kami kemah. Dipandu oleh tim relawan yang keren, kami diajak bermain.  Peserta dibagi menjadi 3 tim yang masing-masing beranggotakn 11 orang. Ada tim Anak Panah, tim Gede dan tim DAS. Aku sendiri tergabung bersama tim Gede.

Dokumen Wildan Rais. Kegiatan Outbond

Kami semua harus menyelesaikan 5 permainan, antara lain menyusun menara dari balok kayu, memasukkan bola ke dalam gelas, water transfer, bridge ball dan memecah balon. Melalui permainan ini kami jadi banyak belajar untuk melatih insting, empati, komunikasi, kerjasama, dan kekompakan. Ada hal menarik yang aku suka, karena saat melakukan kegiatan ini kami harus mengatakan kalo umur kami 17 dan semangat kami 55. Ini membuat kami tersugesti bahwa usia kami masih muda dan semangat selalu nyala.

Kegiatan out bond berlangsung seru, bahkan tak terasa waktu menjelang tengah hari. Senengnya lagi tim ku yang menjadi juara, loh. Hepi, karena kekompakan tim kami akhirnya bisa berbuah kemenangan.

Dok. Wildan Rais. Seruu

Setelah kegiatan out bond selesai, kami semua kembali ke lokasi perkemahan untuk beristirahat dan bersiap mengikuti acara berikutnya.

Launching Aplikasi AtmaGo

Setelah cukup beristirahat, kami semua kembali berkumpul di depan panggung dan menyimak presentasi mengenai aplikasi AtmaGo. Aplikasi AtmaGo merupakan aplikasi berbasis warga AtmaGo yaitu situs web dan aplikasi Android gratis yang dapat gunakan untuk melaporkan masalah, berbagi solusi, mencari pekerjaan, dan memposting berita mengenai lingkungan. AtmaGo dibuat dengan ide dan semangat “warga bantu warga” untuk mewujudkan lingkungan yang lebih baik dari bawah. Atmago.com bisa diakses melalui browser ataupun didonlot via playstore.

Dok. Wildan Rais. Launching AtmaGo

Field Director Atma Connect Alfan Kasdar mengatakan bahwa sebagai area yang rentan terhadap bencana banjir dan tanah longsor warga kota Semarang dan kabupaten Semarang terus berbenah dan terbuka dengan membuka inovasi dan inisiatif lokal dalam mengembangkan EWS berbasis masyarakat.

Setelah konsultasi dengan BPBD dan Diskominfo kabupaten Semarang AtmaGo juga menambahkan fitur EWS berbasis masyarakat dan diluncurkan secara terbatas. Hal ini merupakan upaya menuju Semarang Kota yang tangguh terhadap bencana.

Aplikasi AtmaGo ini bisa digunakan warga untuk berbagi informasi mengenai isu lingkungan dan berbagi solusi bagaimana mengatasi permasalahan. Aplikasi ini nggak cuma diperuntukkan bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana tetapi kita semua yang ingin berkontribusi terhadap lingkungan.


Kita juga bisa berkontribusi, loh. Caranya, download aplikasi AtmaGo di playstore atau melalui browser. Cara menggunakan aplikasi AtmaGo juga cukup mudah, kok.




Dari acara Kemah Ceria yang aku ikuti, ada beberapa hikmah yang bisa dipetik. Mulailah peduli dengan lingkungan di sekitarmu. Jangan buang sampah sembarangan. Hal kecil yang kamu lakukan bisa jadi berdampak besar bagi lingkungan sekitar. 

Yuk, jadi pahlawan lingkungan!
Letih yang mendera setelah hiking ke Gancik Hill Top, membuat perut kami mulai keroncongan. Aku, mbak Wati, mbak Tanti, Manjie dan Artsenta duduk sejenak di sebuah bangku untuk melepas lelah. Kami mulai mengeluarkan bekal minum masing-masing. Mbak Wati lalu mengeluarkan sebungkus crackers sayur yang akhirnya kandas ke perut kami berlima. 

Peserta FK Deswita sudah banyak yang turun. Sepertinya tinggal kami berlima saja yang masih duduk-duduk di Gancik. Di seberang kami, para pengojek standby dengan kendaraan masing-masing. Ternyata mereka punya semacam paguyuban, loh. Mereka ini tergabung dalam paguyuban Ga-jek alias Gancik Ojek. 

Dokpri. Ga-jek, Gancik Ojek

Aku, mbak Wati dan mbak Tanti yang semula berniat turun dengan berjalan kaki jadi berubah pikiran. Kami bertiga pengen nyobain sensasi turun dari Gancik menggunakan Ga-jek. Alasan lain sih, biar cepet nyampe ke tempat "pajero" parkir. Hihi. Akhirnya kami bertiga naik Ga-jek, sedangkan Manjie dan Artsenta jalan kaki *entah beneran jalan kaki, ato naik Ga-jek juga mereka. Hihi.

Rupanya kami rombongan terakhir yang masih tertinggal di Gancik. Tubuh kami kembali berayun diatas armada "pajero" yang membawa kami kembali ke sekretariat. Perut makin keroncongan ketika membayangkan hidangan sarapan yang disediakan panitia untuk kami. 

Tapi ternyata, dugaanku salah. Kami tidak diantar ke sekretariat melainkan diturunkan di pertigaan dekat sekretariat. Pertigaan itu terlihat ramai. Rupanya di sini ada Pasar Tiban duit batok. Di sinilah kami akan sarapan. Para peserta FK Deswita masing-masing menerima duit batok sebanyak 5 keping. Yups, duit batok. Alat transaksi di Pasar Tiban ini adalah duit batok. Tiap keping duit batok senilai 2 ribu rupiah. 

Dok. Mb Tanti. Duit batok

Aku segera berkeliling Pasar Tiban ini dengan harapan menemukan sesuatu yang bisa mengisi perutku. Hampir semua makanan yang dijual di Pasar Tiban ini adalah makanan tradisional seperti nasi jagung, gendar pecel, soto, bubur pati ganyong, jajan pasar dan jadah. Ada pula minuman khas Selo yaitu Cengklung dan dawet ketan yang disajikan hangat-hangat. 

Dok.Mb Tanti. Aku membeli nasi jagung seharga 1 batok

Pagi itu aku memilih untuk sarapan nasi jagung yang berpadu dengan urap, sambal dan ikan asin. Aku pilih nasi jagung karena kepincut sama urap dan ikan asinnya. Sepincuk nasi jagung dihargai 1 batok yang setara dengan 2 ribu rupiah. Aku juga membeli semangkuk dawet ketan hangat seharga 2 batok untuk menemani nasi jagung. 

Dok. Mb Tanti. Mencicipi Cengklung

Belum puas menikmati nasi jagung dan dawet ketan, aku membeli beberapa jajan pasar. Tiba-tiba seorang pedagang menawari aku untuk mencicipi dagangannya. Katanya dagangannya itu adalah minuman khas Selo. Namanya Cengklung. Cengklung merupakan perpaduan dari rempah-rempah seperti jahe, cengkeh, kapulaga, serai dan gula aren. Rasanya begitu hangat di kerongkongan. Cengklung ini harganya cuma 1 batok, loh. Murah, kan.

Dokpri. Suasana Pasar Tiban

Nggak cuma peserta FK Deswita saja yang meramaikan Pasar Tiban ini, penduduk sekitar pun ikut meramaikannya. Rata-rata pedagang di Pasar Tiban juga berprofesi sebagai pedagang juga. Ada yang sehari-hari berjualan di pasar dan di sekolah. Ada juga yang sehari-hari bekerja sebagai petani. Mereka adalah warga setempat yang berdagang di Pasar Tiban tiap akhir pekan.

Setelah puas mencicipi beberapa makanan, kami pun beranjak meninggalkan Pasar Tiban. Kami menuju homestay untuk beristirahat sejenak sebelum ke lokasi berikutnya.

Pengen tahu, aku dan teman-teman mau kemana? Tunggu artikel berikutnya, ya!