Setiap manusia pasti memiliki segudang aktivitas yang dilakoninya setiap hari. Ada yang pergi ke kampus untuk kuliah, ada pula yang sejak matahari baru menampakkan dirinya ke permukaan sudah pergi berangkat ke kantornya masing-masing untuk mengais rejeki. Dalam beraktivitas tubuh kita memerlukan cairan yang cukup agar kita dapat fokus dalam menjalani aktivitas tersebut. 

Karena hampir 80 persen otak manusia tersusun atas air. Jadi jika kebutuhan air tidak tercukupi bisa saja mempengaruhi kerja otak, misal konsentrasi terganggu dan sulit fokus. Hasil riset The Indonesian Hydration Regional Study (THIRST) menyatakan, bahwa kekurangan kebutuhan air putih 2 persen saja bisa menurunkan fungsi otak. Hal ini menjadi pengingat bahwa minum air yang cukup akan mempengaruhi kinerja kita dalam beraktivitas agar menjadi lebih fokus dan konsentrasi. 

Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Namun, ada baiknya jika Anda mengonsumsi air putih yang cukup untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Ada cara ampuh yang dapat dilakukan untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuh anda setiap harinya, yaitu dengan beralih dari air mineral biasa ke air mineral dalam kemasan alkali Pristine 8+. 

Pristine 8+ hadir menemani anda sebagai merek air alkali terbaik yang memiliki pH diatas rata-rata air mineral pada umumnya. Menurut hasil riset para ahli, bahwa air alkali yang memiliki pH basa dapat lebih membantu peredaran darah dalam tubuh manusia. Karena sifat basa pada air alkali dapat mengurangi kekentalan pada darah yang diakibatkan kekurangan cairan atau dehidrasi. Darah yang kental berarti kekurangan air, sementara semakin kental darah seseorang, semakin lambat juga aliran darahnya. Dilansir dari Journal of the International Society of Sports Nutition 2016, orang yang minum air alkali, kekentalan darah di tubuhnya menurun sebanyak 6,3 persen dibandingkan orang yang meminum air mineral biasa. 

Jadi, mulai saat ini mulailah menjalani hidup sehat dengan air mineral agar kita dapat beraktivitas dengan fokus. Minumlah Pristine 8+ setelah lelah beraktivitas untuk menghindari dehidrasi dan tercukupinya cairan di dalam tubuh kita. 



Setiap pasangan tentunya mendambakan untuk cepat memiliki anak setelah menikah. Berbagai cara pun diusahakan supaya sang istri bisa segera hamil. Bagi sebagian pasangan, keinginan untuk cepat memiliki anak selain datang dari diri sendiri, juga tak lepas dari permintaan orangtua yang ingin segera menggendong cucu. Atau bisa juga karena banyaknya pertanyaan seperti “kapan punya anak?” yang datang dari teman dan saudara.

Namun, ketika sang istri telah hamil, biasanya muncul perasaan was-was dan cemas dari sang istri karena seringnya mendengar cerita tentang apa saja yang nanti akan dirasakan saat proses persalinan. Mulai dari tahapan pembukaan, hingga ketika bayi siap untuk dilahirkan.

Setelah proses melahirkan pun, seringkali juga meninggalkan efek pegal terutama di bagian pinggul dan pinggang hingga berhari-hari lamanya. Selain rasa sakit usai melahirkan ditambah rasa pegal-pegal di hampir seluruh tubuh tentunya akan menurunkan semangat untuk melakukan aktivitas lainnya. Belum lagi rasa pegal yang pastinya akan terus bertambah seiring seringnya menggendong bayi. Untuk itu, perlu penanganan cepat supaya pegal-pegal yang dirasakan bisa segera hilang. 

Pegal-pegal biasanya bisa diredakan dengan memberikan beberapa kali pijitan di bagian tubuh yang terasa pegal, serta menempelkan koyo pada bagian tubuh yang terasa nyeri dan pegal.

Fungsi koyo yang dapat mengalirkan kehangatan ke bagian tubuh yang pegal tentunya akan lebih mempercepat meredakan pegal dan nyeri yang dirasakan.

Dengan tersedianya koyo panas pereda pegal di rumah, bukan hanya mampu membantu menghilangkan pegal-pegal yang kalian  rasakan pasca melahirkan. Suami yang merasakan pegal akibat aktivitas seharian, atau anak yang kelelahan akibat aktivitas bermainnya, juga bisa kalian berikan koyo pada bagian tubuh mereka yang terasa pegal ataupun nyeri.

Dengan menggunakan koyo, kalian dan keluarga tentunya bisa lebih mengurangi pemakaian obat-obatan kimia jika sebatas untuk menghilangkan rasa pegal di tubuh. Apalagi mengingat efek samping dari mengkonsumsi obat-obatan kimia secara berlebihan bisa berdampak buruk pada ginjal.

Jadi, sedia aja koyo di rumah. Siapa tahu kalo tiba-tiba butuh, kan.



Mengulang kenangan masa lalu di Malang. Waduh, judulnya agak-agak gimana gitu ya. Sebenarnya ini semacam kode sih, karena sudah hampir 20 tahun aku belum pernah ke Malang lagi. Kalo 20 tahun lalu hampir tiap pekan aku "melarikan diri" ke Malang, kini hanya bisa gigit jari tiap ada teman yang pergi liburan ke Malang.

Dulu, Malang emang jadi tempat pelarian yang asik buat melepas stress. Apalagi buat pekerja kantoran yang tiap hari harus berhadapan dengan data dan angka-angka kayak aku. Jalan-jalan ke Malang yang memiliki udara sejuk dan panorama alam yang indah mampu membuat badan dan pikiran fresh kembali.

Malang 20 tahun lalu jelas beda banget dengan Malang sekarang. Makin banyak tempat-tempat wisata yang rekomended untuk dijadikan sebagai destinasi liburan. Mau wisata alam, wisata kekinian atau wisata kuliner, Malang tempatnya.

Padahal dulu, tiap pergi ke Malang pasti datangnya ke tempat yang sama. Ngadem di Selecta, jalan-jalan di kebun apel, makan bakso president lalu ke mampir ke pos ketan legenda. Hmm...jadi makin kangen, kan.

Entah sudah berapa kali teman-teman ngajakin jalan ke Malang. Bahkan rencananya udah sejak tahun lalu. Dasar belum jodoh dan belum ada waktu, rencana jalan-jalan ke Malang selalu tertunda.

Tahun ini rencana liburan ke Malang nggak boleh gagal lagi. Mungkin aku akan memanfaatkan momen libur lebaran tahun ini untuk kesana bersama keluarga. Jadi bisa punya waktu lebih lama untuk mengeksplor Malang.

Asik juga kali ya, kalo ambil paket liburan ke Malang sambil mengenang masa ketika masih single dulu bersama  anak dan suami.

Ada beberapa tempat yang masuk dalam daftar tujuan wisataku di Malang, termasuk wisata kulinernya, diantaranya :

Museum Angkut 

Pict by citymagz.net

Liburan di Malang jangan sampai melewatkan untuk berkunjung ke Museum Angkut. Di tempat ini kita bisa memperoleh informasi tentang sejarah dan perkembangan transportasi di dunia. Ada banyak koleksi jenis transportasi mulai dari sepeda onthel, delman, mobil listrik sampai mobil balap F1 yang bisa kita lihat. 

Ada 10 zona yang bisa dijelajahi di museum angkut ini, antara lain Zona Edukasi, Italia, Inggris, Perancis, Las Vegas, Jerman, Hollywood, Jepang, Gangster & Broadway dan Batavia. Setiap zona dibuat semirip mungkin dengan aslinya, mulai dari jalanan hingga landmark khasnya. Pantesan aja, tempat ini jadi lokasi favorit untuk foto-foto.

Jatim Park 2

Pict by bromomalangtour

Kalo di Jatim Park 1 menawarkan wisata terpadu antara rekreasi dan edukasi, maka Jatim Park 2 ini berkonsep wisata alam. Di sana terdapat binatang dari berbagai benua yang diawetkan dan dibuat semirip mungkin dengan habitat aslinya. Di Jatim Park 2 kita juga bisa melihat kebun binatang yang berkonsep modern di Batu Secret Zoo. Anak-anak pasti seneng banget, nih.

Taman Selecta

Pict.by brobali.com

Taman Selecta merupakan sebuah destinasi wisata dengan koleksi tanaman-tanaman bunga yang indah. Rata-rata tanamannya hanya bisa tumbuh di dataran tinggi saja. Selecta kini makin berbenah, beda banget dengan 20 tahun lalu. Rasanya betah berlama-lama di sini, karena selain udaranya yang sejuk, pemandangan indah terlihat sejauh mata memandang.

Bakso Malang  President

Pict.by forsquare

Selain punya destinasi wisata yang indah, Malang juga identik dengan dengan kulinernya khas nya. Apa lagi kalo bukan Bakso. Ada salah satu tempat makan bakso yang terkenal di malang yaitu Bakso Malang President. Bakso ini bisa dibilang legendaris karena sudah ada sejak tahun 1977. Uniknya lagi, lokasi warung bakso ini berada di pingir rel kereta api, jadi kita bisa menikmati bakso sambil sesekali melihat kereta yang lewat. Hihi...seru juga, ya.

Pos Ketan Legenda 

Pict by malangchannel.com

Liburan ke Malang nggak afdol kalo nggak mampir kulineran di Pos Ketan Legenda. Sesuai namanya, makanan yang berbahan ketan ini sudah ada sejak 1967 dan masih eksis sampai sekarang. Setiap harinya Pos Ketan Legenda tak pernah sepi pengunjung, bahkan banyak pembeli yang rela antri untuk bisa menikmati seporsi ketan. Menunya cukup beragam seperti ketan bubuk, ketan susu, ketan keju, ketan ayam suwir, bahkan ketan durian. Duuh, ngebayangin rasanya aja udah ngiler.

Kusuma Agrowisata 

Pict by surabayaadventure

Ketika tahu kalo aku berencana liburan ke Malang, anak-anak udah heboh pengen main ke Kusuma Agrowisata. Pengen petik buah katanya. Memang sih, wisata уаng ditawarkan Kusuma Agrowisata аdаlаh perkebunan уаng menyediakan layanan wisata petik dі kebun apel, jeruk, jambu merah, buah naga, strawberry dan juga sayur hidroponik. Sеlаіn wisata petik, ada juga wahana outbound seperti bermain War Game dі arena airsoft gun, mengendarai ATV dі mini off-road track dan juga  flying fox. 

Aaah, semoga keinginan untuk mengulang kenangan masa lalu di Malang ini bukan sekedar impian saja. Waktunya mengencangkan ikat pinggang dan mulai nyisihin uang buat liburan.

Yuhuu Malang, tunggu kami dataaaaaang....


Haiii Gaes,

Udah pada ngeteh belum, nih? Paling enak tuh menikmati secangkir teh hangat bersama teman-temannya (ya gorengan, roti dan sebagainya, lah), ya. Pernah nggak sih, kalian kepikiran bagaimana proses pembuatan teh dari mulai dari pemetikan sampai akhirnya siap diseduh?

Beruntung sekali, Agustus lalu aku dan beberapa teman bisa melihat dari dekat proses pengolahan teh di perkebunan teh Tambi Wonosobo. Sebenarnya  PT Tambi memiliki dua perkebunan, yang berada di Tambi dan di Tanjungsari. PT Perkebunan Tambi yang berada di ketinggian 1400 mdpl ini berada di kaki gunung Sindoro. Sedangkan perkebunan teh yang berada di Tanjungsari berada di wilayah yang lebih rendah.

Proses Pemetikan Teh

Setelah minum teh dan makan ubi goreng, aku dan teman-teman diajak ke perkebunan yang lokasinya nggak jauh dari pabrik. Kami menumpang sebuah mobil bak terbuka alias "pajero" menuju perkebunan. Hanya butuh waktu sekitar 5 menit untuk tiba di lokasi.

Kami dijelaskan mengenai perkebunan teh Tambi yang memiliki dua jenis tanaman teh yaitu Asamika dan Sinensis. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan yang saling melengkapi satu sama lain. Kualitas teh Tambi ini bahkan sudah diakui oleh beberapa negara.

Cara pemetikan teh di perkebunan ini masih menggunakan tenaga manusia, tapi tidak dengan dipetik lagi. Para pemetik teh kini sudah menggunakan alat pemotong seperti gunting yang telah dimodifikasi. Hasil petikan tehnya lebih banyak dan lebih cepat. Tangan pemetik teh juga nggak "kapalan" lagi, hihi.

Dok. Manjie

Sebenarnya ada cara petik teh yang lebih modern yaitu menggunakan mesin pemotong. Hasilnya tentu saja lebih banyak dan lebih cepat daripada tenaga manusia. Hanya saja pihak pabrik mengambil langkah bijak dengan tetap mempekerjakan masyarakat sekitar sebagai upaya untuk mempertahankan kearifan lokal.

Para pemetik teh tentu sudah dibekali dengan pengetahuan tentang tanaman teh dan bagaimana cara memetik teh dengan benar yaitu tiga daun teratas dari pucuk teh. Pucuk-pucuk teh yang telah dipotong lalu dimasukkan ke dalam keranjang. Setelah penuh baru dipindahkan ke dalam karung-karung jaring dan siap dibawa ke pabrik untuk diolah.

Proses Pengolahan Teh

Proses pemetikan teh selesai, lanjut pada proses pengolahan teh. Pucuk-pucuk teh yang sudah dimasukkan ke dalam karung jaring diangkut menggunakan truk menuju pabrik. Sesampainya di pabrik, daun teh segar akan ditimbang menggunakan timbangan khusus lalu masuk ke pabrik untuk diproses.

Proses pertama adalah pelayuan. Daun teh segar akan melalui tahap pelayuan selama kurang lebih 15 jam di sebuah tempat berbentuk persegi panjang. Tiap 6 jam sekali daun teh akan dibolak-balik agar proses pelayuan merata hingga kadar air berkurang hingga 50%.

dokpri. Ruang Pelayuan

Setelah daun teh layu, proses selanjutnya adalah penggilingan. Daun teh yang sudah berkurang kadar airnya digiling menggunakan mesin. Pada proses ini daun teh digiling menjadi bentuk yang lebih kecil selama kurang lebih 40 menit. Pada tahap ini juga dilakukan proses oksidasi enzimatis, yaitu mengeluarkan enzim-enzim yang terdapat pada daun teh.

Untuk teh yang memerlukan oksidasi, daun dibiarkan semula di ruangan tertutup di mana segera mereka menjadi lebih gelap. Pada tahap ini klorofil pada daun dipecah secara enzimatik, dan tanninnya dikeluarkan dan dialihbentukkan. Di dalam industri teh, proses ini disebut fermentasi, meski sebenarnya tidak terjadi fermentasi karena proses oksidatif ini tidak membangkitkan energi. Penghasil teh dapat memilih ketika oksidasi harus dihentikan. Untuk teh oolong oksidasi harus terjadi 5-40%, pada teh oolong yang lebih cerah 60-70%, dan pada teh hitam 100%. Hmm...ternyata beda-beda ya proses oksidasinya.

dokpri. Ruang Penggilingan
                                                                                                                                                                    Tahap berikutnya adalah proses pengeringan. Proses pengeringan ini butuh waktu setidaknya 25 menit, hingga daun teh benar-benar kering dan siap untuk dikemas.

Tapi sebelum dikemas, daun teh kering akan dipisah berdasarkan jenisnya. Penjenisan ini berdasarkan ukuran teh, apakah besar, sedang atau bahkan berbentuk serbuk. Proses penjenisan ini tentu memakai mesin yang langsung memisahkan sesuai ukurannya. Kalo ukurannya besar dijadikan teh seduh, sedangkan yang serbuk dijadikan teh celup (kantong).

Selain melihat proses produksi teh di perkebunan Tambi, aku dan teman-teman juga berkesempatan melihat produksi teh di perkebunan teh Tanjungsari. Untuk menuju kesana, kami harus menempuh perjalanan kurang lebih satu jam. Lokasi perkebunan teh Tanjungsari ini berada di dataran yang lebih rendah.

Ternyata di perkebunan teh Tanjungsari ada satu varietas teh yang spesial, yaitu TB Merah atau Tambi Merah. Teh ini memiliki pucuk daun yang berwarna kemerahan dan kabarnya memiliki rasa yang istimewa. Nggak heran kalo harganya bisa mencapai 600 ribu rupiah per kilo.

dokpri. Teh TB Merah di perkebunan teh Tanjungsari

Sayangnya produksi teh varietas TB Merah ini belum sebanyak teh jenis lain, karena lahannya terbatas. Sayang banget ya, padahal teh jenis ini kalo dijual di luar negeri bisa berharga 2 juta per kilo.

Setelah melihat perkebunan teh Tanjungsari, kami lalu diajak untuk melihat proses produksi teh di pabriknya. Bedanya, pabrik teh di Tanjungsari memproduksi teh hijau, jadi prosesnya tidak sepanjang yang ada di pabrik teh Tambi.

dokpri. Teh Tanjungsari  siap produksi

Pucuk teh yang baru dipetik langsung digiling lalu dioven beberapa kali untuk mendapatkan hasil teh hijau kering. Teh yang sudah kering juga harus melewati proses quality control agar tidak ada benda-benda asing yang ikut mauk ke dalam kemasan.

Setelah itu teh hijau masih harus diuji rasanya di laboratorium. kami semua bahkan ikut mencoba bagaimana "tea testing".

Setelah mencicipi bagaimana rasa teh hijau produksi PT. Tambi, kami juga beruntung bisa membawa pulang masing-masing satu kantong teh hijau. Siapa tahu bisa bikin langsing beneran kalo rutin minum teh hijau. Hihi.

Lengkap sudah hari itu aku dan teman-teman melihat dan belajar tentang proses pengolahan teh di PT. Tambi Wonosobo. Aku jadi belajar bahwa untuk mendapatkan suatu kenikmatan (saat minum teh maksudnya. LOL) ada sebuah proses panjang yang harus dilalui.

Oh iya, kalo kalian tertarik untuk melihat bagaimana proses pembuatan teh Tambi, boleh loh menghubungi kontak di bawah ini.

Selamat bertualang, gaes.

Paket Perkebunan Teh Agrowisata Tambi dimulai dari harga 27.500-115.000 per pax
Guest Room atau Homestay mulai dari Rp.320.000-Rp. 2.000.000,-
Contact person : 081548564988, 081327234571




Hai gaes,

Jalan-jalan ke suatu daerah nggak afdol kalo belum nyobain makanan khas nya, ya. Apalagi kalo liburannya ke daerah yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya. Selain pengen melihat adat budaya serta keindahan, pasti juga pengen banget nyobain kulinernya.

Indonesia merupakan salah satu negara yang bisa disebut sebagai surganya kuliner enak di dunia. Tak hanya warga negara kita saja yang mengakuinya tetapi juga masyarakat dunia yang pernah menyicipinya. Yups, kuliner Indonesia kini sudah mendunia.

Selain Bali, Lombok dan Yogyakarta, Medan juga menjadi salah satu tujuan wisata yang cukup banyak dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Nggak heran sih, karena Medan memang memiliki panoraman alam yang indah dan makanan yang enak. Pantesan aja temanku betah banget tinggal di sana.

Sebenarnya Medan punya banyak banget kuliner yang rekomended buat dicobain, tapi ada 5 kuliner yang paling aku favoritkan.

Nah, berikut ini makanan khas Medan yang wajib kalian coba kalo sedang berkunjung ke Kota Medan.

Soto Kesawan

Pict by IG @sotokesawan

Datang ke Medan cuma mau makan soto? Di Jawa pun ada kalik. Etapi jangan salah, Soto Kesawan ini beda, loh. Kalo dilihat dari cara penyajiannya, Soto Kesawan ini mirip dengan soto-soto lainnya. Kalo umumnya soto menggunakan daging ayam, sapi atau kerbau, Soto Kesawan disajikan dengan isian daging udang. Buat kalian yang alergi udang, ada pilihan lainnya, kok. Kalian bisa memilih soto dengan isian paru goreng, daging sapi atau bahkan ayam kampung.

Rasa soto yang gurih dan harganya yang cukup terjangkau akan membuat kalian ketagihan dan pengen kembali lagi. Buat kalian yang pengen nyobain Soto Kesawan, datang aja ke kawasan Tjong A Fie Mansion, yaitu salah satu bangunan kuno dengan arsitektur unik yang ada di Medan.

Bihun Bebek Asie Kumango

Pict by IG @bihunbebekaise

Kalian pecinta makanan berbahan bebek? Salah satu kuliner rekomended di Kota Medan adalah Bihun Bebek Asie Kumango yang ada sejak tahun 1930. Semangkok bihun disajikan dengan irisan daging bebek yang melimpah, daun sawi, daun bawang, dan bawang putih goreng.

Pengunjung juga dapat memesan lauk tambahan, misalnya saja hati atau ampela. Kaldunya tidak terlalu kental, tapi juga tak terlalu encer. Warnanya pekat karena berasal dari sari pati bebek yang diolah sedemikian rupa demi kepuasan pelanggan.

Bihun Bebek Asie Kumango ini berlokasi di jalan Kumango No. 15, Medan dan beroperasi dari hari Senin sampai Sabtu, mulai pukul 06.30 hingga  23.00 WIB. Pastikan kalian mencicipi kuliner istimewa ini saat plesiran di Medan.

Sate Memeng 

Pict by @satememeng

Salah satu kuliner lain yang wajib dicoba adalah Sate Memeng. Kedai sate ini menyediakan berbagai pilihan sate, mulai dari sate ayam, sate kambing, sate lembu hingga sate jeroan. Yang membuat Sate memeng lebih istimewa adalah potongan dagingnya yang besar-besar dan bumbunya yang khas.

Kalian juga dapat memilih bumbu saus yang disuka. Bumbu kacang bisa, kuah sate Padang juga nggak kalah nikmatnya. Sate Memeng ini berlokasi Jalan Irian Barat No.2, Gang Buntu, Kota Medan. Nah, jadi pengen nyicip juga, kaaan?

Durian Ucok

Pict by IG @durianucok

"Jangan pernah bilang ke Medan kalau belum mampir ke Ucok Durian" adalah tagline dari Ucok Durian milik pak Zainal Abidin yang berlokasi di jalan KH. Wahid Hasyim No. 30-32 Medan. Kedai Ucok Durian ini memang jadi salah satu tempat favorit wisatawan untuk menikmati durian khas tanah Melayu Deli. Selain bisa menikmati buah durian segar secara langsung, pengunjung juga bisa menikmati olahan durian lainnya seperti pancake durian, durian beku, es krim durian dan keripik durian.

Martabak Piring Murni

Pict by IG @martabakpiringmurni
Martabak Piring Murni adalah salah satu martabatak yang cukup terkenal di Kota Medan. Dinamakan martabak piring karena martabak ini dipanggang di atas piring kaleng. Martabak Piring Murni berlokasi di jalan Surabaya No. 39 Medan memiliki ciri tersendiri. Proses pemanggangan martabak ini berbeda dan unik karena memakai piring kaleng. Kalo dari penampakannya malah mirip kayak pancake. Kita juga bisa memilih varian topingnya, mulai dari meses, coklat, keju maupun pisang. Rasanya? Hmmm...yummmy.

Duuh, nulis tentang kuliner Medan bikin aku jadi makin ngiler, nih. Makin menggebu niatan liburan sekaligus ketemuan sama sahabat lama yang tinggal di Medan.

Pas banget bulan depan ada tanggal merah, jadi bisa sekalian ngajak suami liburan. Kebetulan aku juga ultah, jadi bisa lah minta kado liburan aja. Hihi.

Kemarin udah intip-intip harga tiket pesawat ke Medan melalui pegipegi.com, dan harganya masuk lah. Sesuai dengan budget. Hihi.




Kenapa aku pilih booking tiket melalui pegipegi.com?

Karena gampang banget cara pesen tiketnya, nggak pake ribet, banyak pilihan dan banyak promonya juga. Maklum lah ya, aku tukang jalan-jalan dengan budget promo, jadi musti jeli ketika ada kesempatan dapetin tiket pesawat murah. Jadi bisa sekalian booking tiket pesawat pulang pergi, deh.



Yang bikin aku lebih seneng lagi, harga tiket yang tercantum sudah termasuk pajak, ya. Jadi harga yang tertera di layar adalah harga yang kita bayarkan. Selain itu pegipegi.com memiliki beragam metode pembayaran. Mau debet bisa, pake kartu kredit juga bisa. Prosesnya mudah dan cepat.

Tiket pesawat beres, tinggal nabung buat kulinerannya nih.


waterfall-fountain-curug-gondoriyo


Haiii, Gaees. Lighting Waterfall di Curug Gondoriyo sudah dibuka tanggal 9 Februari 2019 kemarin. Destinasi wisata baru ini berlokasi di Dusun Karang Joho, Kelurahan Gondoriyo, Ngaliyan. Nggak jauh kok dari pusat kota Semarang. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit dari pusat kota untuk tiba di lokasi.

Adalah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gondoriyo yang menginisiasi dan mengelola curug setinggi 25 meter ini. Bersama warga dan pemerintah, mereka bahu membahu menjadikan Curug Gondoriyo sebagai destinasi wisata unggulan di Kota Semarang.

Meski curug ini berada di dekat pemukiman warga tetapi pemandangan yang ditawarkan cukup indah. Lokasinya juga nggak terlalu jauh dari jalan utama. Meski tak terlalu lebar, jalan masuk menuju Curug Gondoriyo juga bisa diakses menggunakan kendaraan roda 4. 

Dokpri. Suasana menjelang malam di Curug Gondoriyo

Wisata Curug Gondoriyo ini berbeda dengan wisata curug lainnya, karena buka 2 kali sehari mulai pagi hingga malam hari. Pagi mulai pukul 09.00-17.00 dan malam pukul 19.00-24.00 WIB.

Loh, buka sampai malam? Emang nggak takut malam-malam wisata ke curug?

Ya nggak, dong. Justru inilah yang membedakan Curug Gondoriyo dengan curug-curug lainnya. Curug Gondoriyo memiliki sesuatu yang belum dimiliki oleh wisata curug lainnya yaitu lighting waterfall. Jadi di balik air terjun terdapat lampu warna-warni yang akan menimbulkan efek air terjun yang seolah mencurahkan air yang berwarna-warni.

Jadi, ketika malam mulai menjelang akan terlihat lampu warna-warni yang bersinar dibalik air terjun. Tak hanya di air terjunnya saja, tetapi juga hampir di seluruh area curug. Jadi, pengunjung akan mendapatkan pengalaman yang berbeda.

Selain lighting waterfall, Curug Gondoriyo juga memiliki spot foto andalan yaitu Jembatan  Comblang. Lucu juga namanya, ya.

Jembatan yang terbuat dari anyaman bambu ini melintasi aliran sungai kecil dengan payung warna-warni di atasnya. Di seberang jembatan, ada gembok cinta yang sudah disiapkan untuk pengunjung yang datang bersama pasangan. Katanya sih, biar pasangannya tetap setia. Hihi...

Photo by. Deta Kulkas Gendong

Nggak cuma bisa menikmati indahnya air terjun warna-warni dan jembatan comblang, pengunjung juga bisa menikmati kuliner khas Gondoriyo yaitu Nasi Bleduk dan Wedang Sinom. Nasi Bleduk ini perpaduan dari nasi jagung, urap sayur, ikan wader dan bacem telur, tahu dan tempe. Sederhana tapi nyatanya bisa bikin ketagihan. Aku aja habis 2 bungkus, loh. Hihi... *maruk apa doyan yak. LOL.

Photo by Rivai Hidayat

Sedangkan Wedang Sinom terbuat dari pucuk daun asam yang direbus bersama gula jawa. Selain rasanya enak, wedang sinom ini juga baik untuk kesehatan lambung. Apalagi dinikmati hangat-hangat saat hujan.

Gimana gaes? Penasaran juga dengan indahnya lighting waterfall di Curug Gondoriyo? Hanya dengan membayar 10 ribu rupiah aja, kalian sudah mendapat tiket masuk dan wedang sinom.

Beberapa sudut area seperti taman, jalan setapak dan fasilitas seperti toilet dan mushola sedang dalam proses pembangunan demi kenyamanan pengunjung. Meski begitu kita sudah bisa menikmati keindahan Curug Gondoriyo, kok.

Makanya, sebagai warga Kota Semarang, kita dukung potensi wisata lokal, yuk. Dengan mendukung wisata lokal, secara tidak langsug kita juga membantu menggerakkan roda perekonomian warga sekitar.

Ditunggu kedatangan kalian di Curug Gondoriyo ya, gaes.

Kalian juga bisa baca tulisan teman-temanku  tentang Curug Gondoriyo di sini, lho

Pesona Lighting Waterfall Curug Gondoriyo

Wisata Alternatif nan Kekinian di Air Terjun Gondoriyo Semarang

Dokpri. Komplek Candi Arjuna

Aku pernah mendengar seseorang berkata,"Sekali saja kau datang ke tanah Dieng, kau pasti akan kembali dan kembali lagi". Inilah yang terjadi padaku. Baru 3 minggu lalu aku pulang dari Dieng, sekarang aku kembali kesini lagi. Tuhan begitu cepat menjawab doaku saat itu. Aku ingin kembali ke Dieng.

Pada Dieng, aku jatuh cinta.

Bayangkan saat kamu bertemu dengan seseorang, saling bertemu pandang lalu mulai jatuh cinta. Jantungmu pasti berdegup lebih kencan dan hati berdesir tak karuan. Itulah yang kurasakan ketika pertama kali menginjakkan kaki di negeri di atas awan. Dieng.

Perjalanan Menuju Dieng

Aku merasa sangat beruntung ketika seorang teman menghubungiku untuk bergabung dengan bloger dan media dalam acara Familiarization Trip Banjarnegara 2018. Mana mungkin aku menolaknya. Mana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan untuk mengeksplor lebih banyak lagi destinasi wisata di Banjarnegara.

Perjalanan kali ini aku bersama mbak Wati, mbak Nia dan mas Wahid. Kami memang sering melakukan perjalanan wisata bersama. Kami berempat berangkat dari Semarang sekitar pukul 8  pagi menggunakan mobilnya mas Wahid. Rencananya kami berempat akan menyusul rombongan ke Dieng setelah mobil mas Wahid parkir di Disbudpar Banjarnegara.

Setelah menempuh hampir 4 jam perjalanan, akhirnya kami tiba di kantor Disbudpar untuk menitipkan mobil. Kami pun segera memesan Grabcar untuk menyusul rombongan yang telah tiba di lebih dulu di D'Qiano. Perjalanan dari kantor Disbudpar Banjarnegara menuju Dieng menempuh waktu sekitar 2 jam melalui Karangkobar. Tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau jalan yang harus dilalui ini berkelok-kelok dan naik turun. Untunglah pemandangan di kanan-kiri jalan cukup bagus, jadi perjalanan kami nggak begitu membosankan.

Akhirnya kami bisa menyusul rombongan yang masih berada di kawasan Candi Arjuna dan bergabung bersama rombongan Famtrip. Hampir-hampir kami ketinggalan rombongan lagi. Uugh..

Candi Arjuna

Dok. by Sofyan. Bukan Arca loh

Menurut cerita, Candi Arjuna dibangun pada abad 7 hingga 9 Masehi oleh Dinasti Sanjaya dari Kerajaan Mataram Kuno. Bahkan Candi Arjuna ini diyakini sebagai candi tertua di tanah Jawa, loh. Hal ini ditunjukkan dengan penemuan prasasti dengan aksara Jawa kuno sekitar tahun 731 Caka (809 Masehi). Prasasti itu merupakan prasasti tertua yang disimpan di Galeri Museum Nasional Jakarta.

Candi Arjuna ini merupakan salah satu dari beberapa candi yang terletak di atas ketinggian 2093 mdpl. Katanya sih, komplek Candi Arjuna ini merupakan komplek candi tertinggi di Indonesia saat ini.

Di tengah-tengah komplek candi ini, terdapat sebuah Candi yang berdiri dengan gagah. Tak hanya Candi Arjuna saja yang berdiri megah, tapi ada juga beberapa candi yang berjajar segaris dengan Candi Arjuna. Ada Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra.  

Untuk memasuki komplek Candi Arjuna ini kalian musti membeli tiket terusan seharga 15 ribu rupiah. Dengan tiket itu, kalian bisa masuk ke komplek candi sekaligus ke Kawah Sikidang.

Setahun sekali, di komplek ini diadakan acara Dieng Culture Festival (DCF). Festival ini diselenggarakan oleh Komunitas Pokdarwis Dieng. Dieng Culture Festival dikenal sebagai festival kebudayaan tahunan di tanah dengan sebutan negeri atas awan ini. DCF sendiri berisi cerita sisa peradaban masa lalu Dieng, diantaranya adalah ritual pemotongan rambut gimbal.

Hmm, aku jadi ingat gimana rasanya gagal datang ke acara DCF beberapa waktu lalu. Sakitnya tuh, di sini!! Huhuhu....

Demi menyingkat waktu, rombongan Famtrip pun beranjak menuju Pendopo Soeharto Whitlam. Nah, Pendopo Soeharto Whitlam ini merupakan bangunan bersejarah yang lokasinya berada tak jauh dari kompleks Candi Arjuna Dieng. Bangunan ini menjadi saksi sejarah dimana saat itu menjadi tempat bertemunya dua pemimpin negara yaitu Presiden Soeharto dan Perdana Menteri Australia Mr.Gough Whitlam. Pendopo Soeharto Whitlam saat ini telah dipugar dan menjadi salah satu lokasi wisata yang sayang untuk dilewatkan saat berada di Dieng.
                                                                                                                                                                    Sayangnya, aku dan rombongan Famtrip harus segera berpindah ke lokasi lainnya. Kawah Sikidang.

Kawah Sikidang

Setelah bergabung dengan rombongan Famtrip, kami bersama-sama menuju ke Kawah Sikidang. Kami menaiki minibus dengan pintu dan jendela yang terbuka. Lumayan lah ada AC nya *angin cemilir cepoi-cepoi. LOL.  Hihi. Tapi seru, loh.

Ini kali kedua aku datang ke Kawah Sikidang dengan jarak waktu yang tak terlalu lama. Aroma khas belerang yang bikin mual mulai menyeruak dan menusuk hidungku. Mau nggak mau aku harus menutup hidung menggunakan masker. Padahal aku tuh nggak pernah betah kalo disuruh pake masker, makin pengap rasanya. Ehm, alasan sebenarnya bukan itu aja sih. Takutnya kalo difoto, mukaku nggak keliatan. Hihi.

Dokpri. Lady Rocker di Kawah Sikidang

Menurut cerita, Kawah Sikidang ini terbentuk dari letusan gunung berapi di kawasan dataran tinggi Dieng bertahun-tahun lalu. Sampai kini kawah ini masih aktif makanya kalian berkunjung  ke kawah Sikidang ini, kalian akan melihat aktivitas gunung berapi yang berupa letupan lumpur vulkanik yang disertai gas yang mengepul berbentuk asap putih pekat. Kabarnya kawah ini bisa berpindah-pindah, loh. Makanya disebut sebagai Kawah Sikidang, yang bisa berpindah-pindah dengan lincah. Kata mbak Wati yang pernah ke sini bertahun-tahun lalu, lokasi kawah yang sekarang ternyata berpindah cukup jauh dari lokasi kawah terdahulu. Pantes aja kalo disebut Sikidang.

Tanah di sekitar kawah terlihat memutih karena kandungan sulfurnya. Itulah kenapa saat berada di kawasan Kawah Sikidang terlihat tanah tandus berwarna keputihan dan pepohonan banyak yang  mati akibat aktivitas kawah. Di beberapa tempat juga terlihat lubang-lubang bekas kawah. Kalian musti hati-hati, karena tanah di sekitar kawah juga rapuh dan rawan longsor.

Di sekitar kawasan wisata Kawah Sikidang ini juga banyak pedagang-pedagang yang menjual belerang, makanan khas Dieng dan berbagai souvenir. Aku sempat nyobain Sagon yang berbahan tepung ketan dan kelapa parut. Rasanya manis legit kek aku *awas mules. Enak banget kalo dinikmati hangat-hangat.

Ayoo, kapan kalian ke kawah Sikidang? Kek kami-kami ini, lhoo.

Menjelang sore, kami harus segera berpindah lokasi ke Desa Wisata Dieng Kulon. Pemuda-pemuda dari desa wisata inilah yang menginisiasi even Dieng Culture Festival. Hebat, kan.

Desa Wisata Dieng Kulon

Desa wisata Dieng Kulon terletak tak jauh dari komplek Candi Arjuna. Kebanyakan penduduknya berprofesi sebagai petani dan pengusaha UKM oleh-oleh khas Dieng. Mas Alif, salah seorang pemuda asli Dieng Kulon yang juga Ketua Pokdarwis Pandawa menceritakan bagaimana proses terbentuknya desa wisata kala itu. Konsep wisata di Desa Wisata Dieng ini terdiri dari 3 hal penting yaitu something to see, something to do dan something to buy. 

Dokpri. Desa Wisata Dieng Kulon

Desa Wisata Dieng Kulon ini memiliki prinsip bahwa wisatawan yang datang ke Dieng ini harus merasakan pengalaman yang berbeda ketika berkunjung ke desa wisata ini. Karena itulah mereka menyediakan beberapa paket wisata yang bisa dipilih oleh wisatawan. Misalnya wisata petik buah Carica lalu mengolahnya menjadi manisan, membuat kerajinan dari kayu, belajar kesenian tradisional khas Dieng dan lainnya. Semuanya bisa disesuaikan dengan budget dan minat wisatawan.


Dokpri. Salah satu produk Desa Wisata Dieng Kulon
Kalo kalian tertarik untuk merasakan sendiri bagaimana berwisata di Dieng dengan pengalaman yang berbeda, coba deh datang ke Desa Wisata Dieng Kulon ini. Kalian bisa menginap di homestay-homestay milik warga dengan harga mulai dari 150rb per malam. Boleh juga tuh ajak rombongan ke Desa Wisata Dieng Kulon.

Misteri Sumur Jalatunda

Sebenarnya dari Desa Wisata Dieng Kulon, rombongan famtrip mau langsung ke D'Qiano untuk check in. Kami sempat berhenti sebentar di jalan menuju D'Qiano sebelum memutuskan untuk mampir sejenak ke Sumur Jalatunda. Aku sempat mikir, ngapain sih mampir ke sumur segala? Dalam bayanganku sumur Jalatunda tuh kayak sumur biasa gitu, yang biasa buat nyuci. Hihi. Maklum lah ya, aku kan belum pernah kesanaa.

Sesampainya di lokasi, ternyata hujan mulai turun rintik-rintik. Tak lama kemudian kabut juga mulai turun. Hmm...suasana mistis jadi makin nyata jadinya. Teman-teman lain sudah mulai menaiki tangga menuju sumur. Aku lebih memilih menunggu mbak Wati yang sedang sholat ashar di bus.

Setelah mbak Wati selesai sholat, kami berdua bergegas menuju sumur. Iseng kami mulai menghitung anak tangga yang kami lewati. Katanya jumlah anak tangga saat naik beda loh dengan jumlah anak tangga saat turun. Tapi entah kenapa, baru separo jalan aku lupa berapa anak tangga yang sudah aku lewati. Ya udah lah, aku lanjut naik tanpa kuhitung lagi berapa jumlah anak tangganya. Begitu sampai di atas, aku baru tahu seperti apa bentuk Sumur Jalatunda yang sebenarnya.




Sumur Jalatunda ini lebih mirip dengan kolam sih, menurutku. Menurut informasi yang kudapat, sumur ini memiliki luas sekitar 90 meter dan dalamnya sekitar 100 meter. Ada mitos yang santer beredar di masyarakat hingga saat ini. Katanya sih, barangsiapa mampu melempar batu ke Sumur Jalatunda hingga mengenai dinding di seberang, maka apa yang jadi keinginannya akan terwujud. 

Daripada penasaran, akhirnya aku pun ikut-ikutan nyobain. Dari tiga pecahan genting yang kulempar, tak satu pun yang berhasil mengenai dinding sumur di seberang. Jadi penasaran lagi, apa ada orang yang bisa melempar batu sampe mengenai dinding sumur di seberang sana?

Oh iya, kalo kalian mau mampir ke Sumur Jalatunda ini, cukup bayar retribusi sebesar 5 ribu rupiah aja, kok. Murah tenan, to?



Malam mulai menjelang, akhirnya perjalanan kami di hari pertama Famtrip harus berakhir di D'Qiano. Perjalanan ditempuh dalam waktu tak terlalu lama. Rasanya pengen cepat-cepat mandi karena badan sudah lengket oleh keringat dan debu. 

D'Qiano

Begitu turun dari bus, udara dingin mulai menusuk kulit. Ternyata lumayan dingin malam itu. Setelah pembagian kamar, kami semua masuk ke kamar masing-masing dan beristirahat. Aku dan ke-empat temanku memutuskan untuk tidur dalam satu kamar. Sepertinya malam akan panjang dengan rumpian kami. 

Dok.by Mbak Wati. Geng Rumpies

Setelah membersihkan badan (aku sih cuma cuci muka doang, hihi) kami semua makan malam. Ini nih yang ditunggu-tunggu, karena dari siang perut belum sempat diisi. Akhirnyaaaa....aku menemukan tempe kemul yang sejak siang aku inginkan. Iyaah, dari siang aku sudah ngebayangin nikmatnya makan tempe kemul dan teh panas. Sampai-sampai sepiring tempe kemul pun tandas olehku. Hihi. 

Setelah makan malam, beberapa teman langsung menceburkan diri ke kolam air panas. Katanya sih panasnya sekitar 50 derajat gitu. Lagi-lagi, karena hawa dingin yang cukup menusuk, aku menolak ajakan mereka untuk ikut berendam. Aku, mbak Wati dan mbak Ery hanya duduk-duduk saja di pinggir kolam sambil menikmati malam di D'Qiano. 

Malam semakin dingin, rasa kantuk semakin menggelayut. Aku dan teman-teman memutuskan untuk kembali ke kamar. Kami harus beristirahat karena harus bangun pagi untuk melihat sunrise di Bukit Sipandu. Hoaaahmm. 

Tunggu kelanjutan cerita Famtrip Banjarnegara hari ke 2 ya, gaess